
Rasa yang sempat khawatir kini merasa lega, saat luka yang diderita suami akibat kecelakaan tak terjadi luka yang sangat serius. Segera ingin menyiapkan makanan yang Dio dan papa sukai, kini aku telah disibukkan pekerjaan didapur bersama Mama untuk memasak.
"Gimana? Apakah sudah lengkap paket makanannya?" tanya Mama ramah.
"Iya, Ma. Ini sudah lengkap dan cukup," jawabku masih sibuk menata.
"Kenapa kamu tidak beli saja lauk makanan, 'kan praktis dan tidak perlu repot-repot begini?" imbuh beliau.
Bibi pembantu sampai harus tersingkir, sebab hebohnya kami ingin menyiapkan dari tangan sendiri. Semua terlihat berantakan, dikarenakan waktu mepet ingin segera mengunjungi.
"Memang praktis dan tidak akan buang tenaga, tapi 'kan lebih afdol dan enak kalau lauk buatan tangan kita. Lagian Dio pasti bosen lauk itu-itu saja yang dibeli diwarung, apalagi yang ada di rumah sakit, hingga Dilla sekarang rela menyempatkan waktu untuk memasak sendiri," jawabku santai.
"Bagus, Nak. Mama suka atas cara kamu ini. Akhirnya Dio berhasil juga merubah anak Mama yang kemarin sempat manja, kini sangat pengertian dan mengusai ilmu kesabaran dalam menghadapi cobaan. Salut banget Mama hari ini sama kamu," puji beliau.
"Iya dong, Ma. Semua harus berubah, jangan terus-terusan jadi beban saja, namun harus bisa lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain," ucapku santai.
"Hmm, sangat-sangat suka sama pemikiran dewasa kamu."
Semua sudah siap, hingga kini aku berangkat menuju rumah sakit. Pergi ke sana saja harus dikawal oleh beberapa orang sewaan. Entah sampai kapan pengawalan ini, yang jelas keselamatanku kini yang jadi prioritas utama papa untuk melindungi anaknya.
Setelah beberapa menit berkutat dalam jalanan, akhirnya kami sampai juga. Langkah sudah berjalan tergesa-gesa, dengan samping kanan kiri masih sama yaitu dikawal empat pengawal berbaju serba jas hitam. Semua mata orang tertuju ke arahku dengan tatapan penuh keanehan, tapi aku tak ambil pusing atas semua ini, sebab tujuan utama hanya ingin bertemu suami yang sudah dua hari berbaring sakit.
Tok ... tok, pintu ruangan suami telah kuketuk. Tanpa ada jawaban dari orang yang berada didalam, langsung saja tangan memutar knop pintu untuk segera kubuka dan masuk. Nampak Dio masih tertidur, sedangkan Papa kandung sedang sibuk membaca koran.
"Tumben terlambat," Menyambut hangat tangan saat dicium takzim.
"Maklum, jalanan macet. Kalau pagi 'kan harus berlomba sama orang mau berangkat kerja dan sekolah."
"Iya, juga sih."
"Gimana keadaannya suamiku, Pa?" tanya ingin berdekatan duduk dengan beliau.
"Alhamdulillah, semakin membaik. Tadi pagi-pagi sudah sempat bangun, tapi katanya kepalanya agak sedikit pusing jadi kini dia tidur lagi," ucap penjelasan Papa.
"Heeeeh, kasihan Dio! Harus kena imbasnya juga oleh pelaku itu," ujarku menatap nanar wajah teduhnya, ketika ada semburat kesedihan ke arah suami.
"Kamu yang sabar, Nak. Semua ini pasti akan segera berakhir. Kita akan hadapi pelaku dengan berani, agar dia tidak mengusik kita lagi," cakap Papa sambil mengelus pelan bahuku, dengan maksud agar diri ini bisa kuat dalam cobaan ini.
__ADS_1
"Iya, Pa."
"Oh ya, Pa. Mari makan, ini ada sarapan pagi untuk Papa dari mama," ujarku sambil menyodorkan rantang makanan, yang sekarang kubuka satu-persatu susunannya.
"Iya, Nak. Wah kok repot sekali kalian ini. Padahal beli 'kan bisa. Hmm, terima kasihlah."
"Ngak repot kok, Pa. Ini memang kewajiban kami menyiapkan makanan untuk kalian."
Karena alasan keselamatanku, akhirnya tadi malam Papa bergantian yang menjaga suami, dan menyuruhku pulang ke rumah saja, yang katanya lebih aman banyak orang sewaan untuk menjaga disitu. Setelah Papa menghabiskan sarapan yang habis kubawa, akhirnya beliau harus pulang dulu, yang katanya akan pergi ke kantor mengurus beberapa pekerjaan penting. Bolak balik pasti sangat melelahkan, jadi tidak tega melihat beliau dengan semua ini.
