
Wajahnya terus saja menyeringai dengan mulut berdesis, mungkin saja luka sedamg menjadi-jadinya terasa ngilu. Ada rasa kasihan juga, namun tidak aku perlihatkan sebab dia akan semakin besar kepala, jika tahu diri ini sudah sempat khawatir.
"Oh ya, tadi waktu kita keluar dari rumah Joan, kalau ngak salah aku sempat dengar ada orang yang sedang menangis. Eeeem, kira-kita siapa, ya? Apakah kamu, non?" tanya Dio.
"Aku? Haha ... haha! Ngak salah nebak kamu itu? Mana mungkin aku menangisi orang yang tak terlevelkan seperti kamu ini. Masak gara-gara tertusuk diperut saja, otak kamu sudah ngeblank berpikiran jauh amat," jawabku meletakkan tangan ke kening Dio, berusaha mengetahui suhu tubuh.
"Haiiist, aku masih waras tahu, walau telah terluka. Beneran dech, aku mendengar dan melihat kayak orang menangisi diriku yang sempat terluka," Ngeyelnya jawaban Dio.
"Itu mungkin orang lain yang ingin menolongmu, sebab dia takut sama darah kamu yang mengalir deras, sehingga waktu mau menolong kamu dia telah menangis," alasanku berbohong.
Jangan sampai ketahuan, bisa hilang nih muka jika Dio tahu yang sebenarnya.
"Tapi kayaknya aku dengar yang nangis itu beneran suara perempuan, dan sayu-sayu kulihat hidung perempuan itu mekar kembang kempis kayak aneh dan lucu gitu, seperti tubuh katak yang mengelembung itu lho! Apa namanya? Aku lupa, katak plentus apa?" sindir Dio.
"Jadi maksud kamu tadi nuduhku bahwa hidungku mekar gitu? Kayak katak?" tanyaku tak percaya.
"Kalau merasa ya berarti bagus. Hahahaha, itu lucu sekali sampai aku mau menirukan saja ngak bisa, hahahaha!" gelak tawa Dio lepas.
__ADS_1
"Haiiist, dasar kurang asem. Plak ... plak ... plak," Kemarahanku memukul bertubi-tubi tubuhnya.
Merasa tersindir level tingkat dewa. Beraninya dia menyamakan dengan binatang.
"Kata tadi ngakunya bukan, Non. Dasar. Ketahuan banget kalau sudah bohong," Dia merasa menang.
"Aah, bodoh amat."
"Hahahaha, lucunya. Aaaaaah, sakit!," gelak tawa Dio kesakitan meraba perutnya.
"Sakit banget, Non. Ngak tahu apa luka ini barusan dioperasi," keluhnya.
"Maaf ... maaf, tadi aku ngak sengaja. Mana yang sakit?" tanyaku sambil meraba pelan perutnya yang tertutup baju khas rumah sakit.
Kepala lebih mendekat lagi, ingin memeriksa apakah lukanya serius nyeri.
"Kulitku tak begitu sakit walau hujaman benda tajam bertubi-tubi mengenai tubuhku, yang lebih sakit itu seandainya kamu tidak peduli padaku yang boleh dikatakan lebih mementingkan orang lain," jawabnya sambil memegang tanganku tertahan mengudara rendah.
__ADS_1
Mata kami saling pandang, dengan netra bulatan hitam ditengah menatap tajam sama-sama saling mengkunci. Pipipun kian lama kian terasa hangat, atas perlakuan Dio yang seakan-akan mencari jawaban atas apa yang ada dalam mataku.
"Eghem ... hem ... uhuk ... uhuk," deheman dan kepura-puraanku batuk, untuk membuyarkan atas tingkah kami yang fokus saling menatap.
Seketika Dio melepaskan tanganku, dan beralih memandang kearah lain.
"Maksudnya?" Pertanyaanku yang pura-pura bodoh.
"Ngak ada apa-apa, lupakanlah. Lebih baik Non tidur saja, ini sudah larut malam sekali," perintahnya.
"Aku belum ngantuk, yang seharusnya tidur itu kamu, 'kan lagi sakit!" balik perintahku sambil merapikan selimut sebatas dada, agar bisa menghangatkan tubuhnya.
"Aku ngak pa-pa, ini hanya luka kecil dibandingkan luka yang ada sesuatu dalam diriku," ucapnya yang tak terarah lagi.
"Heeem ... hemmm," jawabku dengan senyuman kecut namun manis, biar Dio tak tahu bahwa aku paham apa yang dia katakan.
"Ya ampun, Dio. Kamu berbicara ke arah situ terus, apakah kamu mulai menyukaiku juga? Wuuiiih, kalau benar berarti cintaku tak bertepuk sebelah tangan, tapi apakah kita bisa menjalani rasa cinta ini atas perbedaan usia yang sangat terpaut jauh? Rasanya aku malu sekali diusiaku yang sudah berumur begini mendapatkan seorang pria yang tampan, baik hati, dan terutama masih bocil dibandingkan denganku."
"Hhhhh, apakah ini adalah sebuah tantangan baru agar bisa menjalin hubungan denganmu? Rasanya asik juga, tapi-? Haiiiist, apa sih yang aku pikirkan? Aku akan ngetes dulu seberapa jauh kamu bisa mencintaiku dan membahagiakan?" Bathin hati bertanya-tanya yang ragu atas menerima cinta Dio atau tidak.
__ADS_1
Tangan usil bermain gawai. Sedangkan Dio terlihat mulai tidur pulas. Mungkin efek obat bius ketika operasi masih ada, jadi dia bawaannya ingin memejamkan mata terus. Tanpa sadar akupun tertidur duduk dengan kepala kusandarkan dipembaringan tidur Dio.