
Sudah beberapa minggu aku tidak bertemu majikan. Dunia ini rasanya kembali seperti semula yaitu sepi. Waktu ada majikan aku menemukan sebuah warna kebahagiaan, tapi semua itu kini berubah menjadi sepi dan kesedihan.
Kemarin dada terasa begitu sesak sekali menahan amarah, saat majikan telah mengusirku demi pacarnya yang si*l*n itu. Ternyata diriku yang berusaha menjaga segenap jiwa dan raganya, harus tersisih oleh seorang pecundang yang tak ada akhlak.
"Kamu kenapa, Dio?" tanya Bapak yang tengah menghampiriku duduk dikursi depan rumah.
"Ngak kenapa-napa, Pak!" jawabku santai.
Kami begitu akrab. Beliau mudah bergaul dengan siapapun. Banyak anak muda yang ikut peguruan silatnya. Walau hanya beberapa pemuda sekitaran kampung, namun prestasi selalu didapat dengan memenangkan kompetisi. Yang lemah, malas, fisik tidak fit, dan selalu tidak serius, maka beliau akan sisihkan dulu, biar tidak menganggu anak didikan yang berkualitas.
"Kamu ngak usah bohong, Dio. Aku adalah bapak yang merawatmu dari kecil sampai bujang begini, jadi tahu benar kalau kamu itu sedang bahagia maupun bersedih. Kenapa? Apa ini ada kaitannya dengan nak Dilla?" tebak beliau.
"Heeh, begitulah Pak kira-kira."
"Kok kira-kira? Kamu yang sabar-sabar menghadapinya. Memang Dilla itu dari dulu suka bermanja-manja dan wataknya agak keras sedikit, tapi disebalik itu dia sangat baik dan supel pada semua orang," Beliau kelihatannya lebih mengenal baik dari pada diriku.
"Aku tahu, Pak. Tapi yang kuinginkan padanya adalah saat mengambil keputusan jangan 'lah terlalu gegabah, kenapa ngak dipikir masak-masak dulu. Masak kemarin marah-marah nyalahin orang, padahal jelas-jelas pacarnya itu yang sudah menghianati, tapi malah aku yang kena marah dan diusir olehnya," Nyolot suaraku sopan menjawab.
Mulut sudah mengaduh tak suka. Kalau wanita itu didekatku sekarang, pasti kami tidak akan pernah berhenti adu mulut.
"Jadi ceritanya kamu ini lagi kesel 'kah?" tanya Bapak penasaran.
__ADS_1
"Hehehehe, begitulah Pak!" jawabku cegegesan tak bisa menjawab.
"Dasar. Berarti anak Bapak sekarang sudah dewasa. Bisa membedakan urusan pekerjaan, sikap, dan terutama hati," Wajah beliau tersenyum manis.
"Hati?" Wajah dibuat bingung atas arah pembicaraan beliau.
"Tidak usah bingung begitu. Suatu saat nanti kamu akan mengerti tentang itu, bahkan kalau sudah merasakannya pasti tidak ingin berjauhan."
Semakin dibuat penasaran dari ucapan beliau. Mungkinkah yang dimaksud hati adalah cinta?"
Dert ... dezzzt, tiba-tiba gawaiku telah berbunyi.
Terlihat tuan besar telah menelpon. Perasaan ini mulai ada sesuatu yang aneh atas majikan telah menghubungiku tiba-tiba, setelah beberapa minggu tak mendengar kabar mereka.
[Hallo juga, Dio]
[Iya, ada apa, tuan?]
[Dio, apakah Dilla ada mampir ke tempat kamu?]
Terdengar suara tuan besar bergetar seperti ada rasa kekhawatiran.
[Tidak ada, tuan. Kalau ke sinipun pasti masih bingung sama alamatnya]
__ADS_1
[Ya Allah, kemana anak itu?]
[Memang ada apa tuan, dengan non Dilla?]
[Dia tadi pergi ke pesta, tapi ketika sopir menjemput Dilla, dia tak ada ditempat yang boleh dikatakan telah hilang tiba-tiba]
[Apa? Kok bisa?]
[Iya Dio. Kami sekarang begitu khawatir atas keberadaan Dilla? Kamu tahu sendiri, bahwa ada kisah masa kelam yang mengerikan pernah terjadi dengannya. Tadi minta dijemput supir, namun ketika sampai sana dicari-cari tidak ada. Mana handphonenya tidak diangkat-angkat]
[Tuan tenang saja, aku akan segera kesana untuk membantu mencari keberadaannya]
[Oh iya, Dio. Terima kasih. Kami akan manunggu kamu. Semoga Dilla baik-baik saja]
[Iya, tuan]
"Pak, maafkan diriku. Aku harus buru-buru ke rumah majikan, sebab non Dilla telah hilang tak tahu keberadaannya sekarang dimana?" jelasku.
"Oh, iya ... ya, Dio. Kamu hati-hati. Jangan terlalu ngebut-ngebut dijalan walau siruasinya genting sekalipun," pesan bapak saat melihatku sudah nakring diatas motor.
"Iya. Assalamualaikum, Pak."
"Walaikumsalam, Dio."
Motor langsung saja kugas dengan sekencang-kencangnya, biar secepatnya sampai ke tempat tujuan. Mata terus saja menatap fokus kearah jalanan, walau pikiran telah dikuasai oleh kekhawatiran yang menguncang jiwa. Kalau naik motor secara hati-hati alias pelan waktu bisa molor sampai dua jam datang, tapi kalau dengan kecepatan penuh satu jam lebih bisa sampai.
__ADS_1
Weeeees ... sleot ... sleot ... bruum .... wees, suara kendaraanku telah menghindari beberapa kendaraan mobil yang berusaha menghalangi jalanku untuk cepat sampai.
Dengan perasaan lega, akhirnya aku sampai juga ke tempat tujuan. Walau tangan, wajah, dan sekujur tubuh mengigil kedinginan akibat angin kencang, tapi demi wanita yang kuidamkan apapun pasti akan kulakukan.