Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Rencana Tunangan


__ADS_3

Rasanya emosi telah merajai jiwa, saat calon sendiri sudah berani-berani menerima kepasrahan kiss dari pacarnya yang kemarin. Rasanya aku tak sabar dan terkontrol lagi untuk memberi pelajaran pada Non Dilla, supaya dia tahu bahwa tindakannya itu adalah salah lagi.


Wajah sudah menatap lamat-lamat perempuan yang kini tengah beringsut ketakutan atas tindakanku. Wajahnya yang elok cantik tak jemu-jemu rasanya diri ini untuk terus saja memandanginya. Hembusan nafasnya yang hangat dan wangi, telah membuat candu yang seakan-akan ingin sekali kukuasai bibir mungil ini secepatnya.


"Kalau kamu tengang begitu sangat lucu dan aku suka itu," ucapku yang sudah pergi darinya.


Barusan rasanya aku hampir tak terkontrol lagi oleh nafsu emosi, namun akhirnya aku bisa menahan semuanya atas teringatnya sebuah ucapan bapakku. "Jika kamu ingin semuanya damai dalam mencari kebenaran cinta, maka janganlah sentuh wanita yang belum menjadi kehalalan bagimu. Cinta tak boleh ada sentuhan anggota tubuhmu dari luar, tapi sentuhlah oleh anggota tubuhnya yang ada didalam yaitu hati" kata-kata bijak bapak yang mengingatkanku, sehingga aku akhirnya bisa menahan untuk mengusai bibir majikan.


Langkah sudah menjauhi dari Non Dilla, yang masih terbengong atas tindakanku. Badan kuhempaskan duduk di sofa ruang kerja majikan, dengan tangan mengambil gawai untuk menghilangkan sejenak rasa kegrogian yang sempat mendera akibat ulahku yang ingin terus menciumnya.


Dapat kulirik Non Dilla langsung saja berlari tergesa-gesa menuju meja kebesaran, dan seketika langsung membuka map kerjanya, dikarenakan mungkin juga dia kebingungan atas tindakanku yang tak jadi memberikan belaian kiss.


Beberapa menit telah berlalu, namun mulut kami masih sama-sama terdiam tak ada yang memulai percakapan diantara kami.


"Heeh, rasanya tak enak juga saat sama-sama terdiam. Apa dia malu sekali atas perlakuanku barusan? Atau dia marah gara-gara tak jadi kuberikan kiss. Aaah ... biarkan saja, toh pasti itu tak akan jadi masalah baginya, sebab dia sudah sering kali merasakan itu, jadi tak akan berarti apa-apa jika aku melakukan itu sungguhan," guman hati merancau tak enak, tapi bersikap acuh tak acuh.


"Aku akan pulang sebentar, jadi jangan kemana-mana. Awas saja kalau hilang lagi, akan kubuat lebih sadis lagi apa yang kulakukan barusan," gertakku mengancam.


"Heeem," jawab majikan tertunduk tak menatap kearahku.


Tanpa banyak kata lagi, kini aku benar-benar keluar dari ruangan majikan, sebab ada hal yang perlu kuurus dulu mengenai pertunangan.


Dert ... dzzzt, gawai telah berbunyi, yang tertera penggilan tuan besar.


[Hallo, tuan]

__ADS_1


[Hallo juga Dio. Kamu ada kerjaan ngak? Kalau tidak ada kamu temui aku di rumah]


[Kebetulan sekali waktu saya sedang senggang, saya akan segera datang kesana]


[Baiklah akan aku tunggu]


[Ok, tuan]


Tut ... tut, gawai akhirnya telah terputus.


Mobil sudah kulajukan untuk menemui tuan besar dikediaman rumah utama.


Ting ... tong ... ting, tangan telah menekan bel rumah.


Ceklek, pintu telah dibuka bibi pembantu.


"Oh, iya bik. Saya akan langsung kesana, terima kasih," jawabku.


Kaki langsung saja melangkah menuju tempat yang diberitahukan bibi pembantu.


Tok ... tok, pintu ruangan beliau kuketuk.


"Masuk!" suruh beliau dari dalam.


Dengan perlahan-lahan aku mulai melangkah menuruti perintah tuan besar.

__ADS_1


"Sini ... sini Dio, duduk sini!" suruh beliau yang ternyata sudah menungguku di sofa ruang kerja pribadinya.


"Iya tuan," jawabku.


"Aku sudah menunggumu lama, sebab ada hal yang penting ingin kubicarakan sama kamu mengenai Dilla!" ucap pembukaan majikan.


"Iya tuan."


"Besok adalah hari yang tepat untuk secepatnya kalian melaksanakan pertunangan, untuk itu ada sesuatu yang kupinta darimu terlebih dahulu sebelum acara itu terjadi, yaitu jagalah Dilla dengan baik dan penuh kasih sayang apapun keadaan kalian suatu saat nanti. Bisakah kamu berjanji untukku?" tanya beliau.


"Insyallah, tuan. Kalau tak ada halangan, aku pasti akan selalu menjaganya sampai maut memisahkan kami," tegasnya jawabanku.


"Aku tahu kamu adalah pria yang tepat menjaga Dilla, oleh sebab itu kami telah memilih kamu. Sejak lama keluarga kami sangat mengenal baik keluarga kamu, sehingga kami yakin sekali atas semua usaha dan tindakan kamu dalam menjaga anakku yang manja dan kadang sangat menyebalkan itu. Dia begitu manja dan selalu membuat ulah yang kadang diri kita tersulut emosi, maka kamu janganlah menganggapnya serius sebab sebenarnya Dilla itu berhati lembut dan baik, kadang Dilla hanya ingin diperhatikan saja atas sikapnya itu. Serta jika dia sedang marah, mudah sekali luluh oleh kita orang-orang selalu menyayanginya dengan memberikan sesuatu yang dia sukai. Kadang Dilla selalu saja membangkang perkataan dan kamu bisa membuatnya jadi penurut kalau dia sudah jatuh dalam pelukan cintamu. Bimbinglah dia dengan baik, rubahlah sifatnya agar lebih baik lagi, sebab aku yakin kamu bisa," pinta panjang lebar tuan besar.


"Baik tuan, insyaallah aku akan melakukan sesuai kemampuanku, sebab aku sekarang juga sudah tahu betul sifatnya itu gimana," jawabku menurut.


"Terima kasih Dio, semoga kalian akan selalu langgeng dalam membina rumah tangga sampai kakek nenek," ucap doa tuan besar.


"Iya, terima kasih juga atas segalanya."


"Sama-sama. Oh ya, jangan lagi panggil aku tuan besar tapi harus Papa, mengerti!" perintah beliau.


"Baik tuan, eeeh ... maksudnya Papa," Kekakuanku menjawab.


"Heeemm, kamu harus biasakan memanggil Papa mulai sekarang."

__ADS_1


"Baik, Pa."


Ternyata semua rencana pertunangan begitu cepatnya terjadi. Semuanya ternyata telah tersusun rapi dan terencanakan oleh para orang tua. Diri inipun sampai tak tahu digedung mana dan siapakah yang akan datang? Sebab semuanya tuan besarlah yang telah mengatur.


__ADS_2