
Hari ini aku telah melakukan perkerjaan kantor untuk yang pertama kali kujalankan, yaitu bekerja di perusahaan mertua sendiri tentang perhotelan.
[Hallo, sayang. Kamu sudah makan 'kah]
[Sudah tadi. Kamu?]
[Aku juga sudah. Oh ya, nanti kamu pulangnya biar aku jemput saja, gimana?]
[Ok, deh. Tapi aku hari ini pulang agak larut malam nih! Sebab kerjaan numpuk akibat bulan madu kita kemarin]
[Enggak pa-pa, nanti aku akan temani kamu lembur]
[Siip deh]
[Bye ... bye. Assalamualaikum]
[Bye juga. Walaikumsalam]
Kerjaan yang sibuk telah membuat waktu berjalan dengan cepatnya. Tangan kini telah sibuk menyetir mobil untuk menuju tempat kerja istri. Walau waktu masih menyingsing memasuki waktu magrib dengan pekerjaan belum selesai, tapi mertua telah mengizinkan untuk pulang lebih awal lagi, sebab katanya ini hari pertama kerja jadi beliau memberi keringanan sedikit.
Ceklek, pintu ruangan kerja istri telah kubuka.
"Hei sayang, masih sibuk 'kah?" sapaku masuk.
"Hai juga. Iya nih, sibuk ngecek dan menandatangani semua berkas-berkas!" balik sapanya menjelaskan.
__ADS_1
"Kamu duduk saja dulu, nanti aku akan susul ke situ. Bentar saja ya, sebab aku lagi menyelesaikan kerjaan yang numpuk, nih!" ujar Dilla menjelaskan.
"Ok!."
Kerjaan sekarang hanya bisa menunggu sambil jari jemari sibuk mengeserkan layar gawai, untuk mempermainkan sebuah game kesukaan.
Tok ... tok ... tok, pintu tiba-tiba diketuk.
"Masuk," jawab Dilla.
"Maaf bu, mengannggu sebentar. Ini ada tamu, yang katanya ada urusan kepentingan sama ibu," ujar sekertaris Dilla memberitahu.
"Silahkan bawa masuk saja," suruh Dilla, dengan netra masih saja sibuk memperhatikan lembaran kertas.
"Silahkan masuk!" Suara sekertaris sedang mempersilahkan tamu.
"Maaf menganggu. Apakah ini dengan perusahaan ibu Dilla?" tanya tamu itu.
"Iya, dengan saya sendiri. Ada apa ya?" tanya Dilla yang melihat ke arah tamu itu.
Sebab diri ini seperti mengenal suara tamu yang barusan berbicara, akhirnya game yang kupermainkan terhenti sejenak, untuk melihat siapa gerangan yang datang.
"Ya ampun, bukankah itu orang yang tadi malam. Siapakah dia? Kok aneh betul bisa ada disini?" tanyaku dalam hati.
"Ada apa, ya? Silahkan duduk," jawab Dilla mempersilahkan.
__ADS_1
"Iya, terima kasih."
"Saya datang kesini hanya ingin mengajak perusahaan kamu berkerjasama dengan perusahaan saya dibidang fashion juga. Bukan maksud apa-apa sih! Sebab saya tertarik dengan merk yang dimiliki perusahaan anda, Gimana?" ungkap pria yang ada didepan kami mencoba menjelaskan.
"Hmm, entahlah. Aku belum lihat perusahaan anda, jadi belum bisa memberikan keputusan mau berkerja sama atau tidak," jawab Dilla."Ooh, itu wajar. Sebab tak kenal maka taksayang. Nanti aku akan menyuruh anak buah membawa berkas-berkas perusahaan untuk kamu teliti dulu, bagaimana?" ucapnya.
"Baiklah, aku lihat dulu. Nanti kalau cocok pasti perusahaanku akan bisa bekerja sama dengan punya anda," jelas Dilla.
"Baiklah kalau begitu. Oh ya, perkenalkan nama saya Ziko dari perusahaan xxx. Salam kenal untuk kalian," ucapnya memperkenalkan diri sambil menjabat tangan kami secara bergantian.
"Salam kenal juga!" jawabku mencoba memberikan senyuman manis tapi agak terasa berat.
"Maaf nih, kalau banyak tanya. Aku penasaran sekali sama kalian. Kalian ini pasangan lagi kasmaran 'kah? Kok, pria ini ada disini menemani bos perusahaan sini bekerja?" tanya heran Ziko, yang kelihatan sekali penuh penasaran.
"Kami sedang tidak pacaran, tapi lebih tepatnya kami sudah menikah," jawabku santai.
"Ooh, begitu. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu. Aku berharap semoga kerjasama antara perusahaan kita terjadi secepatnya," ucap Ziko sebelum pamit.
"Baiklah, nanti akan aku lihat dan pertimbangkan masalah kerja sama kita!" jawab Dilla menyalami tangan Ziko.
"Kalau begitu terima kasih banyak, atas pertimbangan perusahaan saya untuk bergabung dengan anda. Baiklah, kalau begitu saya pergi sekarang!" cakap Ziko yang kini benar-benar ingin pergi.
"Iya."
Setelah pria aneh bernama Ziko pergi, akupun sudah tak fokus lagi dengan pikiran melayang-layang, sebab penasaran sekali atas apa yang ada pada diri Ziko. Wajahnya sungguh tak asing lagi dalam ingatanku, tapi anehnya kenapa otak ini tak berkerja sama sekali untuk mengingatnya.
__ADS_1