Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Diikuti Sampai Restoran


__ADS_3

Buru-buru masuk ke perusahaan. Perasaan cemas mulai melanda. Apa yang dilakukan Reyhan tadi keterlaluan, tapi kenapa hati merasakan deg-degkan yang luar biasa. Tidak bisa menjabarkan lagi rasa kegundahan ini. Hubungan kami sudah lama terjalin ketika sekolah dulu, jadi wajar masih bisa merasakan getaran kedekatan kami itu.


"Aaah, apakah yang dikatakan Reyhan tadi benar kalau dia merindukanku, tapi kenapa baru sekarang dia mengatakan itu, setelah aku punya suami. Seandainya kalau bukan karena kau selingkuh sama perempuan itu, mungkin aku akan memilihmu jadi pendamping, tapi rasa sakit itu membuatku harus menepis semua rasa cinta yang sempat kita jalani beberapa tahun kemarin," rancau hati terus saja dilanda kebingungan.


"Kau begitu kejam, Rey. Tapi, setara juga sih akibat aku juga menyelingkuhi kamu. Hhh, kita sama-sama melakukan kesalahan dalam hubungan kita. Mungkinlah ini efek dari rasa bosan atas cinta yang lama kita jalani."


Kuku jari kugigit. Berpikir keras apa yang barusan kulakukan tadi. Bibir kucoba raba-raba. Lama tidak merasakan kecupan dari Reyhan. Sepertinya dia tadi memang tulus dalam hati melakukan itu.


"Aaah, tidak ... tidak. Aku sudah punya suami yang sangat mencintaiku melebihi yang Reyhan berikan, mana mungkin aku akan tertarik dengan Reyhan lagi. Dia sudah sangat menyakitiku, seharusnya sangat membenci dia," Masih saja berpikir yang tidak-tidak.


Tiba-tiba kursi diputar kasar, dan membuatku sedikit tersentak kaget. Ternyata Dio kini berdiri tepat dihadapanku.


"Iiih, mulai nakal ya. Tadi ditelepon aku bilang apa?" Hidung ditoel manja.


"Hehehe, maaf kelupaaan." Cegegesan kebingungan.


"Masak sih, baru beberapa menit sudah lupa. Kenapa tidak kasih tahu kalau kamu sudah datang ke perusahaan?"


"Maaf, aku beneran tidak ingat."


Wajahnya begitu dekat, sampai tidak ada jarak lagi diantara hidung kami. Tatapan tajamnya seperti ingin membaca sesuatu dalam netraku, yang kebetulan memang menyembunyikam sesuatu.

__ADS_1


"Ok, aku percaya." Dio langsung menjauhkan wajahnya.


"Tapi tingkah kamu hari ini sangat mengherankan, apa sudah terjadi sesuatu? Lagian tadi aku lihat kamu sedang melamun, ada apa?" tanyanya curiga.


"Eeh, ngak ada apa-apa, kok. Aku cuma sedikit kecepek'an saja, tadi habis nungguin jalannya pemotretan begitu lamanya."


"Owh, gitu. Ya, sudahlah. Kalau begitu kita coba makan diluar saja, gimana? Perut lapar nich! Mau ngak?" ajaknya memasang wajah memelas.


"Ok, kita berangkat sekarang. Aku sudah kelaparan juga, kok."


Tas kusambar. Bergelayut manja dilengan Dio. Bibirnya yang sedang tersenyum ramah menatapku, sangat menentramkan jiwa. Dia suami idaman yang sangat menawan.


"Syukurlah kalau kamu tidak curiga berlebihan." Kelegaan hati ketika ditanya suami tadi.


Cinta tidak menciptakan pernikahan. Namun pernikahan yang sadar, terencana dengan baiak dan matang, menciptakan buah manis yang dinamakan cinta. Hal yang sama terjadi dalam semua hubungan antar suami istri, walau pada awalnya kadang tidak ada rasa pada diri mereka.


Pernikahan bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur, selalu berubah dan semakin indah setiap hari. Kadang kita jatuh cinta bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan karena melihat kesempurnaan pada orang yang tidak sempurna.


Mobil mulai melesat ke restoran. Keadaan aman terkendali, jadi tidak ada lagi pengawalan ketat. Dio mulai berlatih terus untuk meningkatkan ilmu bela dirinya, jadi tidak akan takut jika ada serangan mendadak.


"Wah, kalian semakin hari semakin mesra dan lengket saja. Jadi iri benget melihat kalian," Suara khas seseorang.

__ADS_1


Betapa terkejutnya diri ini, saat Reyhan ternyata telah mengikuti kami sampai ke restoran.


"Harus mesra. Kami sudah menjadi suami istri, jadi apa salahnya jika semakin menunjukkan keharmonisan kami. Lagian kalau mau, kamu bisa nikahi wanita yang hamil itu. Bukankah dia juga cantik, apa salahnya jika kamu bermesraan bersama dia melebihi kami," Dio menjawab hingga skat mat, membuat Reyhan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Iya juga sih, tapi malas sama tuh perempuan, yang hanya bermodal tampang ingin memanfaatku saja." Masih saja dia menjawab santai


"Tapi kamu sudah menghamili dia, takkan mau melepaskan tanggung jawab begitu saja. Pria sejati mau menanggung semua resiko yang dia perbuat sendiri," simbatanku ketika mendengar itu rasanya begitu dongkol.


"Entahlah. Kalau terbukti itu anakku, mungkin akan kunikahi dia, tapi kalau tidak sudah kubuang." Dengan gampangnya dia menjawab.


Dio sudah mengerutkan alis sebelah, mungkin kaget atas jawaban Reyhan yang terlalu santai, atau bisa jadi sedikit curiga bahwa dia sudah menganggu keberadaan kami berdua.


"Makanya kalau jadi cowok jangan suka mempermainkan hati wanita, akibatnya ya gitu, kamu malah dipermainkan balik. Oh ya, kamu kesini mau ngapain? Mau makan juga? Atau memang ngak sengaja ketemu kami?" Pertanyaan Dio mengisyaratkan kecurigaan.


"Heehe, kebetulan saja lewat tertarik mau makan disini. Eeh, ngak tahunya ketemu kalian."


"Oh, gitu. Aku pikir kamu memang sengaja mengikuti kami," tebak Dio secara terang-terangan.


Kusenggol perlahan tangan Dio, untuk memarahinya agar tidak terlalu gamblang mencurigai.


"Enggak kok, aku beneran mau pesan dibawa pulang saja. Hmm, kalian lanjutkan makan dan kemesraannya 'lah. Ya sudah, bye ... bye. Selamat menikmati makan siang."

__ADS_1


"Iya, bye juga!" ketus Dio dengan wajah masam.


Reyhan sudah pergi ke tempat pemesanan makanan, namun sorot mata Dio mulai mengintimidasi ke arahku yang seakan-akan ada hal yang mulai dia curigai. Semoga apa yang dilakukan Reyhan dimobil tadi, tidak akan menimbulkan masalah.


__ADS_2