"Kamu sudah lama datang kesini?" tanya
suara Dio, saat diriku sedang membereskan sisa makan papa tadi.
"Eh, sudah bangun ternyata. Iya, aku lama datang kesini."
Beberapa butiran nasi yang tertempel dimeja kupungut. Sisa kuah dari masakan ayam kusapu dengan tisu. Bekal beliau sudah habis ludes, mungkin kelaparan akibat semalaman tidak ada yang dimakan.
"Kenapa tidak membangunkan aku tadi?" keluhnya.
"Gimana mau membangunkan, jika suami tercintaku ini tidurnya nyenyak sekali. Oh ya, kamu mau sarapan tidak?" tawarku.
"Issh, apa lagi? Mau sarapan saja harus ke situ dulu."
"Jangan banyak ngeluh. Cepetan kesini."
"Iya ... iya."
Mendekatinya yang lagi terbaring lemah. Dengan tenaga kuat tangan Dio, tanganku yang ditarik tiba-tiba, membuat tubuh yang awalnya berdiri sekarang oleng terduduk tepat jatuh dipangkuannya, yang masih bertutupkan selimut.
"Apa yang kamu lakukan, sih?"
"Diam dulu, kenapa."
"Aku mau makan, setelah bisa kenyang melahap kau," cakap Dio yang membuat bulu kuduk mulai meremang.
Senyum mengembang, seperti akan ada hal buruk yang akan menimpaku. Sorot mata itu memberitahu kalau mau menerkam saja.
"Ap-ap-apa maksud kamu?" tanyaku gagap tak mengerti.
__ADS_1
"Jangan pura-pura tidak tahu, sebab kau 'pun pasti akan sama akan halnya yang ada pada diriku," jawab Dio yang menatap tajam netra ini, dengan tangan lebarnya mengelus pelan pipiku.
"Pagi-pagi jangan aneh-aneh, kenapa! Awas nanti bisa kesambet," ucapku berusaha menolak, sebab takutnya Dio akan beneran berbuat aneh-aneh.
"Aku sekarang sudah kesambet pesonamu, yang sekarang ingin segera kukuasai," ujarnya yang kian menakutkan penuh mengoda.
"Dih, jangan makin ngawur."
Mppph, dengan tak siap Dio sudah mel*mat bibir ini dengan ganasnya. Bibir yang sudah saling bertaut, tak heran membuat kami terus saja saling membalas, untuk lebih menganaskan sebuah rasa kelunakan manisnya rasa ciuman.
Aksi Dio tak sampai berhenti disitu saja, sampai pada akhinya tangan mulai meraba pelan belakang punggung, hingga secepat kilat mau tak mau kuhentikan sejenak aksi saling bertaut.
"Haiiiich, jangan mengila disini. Apa tidak tahu ini rumah sakit? Bisa-bisa akan kepergok orang atau suster," keluhku tak suka.
"Hahahaha, begitu saja sensi amat. Aku hanya ingin ngetes saja, sayang!" jawab Dio manja, dengan bergelayut memeluk tubuh ini.
"Ngetes sich ngetes, tapi kalau sampai keblabasan 'kan bahaya, ini 'tuh rumah sakit, bukan hotel atau rumah sendiri," jawabku tak senang.
"Habisnya aku sangat rindu sekali sama kamu apalagi tadi malam, orang lagi sakit bukan ditemani wanita yang kucintai malah papa yang menunggu," jelas suami.
"Maaf ya, sayang. Kamu tahu sendiri kalau ini demi kebaikan dan keselamatan kita," terangku yang melepaskan pelukan, dan kembali memeluknya merubah posisi yang nyaman.
"Iya, aku paham."
"Ya sudah, aku akan ambilkan sarapan untuk kamu. Gimana?"
"Hmm, ambillah. Tapi, minta suap," Mata berbinar manja bagaikan anak kecil.
"Dih, manja amat sih. Tumben."
"Hihihi, mumpung sakit harus dipergunakan dengan baik."
"Hadeh. Dasar."
Akhirnya tangan sibuk menyuapi suami.
Seharian penuh giliran aku menjaga, dan kalau malam bergantian papa yang menjaga. Sebenarnya tidak enak atas tindakan ini, sebab beliau capek habis pulang kerja, diharuskan menjaga Dio dan tidur tidak nyaman dalam rumah sakit.
__ADS_1