Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Perdebatan Orangtua


__ADS_3

Kehidupan dalam hubungan rumah tangga memang tidak sepenuhnya selalu berjalan mulus. Ada banyak hal persoalan dalam menjalaninya. Tidak semua masalah dapat terpecahkan dengan mudah sesuai bayangan, karena memperjuangkan biduk rumah tangga nggak semudah membalikkan telapak tangan. Kesetiaan pasangan terkadang diuji dengan kehadiran sosok orang ketiga.


Mana ada pria di dunia ini yang ingin diselingkuhi, apalagi oleh istrinya sendiri. Bukan berarti kalau pacar yang selingkuh tidak sakit, tapi rasanya tentu lebih sakit jika yang selingkuh adalah istri, yang sudah berjanji setia seumur hidup. Dalam kondisi demikian, kadang muncul 'lah perasaan yang lebih sedih, marah dan sangat kecewa.


Kebahagian terenggut oleh orang-orang yang tak sungguh-sungguh mencintai. Kita tetap berhak bahagia dan berhak menikmati hidup apa adanya. Jadi, mencoba untuk senangkan diri sendiri lebih dulu. Pilih aktivitas atau kegiatan yang bisa bantu tenangkan diri dan senangkan hati, agar suasana hati ini bisa membaik, salah satunya dengan kembali ke rumah orangtua sendiri.


Duduk sendirian, ketika menghadap kedua orangtua saat ingin diberikan penjelasan. Ibu sudah bersedekap tangan, dengan tatapan penuh selidik dan tak sabar ingin mengintrogasi. Bapak, hanya bungkam sambil netra itu mendelik ke arahku yang tertunduk.


"Katakan dan jelaskan semuanya?"


"Apakah kedatangan kamu sebab sedang ada masalah dengan Dilla?"


"Apa gosip itu benar, hah? Jawab, jangan diam saja!" cecar Ibu tidak tahan lagi.


"Sabar, Bu. Jangan mudah percaya dulu sama gosip itu. Biarkan Dio memberikan penjelasan," bela Bapak.


"Gimana bisa sabar, sedangkan gambar menantu dan pria itu terpampang jelas dimajalah. Haaahhh, bikin malu saja!" Ibu mendengus kesal.


"Hhh, tanya dengan baik dan pelan-pelan, Bu. Dio, juga butuh ketenangan dan perlu memberikan penjelasan dengan baik. Kalau Ibu begini, malah akan bertambah susah sebab diberondong banyaknya pertanyaan."


"Iya ... iya, Pak. Dio, anak kesayangan kamu, makanya bela terus dia. Patut dia datang ke sini tiba-tiba, jangan-jangan memang sengaja menyembunyikan serta menghindari gosip memalukan itu."

__ADS_1


Rasanya tidak enak hati kalau sampai orangtua bertengkar. Entah, darimana aku akan mulai menjelaskan. Bingung juga sama ulah yang dibuat Dilla, sebab semua mendadak dan seperti tidak nyata saja, namun begitu jelasnya hubungan mereka, sehingga diri inipun yakin jika berita itu sungguh benar adanya.


"Gimana, Dio? Apa berita itu benar?" tanya Bapak dengan lembut.


Huufff, hembusan nafas kasar kubuang ke udara.


"Aku juga tidak tahu, Pak. Semua begitu mendadak terjadi."


"Gimana tidak tahu, sedangkan Dilla itu istri kamu. Memangnya kamu selama ini dimana? Kok sampai kecolongan begini!" nyolot suara Ibu.


"Aku selalu didekatnya, Bu. Tapi, Aku sendiri tidak mengerti akan situasi yang terjadi diantara mereka. Lebih jelasnya sebelum menikah denganku mereka sudah lama pacaran dan saling mencintai. Entah aku yang salah mengartikan hubungan mereka, ataukah diriku yang telah lancang memisahkan mereka, sehingga kejadian ini telah berlaku sekarang," Kesedihan menjawab sambil menundukkan kepala.


