
Sudah seminggu kami menjalani hari-hari bulan madu dengan penuh kebahagiaan. Sampai pada akhirnya kami telah pulang kembali ke Indonesia, dengan perasaaan penuh dengan keceriaan.
"Hai sayang, gimana kabarnya? Mama kangen banget nih sama kamu yang sudah seminggu ini kita tak bertatap muka," sapa beliau menyambut kedatangan kami, yaitu saat kami sudah keluar dari bandara tempat kedatangan penumpang.
Tangan pegal juga menyeret koper. Barang bawaan banyak, sehingga kami membawanya terbagi dua.
"Mama ngak usah lebay, kenapa? Lagian aku 'kan pergi sama suami, yang pastinya Dilla akan baik-baik saja. Lihat! aku pulang masih dalam keaadan utuh 'kan badan ini?" jawab Dilla ketus, mencoba mengerjai mamanya sendiri.
"Heesth, anak ini. Orang tuanya bertanya baik-baik malah jawabannya tak mengenakkan," jawab Mama mertua.
Papa hanya senyum-senyum, melihat anak dan Ibu tidak akur. Namanya beda karakter, pasti ada saja pembicaraan yang dipertengkarkan.
"Iya ... iya, Ma. Kami baik-baik saja kok, ok!" jawab Dilla memberikan senyuman lebarnya.
"Gimana? Gimana? Ada kemajuan ngak bulan madu kalian? Yang pastinya Mama berharap kalian secepatnya telah berhasil untuk membuatkan kami seorang cucu!" ucap mertua perempuan yang kini membuatku tersipu malu, dengan cara mengusap-usap tengkuk yang sudah saling berpandangan tajam antara diriku dan Dilla.
"Mama ini apaan sih? Kalau bertanya ngak disini juga kali, apa ngak malu sama menantu kamu sendiri," keluh Dilla yang kini memperhatikan wajahku lamat-lamat.
"Ngapain juga kalian harus malu. Lagian kalian sudah dewasa jadi ngak payah malu-malu gitu, kenapa? Tebakan, bulan madu sukses 'kan?" balik ucap mertua.
"Heeh, dasar mama ini. Mulut selalu saja cerewet , ngak malu siapa yang diajak bicara," imbuh Dilla tak suka.
"Sudah ... sudah, ngak usah berdebat lagi. Mama juga sih, sudah tahu anak capek-capek dari perjalanan jauh dari bulan madu, malah ditanyain yang enggak-nggak," keluh papa.
__ADS_1
Sepertinya mulai risih mendengar suara mereka.
"Iya ... iya, maafkan Mama yang sudah keterlaluan kepo ini, ya! Maaf 'kan Mama juga ya Dio," ucap penyesalan mertua.
"Iya, ngak pa-pa, Ma!" jawabku.
"Makasih Dio, kamu memang menantu yang pengertian," puji beliau.
Hanya senyuman manislah yang dapat kuberikan pada beliau. Kamipun akhirnya menaiki mobil Papa, yang mana akulah yang mengemudikan kendaraan milik mertua.
"Oh ya, Dilla. Papa nanti malam akan mengadakan produk peluncuran pakaian merk baru dari perusahaan kamu, jadi kamu nanti bersama Dio harus datang," terang ucap mertua laki-laki.
"Kok Dilla ngak ada pemberitahuan sama sekali bahwa akan ada peluncuran produk baru itu?" simbatan Dilla nampak tidak suka.
"Heeh, iya ... iya, Pa. Okelah nanti aku akan datang bersama Dio," tutur lembut Dilla setuju.
"Iya, kamu harus datang sama Dio," suruh papa.
"Hemmm."
Diri ini hanya bisa menyimak saja atas obrolan mereka, sebab mau menyahutpun aku tak paham atas apa yang sedang mereka bicarakan.
"Oh ya, Dio. Kamu sekarang sudah menjadi suami Dilla, jadi kamu sekarang harus banyak bantuin perusahan Papa dalam bidang perhotelan. Usia sudah semakin tua, jadi lihat tulisan agak kabur," ujar mertua menjelaskan.
__ADS_1
"Baik, Pa!" jawabku nurut saja.
Kalau menolak takut salah, sementara beliau sudah berbaik hati memberikan pekerjaan yang layak.
"Tapi pa, kenapa Dio ngak ditugaskan kerja sama aku saja? 'Kan kalau ada suami disampingku, paling enggaknya ada yang jagain Dilla selama 24 jam non stop," Dilla tidak suka.
Memahami atas keluhannya itu. Namanya juga pengantin baru, pasti lagi sayang-sayangnya sama pasangan.
"Mentang-mentang pengantin baru, nggak harus terus bersama-sama juga kali," respon Mama.
"Apaan sih, Ma? Ya wajarlah aku ingin bersama Dio sebab dia suamiku, selain itu aku tuh tak mau mata Dio nanti sampai jelalatan lirik para karyawan Papa yang cantik-cantik itu. Mama kayak ngak tahu aja, pegawai hotel papa 'kan cantik-cantik semua," ujar Dilla menjelaskan dengan penuh kesewotan.
"Aku bakalan enggak begitu, sayang! Mana boleh kayak gitu," jawabku melihat Dilla dari kaca spion dalam mobil.
"Nah, tuh 'kan. Suami kamu aja bilang bakalan akan setia, jadi kamu ngak usah lebay khawatir berlebihan kayak gitu," sahut Mama membelaku.
Mungkin mertua sudah gemes saja sama anaknya yang semakin banyak kemauan. Walau dia sebagai wanita karir dan sering kerja sendirian, tapi kalau dekat orangtua malah akan keluar semua kemanjaannya itu.
"Dilla 'kan cuma antisipasi saja, jangan sampai nanti akan terjadi. Gitu aja sih, Ma!."
"Benar juga katamu, Dilla. Waspada itu perlu, tapi Papa melakukan ini sebab ingin mewariskan keahlian Papa sama Dio. Jangan sampai perusahaan yang sudah kita kelola sekian tahun jadi terbengkalai. Lagian diperusahaan kamu sudah banyak karyawan yang membantu pekerjaan kamu, jadi untuk sementara ngak perlu Dio dulu," jelas Papa.
"Heeh, ok lah. Terserah Papa mana baiknya saja, sekarang Dilla hanya bisa nurut," kepasrahan Dilla menjawab.
__ADS_1
Mobilpun tanpa terasa telah melaju sampai ke kediaman rumah mertua, saat obrolan kami telah menghanyutkan waktu sampai-sampai tak terasa sudah datang. Barang-barang seperti koper dan oleh-oleh dari Singapura, kini telah penuh kubawa dengan tangan secara kewalahan.