Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Banyak Ngeles Jika Dia Meminta Sesuatu


__ADS_3

Tangan membolak balik majalah. Tidak ada yang menarik dilihat. Melirik ke arah Dio. Wajah itu terukir senyuman yang sepertinya sedang mengejek. Mungkin percakapan dengan Mama tadi bikin dia seperti orang gila yang tesenyum tanpa sebab.


"Kamu sudah mandi?" tanya Dio.


Kini pria yang baru beberapa jam yang lalu telah resmi menjadi suamiku, sekarang tengah duduk disampingku, yaitu disisi ranjang sembari mengulung lengan kemeja putihya.


"Belum, aku lagi malas saja. Badan rasanya remuk, jadi aku ingin langsung istirahat saja," jawabku.


"Oowh, ya sudah aku mau mandi dulu, badan rasanya lengket sekali kalau ngak mandi. Bisa minta tolong ambilkan pakaian yang ada dikoper sudut lemari kamu itu," suruh Dio yang kini tangannya sibuk membuka sepatu.


Pakaian yang baru saja dibawa, masih tertata rapi didalam koper. Wajar sebagai anggota keluarga baru jika tidak bisa bebas mau bertingkah ini itu.


"Oh, bisa ... bisa. Tapi kamu ganti bajunya dikamar mandi 'kan, bukan disini langsung?" tanyaku seraya berjalan ke arah koper yang dimaksud Dio.


"Tapi kalau kamu izinkan, aku boleh 'kan langsung ganti buka bajunya disini?" tanya Dio yang sedikit membuatku salah tingkah.


"Ya ampun Dio, jangan ... jangan deh! Jangan sampai kamu bermimpi mau ganti baju langsung dikamar ini. Aku belum siap melihat, bisa-bisa nanti akunya pingsan akibat melihat roti sobek berpetak-petak secara langsung," guman hati yang kalut.


"Kenapa bengong begitu. Berarti b


oleh 'kan?"


"Hehehe, jangan deh Dio. Dikamar mandi aja ya, please! Nih," sahutku seraya menyodorkan baju tidur kearahnya untuk segera ganti.


Kaos oblong biasa dan celana pendek terpilih untuk dipakai. Dari memeriksa koper tadi, kebanyakan warnanya hitam yang kemungkinan dia menyukai warna itu.

__ADS_1


Dio masih bertengger duduk disamping ranjang, dengan wajah menatap lekat ke arahku. Matanya memicing sebelah.


"Tapi 'kan! Kita dulu sudah sering satu kamar, apa bedanya sekarang?" tanya Dio yang mengherankan.


"Ngak ada tapi-tapian, Dio. Dulu kamu masih menghormatiku sebagai majikan, sehingga kamu masih ada sopan untuk menghargaiku. Jangan mentang-mentang kamu sudah jadi suami, bisa seenaknya ganti pakaian disini apalagi sampai didepan mataku, nanti kalau aku .... aku-?" Suaraku tertahan tak bisa melanjutkan kata-kata, sebab Dio semakin membuatku jadi salah tingkah.


Makin bikin gagal fokus. Jari-jari itu satu persatu mulai melepas kancing. Walau masih terbungkus baju dalam, tapi garis tubuh kelihatan kalau dia sering olahraga sehingga sedikit berbentuk. Memang tidak kekar, tapi bolehlah lekukkan itu agak membuat body berisi.


Glek ... glek, menelan air liur. Baru pertama kali melihat pria berbody aduhai. Memang banyak pria yang pernah kencan, namun satupun belum pernah bertelanj*ng baju didepan netra ini.


"Heeh, kagak sadar apa ini orang, kalau pesonanya membuat hatiku semakin melelah ingin menerkamnya langsung. Hihiihi, kau ini makin gatel saja, Dilla?" Bathin hati yang kian grogi.


"Tapi lain kali boleh 'kan, ganti baju langsung dikamar ini? Sebab kamu nanti harus mulai membiasakan diri untuk itu," bisiknya pelan yang tepat disamping telinga sebelah kanan.


