Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Mendengarkan Gosip Yang Tidak Enak Didengar


__ADS_3

Kling, pintu lift akhirnya terbuka yang untung saja masih sepi tak ada pekerja. Bisa sedikit tenang. Dia berdiri tepat disampingku, netranya berkali-kali melirik. Tahu itu, tapi pura-pura tidak tahu.


"Dih, Dio ini. Kenapa dia terus saja diam-diam melirik dan memperhatikan? Apa dia takut jika terjadi sesuatu padaku? Ahh, sudahlah, biarkan saja kali. Tapi-? Sebenarnya risih juga sih dia mencuri memandang gitu!" guman hati tak tenang.


Kling ... kling ... kling, setiap lantai ada saja orang masuk, dengan jumlah dua atau tiga orang. Dan yang bikin kesal lift kian membludak banyak orang yang masuk. Seketika Dio menghadapkan tubuhnya kearahku, yaitu memojokkan tubuh ini kesudut lift, dengan kedua tangannya bersandar mengkunci dibadan lift, mungkin dengan tujuan biar aku tak terlalu tergincit oleh tubuhnya dan terluka oleh orang-orang yang mulai berdesakkan masuk lift.


"Kamu tenang dan aman dalam lindunganku! Jangan banyak gerak, sebab akan semakin banyak orang yang masuk. Aku tidak mau kamu terluka," ucap Dio yang tak melihat wajahku, sebab sedang memperhatikan orang-orang yang kian sesak.


Sungguh menyebalkan, terus saja membludaknya orang masuk.


"Jangan menatap wajahku terlalu lama, nanti kamu bisa kian jatuh cinta padaku dan pastinya tak akan mudah melupakan," celoteh Dio dengan percaya dirinya.


Aku tersentak kaget lagi, saat Dio memergokkiku seperti maling yang ketahuan mencuri pandang terhadapnya. Senyumannya terus merekah. Manis dan sangat menawan.



"Dih, percaya diri amat."


"Lalu?"


Mati kutu tidak ada alasan. Dasar cowok sangat peka. Ternyata tiap manik gerak tubuhku dia perhatikan dari tadi.


Dalam posisi seperti ini aku kian marasa deg-degkan yang luar biasa rasanya. Posisi kami kian dekat ... dekat sekali, hingga aku bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh Dio. Bau yang ingin kuhafal. Tak jemu-jemu aromanya kuhirup.


"Berdebar ... kenapa Dio selalu membuatku berdebar seperti ini? Apakah aku mulai jatuh hati betulan sama dia? Semoga saja ini benar debaran akan rasa cintaku pada Dio," bathin hati yang masih menatap wajah Dio.


"Kelihatannya wajahmu sekarang ini sedang bersemu!" ucap Dio tersenyum miring berbisik ditelingaku.


Deg, aku kini benar-benar sedang merasakan kekurangan oksigen.


"Aaaah, sesaknya nafasku? Kenapa bisa begini? Kenapa laki-laki ini selalu saja membuat jantungku terus saja mengerjakan aktifitas olahraga?" rancau hati yang kian membuncah.


Hanya diam yang bisa menjawab semua. Masih tersimpan rasa malu jika mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu grogi sebab tubuh kita sudah tidak ada jarak lagi. Merasakan suasana beda 'kah? Hingga kau berkali-kali nampak terpesona?"


"Dih, enggak juga. Percaya tingkat dewa bener kamu," Menyunging mulut keatas.


"Ya iyalah, percaya diri itu harus diutamakan, biar kamu makin sayang padaku," Gombalan yang mulai lagi.


"Hadeh, tapi ngak gitu juga kali."


"Terus mau apa? Ingin berbuat sesuatu yang lebih dari inikah?" Tangannya kurang ajar mengusap lembut bibir ini.


"Ishhh, ogah."


"Ogah apa mau? Jangan bilang mulut kamu ogah tapi hati kamu mau."


"Haduh, makin lama makin nyebelin amat sih kamu."


"Hahahaha, tapi 'kan kamu suka!"


Aku kini semakin mengila kalau ucapan Dio itu ada benarnya, sebab diri ini mulai terserang hawa panas tepat berada diwajahku, dengan pipi mulai bersemu kemerahan.


