Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Perlakuan Yang Romantis


__ADS_3

Bhukk, sebuah pintu tertutup dengan lembut dilakukan oleh Dio. Sekarang ini mata tak memperdulikan kedatangannya, saat netra telah fokus menatap pemandangan luar dibalik kaca jendela.


"Kamu kok diam ketus sekali, kenapa?" tanyanya yang lagi-lagi mengelus rambutku secara perlahan-lahan.


"Ngak ada apa-apa," balik jawabku tak suka.


"Ngak mungkin ngak kenapa-napa, tapi muka kamu kelihatan ditekuk begitu? Apa gara-gara orang tua kamu menyuruh memanggil hormat padaku tadi?" tanya Dio.


"Beneran Mas Dio, aku ngak kenapa-napa. Sudah ... sudah, kamu jangan banyak bicara Langsung saja hidup mobil dan kita berangkat," ketus jawabanku.


"Hhhh, aku tidak akan menyalakan mobil ini sebelum kamu memberikan jawaban yang tepat untukku," kekuhnya Dio.


Dia duduk miring. Menatap wajah ini dengan seksama. Walau ada yang disembunyikan, namun dia peka sekali apa yang kualami sekarang.


"Ya ampun, Dio. Kamu ternyata susah juga diajak kompromi. Iya ... ya, aku memang marah akibat perintah mama tadi, ok! Puas jawabannya, sekarang cepetan berangkat, aku telat kerja nih!" suruhku masih dalam keadaan hati dongkol.


Menjawab cepat dan ketus agar dia bisa diam dan puas.


"Kamu ngak perlu melakukan itu, jika tak suka! Cukup panggil seperti biasanya saja" jawab yang kini berposisi mendekatiku, yang duduk menatapnya tak suka.


Dio kini mendekatkan wajahnya padaku, yang sontak membuat nafasku terasa sesak diiringi mengkerutkan kening. Seketika akupun sudah menciut ketakutan, dengan pikiran telah kacau takut-takut kalau Dio melakukan sesuatu diluar dugaan. Sungguh posisi kami ini sangat tidak berpihak padaku.


"Benarkah i-iiitu? E-eeentar, kamu ngadu sama mama," Kegrogianku saat Dio semakin mendekatkan wajahnya.


"Iya, sayang. Tidak akan. Apa kamu perlu sesuatu atau bukti? Yang penting kamu nyaman, sudah cukup bagiku!" tanyanya yang semakin lama semakin tak menyisakan jarak lagi diantara wajah kami.


"Apa ya-yayy-yang ingin kamu laku-llak - lakukan? Jangan macam-macam dipagi-pagi buta begini," ucapku yang benar-benar dipenuhi oleh rasa deg-degkan.


"Menurut kamu apa?" Cakapnya saat hembusan nafas Dio yang hangat telah menerpa wajahku.


Begitu keadaan yang tidak menguntungkan. Tidak bisa berkutik sama sekali atas perlakuannya itu. Netra saling bertemu. Tidak ada kedipan yang menyisakan waktu. Panah tatapan itu menimbulkan rasa takut sekalipun harapan.

__ADS_1


"Aa-aku ti-ttttidak tahu. Kamu yang mendekatiku, kenapa harus tanya?" jawabku tak lancar berbicara.


"Apakah kamu ingin aku melakukan sesuatu yang lebih dari memandang wajah cantikmu ini?" tanyanya yang meledakkan hatiku.


Wajahnya sudah tak menyisakan jarak, yaitu hanya beberapa centi saja diwajahku. Karena begitu grogi dan ketakutan, mau tak mau akupun dengan kuat memejamkan mata. Deg ... deg, dalam posisi seperti ini jantung tak mau diajak kompromi, berdetak tak karuan pompaannya bagaikan kuda berlari kencang tanpa lelah


Ceklek, suara sabuk pengaman telah berbunyi.


"Kenapa mata kamu dipejamkan begitu? Adakah yang ingin kamu harapkan?" tanya Dio.


Mata satu telah perlahan-lahan mencoba mengintip, apa Dio masih melakukan sesuatu yang membuatku tak karuan lagi rasa detakkan jantung. Yang ternyata dan ternyata ini hanya tipu muslihat Dio, untuk memasangkan sabuk pengaman yang belum sempat kupasang.


"Aaah, sial. Pikiran kamu saja yang mesum dan minta harapan untuk dicium Dio, dan sekarang apa jadinya padamu, Dilla? Malu ngak? Aa ... ah, mukaku benar-benar malu sekali akibat dugaan yang salah," bathin hati yang merancau malu.