"Bapak sangat paham sama jawaban kamu, tapi kenapa kamu lebih memilih lari ke sini, dibandingkan mencari tahu atau membuktikan sendiri semuanya? Kamu adalah kepala rumah tangga, jadi apa salahnya jika jangan bertindak begini."


"Gimana tidak lari, ya pasti hati anak kita sangat sakit bangetlah, Pak. Mana ada pria akan tahan jika istrinya sendiri terlihat bermesraan sama pria lain. Apa yang kamu lakukan sudah benar, Nak. Lagian yang salah menantu kita, ya kalau bisa selesaikan sendiri saja. Kenapa harus melibatkan anak kita, ketika dia tidak tahan melihat berita itu," Ibu akhirnya memberikan dukungan.


"Bukan gitu, Bu. Iya, mungkin yang Ibu katakan benar, tapi tidak bagus jika lari dulu tanpa tahu kebenarannya atas berita itu. Siapa tahu ini hanya gosip yang ingin menjatuhkan hubungan diantara keduanya, akibat dendam atau ketidaksenangan musuh."


Mereka akhirnya berdebat sungguhan. Inilah kenapa aku wajib menyembunyikan ketika awal datang ke rumah, sebab orangtua pasti akan berbeda pendapat. Tidak ingin melihat mereka bertengkar, sampai mulut kututup rapat-rapat dan berani berbohong, namun namanya kebusukan disembunyikan serapat apapun itu, maka akan tercium juga.


"Kalian tidak usah berdebat lagi. Aku sendiri saja tidak tahu akan keputusanku pulang kesini. Semua buntu pemikiran, dan jalan satu-satunya hanya ingin menuju rumah ini."

__ADS_1


"Duh, kasihannya banget anak Ibu. Tampan begini, tapi harus menerima tamparan berita mengejutkan itu."


Beliau berdiri, lalu duduk disampingku. Tangan terbentang dan kemudian memeluk tubuh yang melemah ini. Isak tangis beliau mulai pecah. Mungkin iba atas kehidupanku yang mulai terlihat berantakan. Tidak ada yang menginginkan ini semua terjadi, tapi fakta dan realita sungguh menyakitkan sesuai gosip yang tengah beredar.


"Sudah ... sudah, Bu. Lebih baik biarkan Dio istirahat dan menenangkan pikirannya dulu. Kamu menangis begini akan menambah beban dia. Sekarang anak kita butuh ketenangan dan berpikir jernih untuk mencari solusi atas rumah tangganya. Lebih baik kita tidak usah banyak bertanya lagi, namun jika dibutuhkan kamu boleh minta saran sama kami, Nak! Kami siap membantu."


"Iya, terima kasih."


Pelukan dilepaskan. Jari menyeka lelehan airmata beliau yang tersisa. Sangat menyayat hati, jika melihat Ibu yang mengandung selama sembilan bulan lamanya jadi sedih begini.


"Iya, Nak. Turuti kata Bapak kamu. Lebih baik kamu istirahat biar nanti bangun tidur bisa fres."


"Iya, Bu. Terima kasih atas pengertiannya dan menyambut baik anak kalian ini pulang ke rumah."


"Sama-sama, Nak. Jangan merasa sungkan begitu. Walau kamu sudah menikah, tapi rumah ini tetap milik kamu. Ya sudah, istirahatlah," suruh Bapak.


"Baik, Pak."


Sebelum beranjak pergi, Ibu lebih terdahulu mengelus bahu dan memberikan senyuman termanis, saat tahu betul maksud beliau, ketika aku disuruh lebih tegar dan tetap sabar.


Didalam kamarpun mata enggan terpejam. Majalah tadi, membuat netra sangat silau lagi untuk melihat kenyataan. Bayangan akan perselingkuhan mereka begitu tergiang dikepala. Sangat sulit dipercaya.

__ADS_1


__ADS_2