"Eeh kamu dengar ngak kalau atasan kita telah bertunangan, tapi sayangnya sama pria yang miskin yang sepertinya sopir dan pengawalnya sendiri," ucap salah satu pengguna lift bersama kami.


"Iya ... iya, kami dengar!" simbatan semua orang, yang seketika riuh akibat gosip yang beredar.


"Kalau aku sih ogah, masak atasan kita kaya tujuh turunan mau-maunya sama pria yang tidak punya apa-apa," saut-menyaut ucap yang lain.


"Bener ... bener itu," semua orang kelihatan setuju.


"Gila aja ya!"


"Tapi calonnya itu tampan sekali lho! Aku saja kalau jadi pacarnya pasti bakalan pingsan setiap hari," Pembelaan salah satu wanita yang berdiri agak jauh disebelah kananku.


"Tampan sih tampan, tapi kalau ngak kaya mau makan apa? Ngak mungkin makan wajahnya," jawaban yang lainnya.

__ADS_1


"Kalia-?" ucapku tertahan.


"Shuuuuuuuuut," cegah Dio dengan jari telujuknya menempel tepat dibibirku, saat aku ingin berontak untuk menjawab mereka.


"Ngak usah diladeni."


"Cukup diam dan jadi penurut."


Seketika nyaliku ciut, saat Dio dengan sabarnya telah menerima gosip yang tak mengenakkan ini. Lain sekali denganku yang telah ada desiran emosi, sebab merasa Dio sangatlah terhina atas ucapan mereka. Kulihat wajah Dio datar-datar saja, tak ada rasa marah maupun ingin membalas, sehingga akupun kini dibuat binggung jika ingin membelanya.


Mereka tidak sadar jika ada bos utama dilift. Mungkin karena berdiri dipojok dan tubuh ditutup oleh badan Dio, sehingga tidak banyak orang tahu. Efek fokus mau cepat-cepat datang ke tempat kerja, bisa jadi alasan utama tidak melihat bosnya ini.


"Dasar kalian ini. Awas saja kalau sudah keluar dari lift. Pasti kalian akan merasakan akibatnya. Jangan kalian hina orang yang tidak salah. Ganggu kalian saja tidak, kenapa pada kepo dan ingin berbuat masalah, sih!" Emosi jiwa yang tertahan.


Obrolan mereka makin memanas. Ingin kuremas saja tuh mulut para mulut ember. Hina demi hinaan kian pedas saja didengar telinga. Asap dalam kepala mengepul. Tangan gregetan ingin menabok.


"Tunggu Dilla, ngak usah ladeni mereka, nanti bisa-bisa bertambah runyam," cegah Dio mencekal tanganku, saat ingin menghampiri para wanita pengosip itu sudah keluar dari lift.


"Tapi mereka tadi sudah keterlaluan."


"Sudah, lupakan saja. Tidak baik dilihat orang banyak, sementara kamu atasan mereka yang seharusnya memberikan contoh baik, bukan malah menghadapi dengan emosi. Efeknya bisa fatal bagi perusahaan."


Salut juga sikap Dio, yang lebih mementingkan nama baik perusahaan dan diri ini agar tidak dipermalukan


Dengan legowo akupun menuruti cegahan Dio. Tapi pikiranku kini melayang-layang atas ucapan para karyawan, yang masih saja tergiang-ngiang menganggu kinerja otak. Langkah sudah gontai hanya mengikuti langkah Dio dari balakang.



"Ya Allah, apakah sehina itukah status Dio? Apakah cinta harus berdasarkan materi?Aku rasa tidak, tapi mengapa seakan-akan kata-kata mereka sakit sekali, bagaikan pisau telah menghujam hatiku yaitu disaat orang didekatku sekarang ini telah dihina. Bukankah mencintai seseorang itu harus dicari kesetiaan cintanya, bukan hanya memandang hartanya saja. Sungguh maafkan aku Dio, saat para karyawanku telah keterlaluan menghinamu," rancau hati tak enak hati.


"Ayo, Dilla!" tarik Dio kepada tanganku.


Aku hanya menuruti saja perintah Dio, tanpa ada sepatah katapun dari mulutku yang mengajak bicara. Rasanya diri ini benar-benar tak enak hati, saat harga diri Dio diinjak-injak oleh sebuah penghinaan.

__ADS_1


__ADS_2