Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Khawatir Akan Keselamatannya.


__ADS_3

Untung saja ambulan telah datang cepat sampai kerumah sakit. Perasaan begitu takut sekali jika terjadi sesuatu yang berakibat fatal terhadap Dio. Ternyata kelemahan Dio tadi karena tidur nyenyak sebab pingsan, yaitu akibat luka tusuk yang terlalu dalam hingga darahnya tanpa hambatan telah keluar begitu banyaknya. Dengan tergesa-gesa akupun hanya bisa berlarian kecil ikut mengiringi Dio dari belakang saat digelandang oleh petugas masuk ruang UGD.


"Maaf Nona, anda tidak bisa ikut ke dalam!" cegah perawat saat aku ingin ikut masuk.


"Tapi-?" Suaraku tertahan saat petugas buru-buru menutup pintu.


Kaki telah berkali-kali mondar-mandir ke kiri dan kanan, sebab perasaan begitu tak tenang sekali melihat keadaan Dio yang bagiku sangat mencemaskan sekali. Karena kelelahan akupun menyandarkan tubuh ke kursi ruang tunggu dengan netra terus saja mengawasi pintu UGD, berharap-harap secepatnya pintu itu akan terbuka.


Dert ... dzzzt, gawai Dio telah bergetar dalam genggaman tanganku. Terlihat disitu sudah tertera nama papa.


Klik, gawai kugeser untuk mengangkatnya.


[Hallo, pa!]


[Dilla? Kamu? Kok bisa? Bukankah ini nomor handphone Dio]


[Iya papa, ini memang gawai Dio, sebab dia tadi telah menyelamatkanku dari penculikan dan sekarang aku yang memegangnya]


Suaraku terasa serak sedih, akibat teringat dengan kondisi Dio yang kini sangat mengkhawatirkan.


[Lha terus sekarang Dio kemana? Kok kamu yang pegang?]


[Heeeh, Dio sekarang sedang dibawa kerumah sakit akibat dia tadi terluka disaat menolongku, pa]


Rasanya tak bisa menahan lagi bendungan airmata, yang kini telah menangis pilu dengan dada terasa begitu sesak.


[Apa? Ok ... ok, ya sudah kamu tenang dulu, papa dan mama akan segera menyusul kamu ke sana]


Terdengar papa juga panik saat kuberitahu kabar keadaan Dio.


[Iya pa]


Tut ... tut, gawai telah terputus dari sambungan telepon diseberang sana.

__ADS_1


Hampir mau setengah jam menunggu, tapi tak kunjung jua ada tanda-tanda kalau dokter akan segera keluar. Berkali-kali jari kuremas-remas mencoba menghilangkan kekhawatiran ini, tapi sayangnya itu tak berhasil dan malahan semakin menjadi-jadi, disebabkan melihat lampu ruang UGD masih menyala merah.


"Dilla? Bagaimana ... bagaimana keadaan Dio?" sapa Papa yang sudah datang bersama Mamaku.


"Belum tahu lagi, Pa. Lihat! Belum ada tanda-tanda kalau dokter akan segera keluar.


"Kita tunggu saja. Papa yakin kalau Dio anak kuat, pasti tak akan terjadi apa-apa sama dia," ujar beliau berusaha menenangkanku.


"Iya, Pa."


"Kamu yang sabar, nak!" ucap Mama sambil mengelus rambutku.



Sentuhan tangan Mama terasa begitu menenangkan, yang tanpa ragu lagi langsung kupeluk tubuh beliau. Tak terhindari lagi tetesan embun terus saja jatuh, akibat rasa hati yang begitu sakit saat orang yang selalu membahagiakan hati ini, kini terluka akibat rela menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkan diri ini.


Gradak, suara pintu ruang UGD akhirnya telah terbuka, yang kini menampakkan seorang dokter diiringi dibelakang oleh satu perawat perempuan. Seketika pelukan mama kulepas, dan mencoba berlari menghampiri dokter.


"Alhamdulillah dia baik-baik saja. Cuma tadi sempat kewalahan akibat tujaman benda tajam itu terlalu dalam melukai, dan banyak sekali darahnya yang sudah keluar, sehingga pasien perlu kantong darah banyak agar terpakai untuk menyelamatkan nyawanya," Keterangan dokter berbicara.


"Syukurlah kalau begitu, Dok. Kami semua mengucapkan banyak- banyak terima kasih kepada anda," ujar Papa ikut berbicara



"Iya sama-sama. Kalian nanti boleh menjeguknya, tapi pasien masih tertidur akibat pengaruh obat bius saat operasi tadi," balas ucap dokter.


"Iya, Dok."


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter.


"Iya Dok, terima kasih!" jawab kami kompak.


Dokterpun telah melangkah pergi, dan kami bertigapun langsung masuk keruangan Dio dirawat. Terlihat wajahnya masih pucat, dengan tangan sudah terpasang selang infus.

__ADS_1


"Kamu pulanglah bersama Mama, Dilla. Kamu pasti kelelahan atas kejadian penculikan yang menimpa kamu. Biarkanlah Papa yang menjaga Dio disini!" suruh Papa.


"Ngak mau, Pa. Aku ingin selalu menjaga dan tetap selalu disisinya, sebab Dio telah rela menyelamatkanku, sehingga akupun harus berbalik membantu merawatnya saat berbaring lemah begini," tolakku sedih menatap wajah Dio yang tampan.



"Tapi Dilla. Kamu harus menjaga kondisi kesehatan kamu juga, karena sudah beberapa hari ini kamu melalui semuanya dengan situasi yang melelahkan," ucap Mama mengelus-elus lenganku.


"Ngak pa-pa, Ma. Dilla lebih baik sakit, dari pada harus melewatkan hari-hari tidak bisa merawat Dio dengan baik," jawabku lesu.


"Hhhhh. Baiklah, Dilla. Kami memahami apa yang kamu rasakan sekarang. Tapi kamu harus jaga ketahanan tubuh juga biar tak ikut sakit," nasehat Mama.


"Iya, Ma."


"Ayo,Pa. Kita pulang saja, besok saja kita kembali kesini lagi, biarkan Dilla saja yang menunggu Dio," tutur Mama menyuruh.


"Tapi, Ma. Bukankah kita yang seharusnya menjaga," ujar Papa berusaha menolak.


"Haiiiatssz, ayo kita pulang. Kayak ngak pernah muda saja," jawab Mama sambil menarik kuat tangan Papa untuk segera pergi.


"Eeh, sebentar dulu, Ma."


"Ada apaan lagi, sih?"


"Pamit anak dulu."


"Oh, iya. Heheh, kelupaan."


"Kamu hati-hati, Dilla. Bye ... bye!" pamit Mama sebelum benar-benar keluar dari ruangan Dio dirawat.


"Heeem. Kalian juga hati-hati dijalan."


Kedua orang tua sudah pergi tak menampakkan wajah mereka. Kini akupun duduk termenung disamping Dio, untuk menatap keindahan wajah Dio yang tampan dengan penuh wajah kepucatan.

__ADS_1


__ADS_2