"Aaah, aku dibisikin suami saja sudah kayak didekati mak kunti, pakai acara merinding segala? Uuuh, apa aku sudah benar-benar tidak waras atas kegilaan rasa ini? Sungguh hatiku begitu tak kuasa, tiap apa yang dilakukan Dio sekarang ini. Nafasnya itu lho, iiihhh harum banget menerpa wajah. Bikin ketagiha saja" guman hati yang semakin klepek-klepek.


"Eeeh, membiasakan diri yang mana nih? Maksudnya kamu apa?" tanyaku penuh selidik pada sang empu yang bertanya, yaitu memiliki pesona mengulum senyum yang kian melelehkan.


"Membiasakan segala hal, sayang. Yang terutama tentang status kita sekarang ini. Kalau perlu mulai hal-hal yang kecil dulu, contohnya jangan suka grogi jika berada didekatku."


"Aaah, paham."


"Harus paham beneran loh yah. Oh ya, muka kamu biasa aja kali, ngak usah berlebihan bersemu memerah begitu. Rasanya bikin gemes saja aku lihatnya, pengen tak cubit saja tuh pipi" Dio seketika membelai rambutku pelan yang tergerai.


Tangan berusaha meraba pipi, sebab penasaran apakah benar yang dikatakan suami. Ternyata oh ternyata, penglihatannya tidak salah menebak. Efek sering kali terpesona, jadi tidak sadar kalau diri sendiri melakukan sesuatu yang memalukan.

__ADS_1


"Duh, panas ... panas hawa, haruskah disiram air kulkas? Kayaknya perlu kompres cinta juga nih pipi. Haduh, tahu ah. Bikin salting terus nih kelakuan suami bocil."


"Ya ampun jantung, bisa diam ngak sih kamu! Jangan dag dig dug mau lepas kayak gini. Apa kamu ingin membunuhku didepan Dio, sebab terlalu malu akibat debaran jantungmu?"


"Huuffff. Jedag ... jedug kagak jelas banget pacuan kamu sekarang ini. Tenang ... tenang. Slow saja, jangan sampai bikin Dio besar kapala, akibat aku ketahuan memuja diam-diam," rancau hati berusaha berbicara pada organ jantungku sendiri.


"Aku mau pergi ke kamar mandi sekarang! Mau ikutkah?" pamit Dio yg sekarang sudah berjalan ke kamar mandi.


"Eeem, Mandilah!" jawabku pelan.


"Bisa kok kita mandi bareng jika kamu mau?" Mata memicing dengan maksud mengoda.


"Hehehe, enggak usah. Aku masih ingin merengangkan otot."


Dih, malah ngajakin bersamaan. Otak dia sengklek juga. Apa dia bercita-cita saja ingin berduaan dengan diri ini juga, ya? Sampai mandi saja dia sebut harus berdua masuk.


"Ok, tapi nanti harus tetap mandi biar fres."


"Iya."


Entah mengapa otakku terasa blank, untuk mengagalkan rencana malam pertama ini. Nolak takut dosa, ngak nolak tapi kok belum siap sama sekali. Bikin pusing saja mencari cara. Ada sejuta alasan namun kelu mau menjawabnya. Belum sempat berkata, Dio selalu saja melakukan hal-hal diluar kendali diriku, yang semakin membuat jatuh hati tak kuasa menahan diri.


"Aaah .... ahh, aku bisa gila hanya ingin memberi penjelasan sama Dio saja," ucapku yang kini menundukku kepala untuk kujedotkan dalam kasur.


Bila bisa menjawab, dalam hati selalu ada penyesalan kenapa aku mengulur-ulur keinginannya. Bukankah status sudah wajib semua, dan akan menimbulkan dosa jika tidak dituruti, namun ketikdaksiapan serta masih malu-malu harus beribu kali berpikir. Selain itu, ini adalah hal pertama, jadi takut salah saja kalau terjalankan tapi salah dimata dia. Mungkin harus banyak belajar lagi, jika dia berkeinginan sesuatu bisa membuat dia puas dan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2