"Enggak ada apa-apa?" jawabku ketus dan ngambek.


"Muka sudah ditekuk begitupun, ngak mungkin ngak kenapa-napa? Pasti kamu marah akibat pikiran kamu telah berpikir aneh-aneh, pasti itu!" cakap Dio yang mengacak-acak rambutku.


Muka Dio tak habis-habisnya tersenyum-senyum menyebalkan, akibat melihat tunangannya ini yang memang sudah melayang berpikir aneh, kalau Dio tadi ingin memberikan ciuman. Meleset serta bikin malu saja, diri ini tadi menanggapi berlebihan.


Tak butuh waktu lama kamipun sudah sampai ke perusahaan, saat obrolan garing kami telah memakan waktu perjalanannya dengan cepat.


"Kamu tunggu disitu, aku parkirkan mobil dulu. Jangan kemana-mana, ok! Sebab aku tak mau kejadian yang kemarin-kemarin terjadi lagi," kekhawatiran Dio.


"Heem. Iya ... iya, aman kali ini."


Entah mengapa aku menurut saja perkataan calon suami. Sebab tak ingin mengecewakan sekaligus membuat hatinya senang, diri inipun dengan pasrah menuruti semua perintahnya. Tak butuh waktu lama juga Dio memakirkan mobil, saat terlihat Dio kini telah menghampiriku berdiri tegak dipintu utama perusahaan.


"Ayo! Tadi kata sudah terlambat."


Mengajak dengan penuh full senyum. Wajah itu tak pernah lepas memancarkan kebahagiaan.

__ADS_1


"Iya. Memang sudah terlambatpun, tapi tidak apalah sebab aku yang pimpin rapat nanti."


"Maaf, sudah mengantar telat. Ini efek aku telat bangun, jadinya kamu juga telat ke perusahaan."


"Tidak masalah. Lagian sudah terjadi. Lebih baik kita bergegas ke sana, agar tidak terlalu mengecewakan para karyawan."


"Ok, ayo."


Kami berduapun berjalan beriringan, tanpa ada rasa kemesraan sama sekali sebagai pasangan, yaitu yang kemungkinan Dio masih malu-malu terhadap status baru kami ini. Lagian kami baru beberapa hari dekat, jadi merasa canggung saja jika ingin bermesraan.


"Yaah ... ternyata liftnya sedang rusak! Gimana kita bisa sampai keruanganku, takkan kita mau naik tangga darurat? 'Kan capek banget kalau nanti, ribuan tangga harus kita lewati," keluhku saat lift pribadi perusahaan telah terpasang papan tulisan yaitu sedang dalam perbaikan.


"Kita lewat lift umum saja, gimana?" usul Dio.


"Tapi Dio, bukankah lift itu nantinya akan berdesak-desakkan? Pasti banyak karyawan yang juga buru-buru sampai ke tempat kerja," ujarku.


"Tenang saja, 'kan ada aku. Pasti semuanya akan aman, sebab siap sedia akan menjaga kamu dimanapun kita berada," ucap Dio pelan dengan senyuman manisnya kembali meluncur.


"Tapi-?


"Ayo! Jangan banyak tapi-tapian. Makin terlambat saja nanti kamu ke tempat rapat," tawar Dio yang kini memberikan telapak tangannya, untuk kusambut baik mengikuti ajakannya.


"Baiklah. Tapi janji akan menjagaku dengan baik. Awas kalau aku sampai tergores atau terluka akibat berdesakan."


"Iya. Pasti itu. Raga dan tubuhku sebentar lagi akan jadi milikmu seutuhnya, jadi jangan khawatir kalau aku tidak bisa melindungi kamu dari bahaya apapun itu."


"Ok 'lah kalau begitu. Bisa diandalkan berarti."


"Tentu saja. 'Kan calonmu ini sempurna," Senyuman itu terlempar.


"Dih, percara dirinya begitu akut. Lama-lama ingin sekali kujitak kepalanya, agar bisa sadar kalau manusia itu tidak sepenuhnya bisa sempurna."

__ADS_1


Kepala Dio mungkin sudah kejedot sesuatu. Tiap kata bawaannya mengombal dan sikap berubah drastis semakin romantis saja. Munafik jika wanita sepertiku tidak tergoda dan terbuai oleh perlakuannya itu.


__ADS_2