Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Masih Memberikan Alasan


__ADS_3

Suara air mulai bergememericik, tanda kalau Dio sudah mandi. Tangan yang sibuk membolak-balik halaman tiada guna lagi, ketika pikiran berkecamuk mencari cara.


"Kamu kenapa?" tanya Dio tiba-tiba yang sudah berdiri didekatku.


Bau keharuman sabun menguar sampai ke hidung. Rambutnya masih meneteskan air keramas. Tangan berkali-kali sibuk mengusapkan rambut ke handuk.


"Eeh, hehehe. Aku ngak pa-pa, cuma ... cuma ... cuma? Aaah ... susahnya jelasin," ucapku yang tercekat.


"Cuma apa?" tanya Dio penasaran.


"Kamu kenapa?" tanya Dio panik, saat aku memegang perut karena mules.


Perut mulai melilit. Tangan menahan dan sedikit memberikan remasan, dengan tujuan agar sedikit mereda, tapi kalau tidak bisa menahan lagi maka akan gas poll lari terbirit-birit memasuki toilet.


"Aku ngak kenapa-napa. Mungkin ini cuma efek ... efek?" Suaraku tertahan lagi.


"Efek lagi kedatangan tamu 'kah?" tebak Dio.


"Ya salam, kenapa aku ngak kepikiran tadi, kalau aku bisa mencari alasan menunda malam pertama dengan cara sedang datang bulan. Waah ... good .... good, ide kamu Dio. Hahahahaha, tak sia-sia kamu jadi suamiku, agar membatalkan ritual yang seharusnya kita lakukan," Bathin hati yang tertawa riang akibat dapat ide dari Dio sendiri


"Eeem, mungkin nih! Akibat efek datang bulan," jawabku sumringah gembira.


"Duh, sakitnya perut. Aduh ... Duh."


Berbohong sepertinya jalan ninjaku sekarang. Tidak apalah tidak jujur, ini demi kebaikanku juga yang tak siap.

__ADS_1


"Oooh, tapi hatiku mengatakan bahwa kamu sedang tak kedatangan tamu, sih. Yang sepertinya perut kamu hanya mules saja, sebab aku barusan mencium aroma yang tak sedap dari arah kamu!" Dio tersenyum ramah.


"Ya ampun Dilla, kamu itu memang ngak bakat untuk berbohong. Pakai acara buang angin segala. 'Kan jadinya Dio tahu, kalau kamu sedang mules," rancau hati yang kesal.


"Hehehehhe," jawabku cegegesan malu.


Kurang asem benar, sekarang ketahuan ide yang spontan tadi.


"Kamu ini ada-ada saja alasannya. Pasti ini samua sudah terencana, sebab kamu belum siap melakukan ritual kita 'kan," tebak Dio yang membuatku terasa mengecil.


Malu bukan kepalang. Kenapa pria yang jadi imamku ini pandai sekali, sampai cara jitu bisa berbohongpun tetap ketahuan.


"Enggak kok! Siapa yang belum siap? Aku lahir bathin siap melayani kamu, mas Diiiiioooo!" Suara nyolotku berbohong.


Duh, mati ... matilah. Serius menanggapi. Keadaan semakin kacau. Mulut memang tidak bisa diajak kompromi untuk menyembunyikan semuanya.


Bhuuugh, tiba-tiba tubuhku diterkam oleh Dio, seperti singa yang sedang kelaparan oleh makanan. Tangan telah terkunci kiri dan kanan, yang membuatku ketakutan bukan main atas sikap Dio ini. Muka sudah berpaling menatap kesebelah kiri, sebab ingin menyembunyikan wajahku yang tengah merona kemerahan.


"Kamu kenapa?" tanya Dio yang kini telah mengambil pelan wajahku untuk menatapnya.


Mata kami tengah sama-sama terkunci, membuat detakan jantung kian berpacu dengan kuatnya. Netra Dio semakin tak terarah untuk melihat wajahku ini.


Muka yang menawan itu perlahan-lahan terus saja didekatkan pada wajah ini, hingga tanpa sadar mata kupejamkan secara kuat.


"Aku suka sekali melihat ekspresi wajahmu yang ini! Sangat mengairahkan, bahkan aku ingin mengusainya!" bisik Dio pelan, yang mana aku masih tak mau membuka mata, sebab sibuk dengan pikiran kalut akibat grogi.

__ADS_1


"Aaaah, apakah Dio benar-benar akan melakukan haknya untuk malam ini," rancau hati yang tak karuan ketakutannya.


"Mata kamu kok makin lama makin kuat memejamnya? Ditambah muka kecut begitu, hahahaha, kenapa? Penasaran banget kah yang namanya perang badai?" ledek Dio yang kini melepaskan kedua tanganku yang sempat dikuncinya.


"Enggak ada," jawabku ketus.


"Iya ... ya, aku paham Kamu tenang saja, sayang. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang lebih, jika kamu saja belum siap. Sudah tidur sana! Kata kamu tadi capek," cakap Dio yang kini bangkit dari tempat tidur.


"Kamu mau kemana?" tanyaku saat Dio sudah melangkah pergi membawa bantal.


"Aku ngak kemana-mana, cuma hanya ingin tidur disofa, sebab aku tak mau kamu melakukan semuanya dengan perasaan paksaan," jelas Dio.


Duh, makin tambah sayang saja sama pria yang masih muda, namun bisa berpikiran dewasa. Umur ternyata hanya angka, namun pengalaman bisa bersikap dewasa, dan pengertian pasti akan selalu dinantikan seorang wanita. Mereka hanya butuh kenyamanan dan ketulusan hati saja.


"Tapi Dio, nanti-?" Suaraku tertahan.


"Sudah ... sudah, ngak usah terlalu dipikirkan. Kamu istirahat saja, sebab aku tahu kamu sangat lelah sekali," suruh Dio dengan membelai rambutku pelan.


Kepala hanya bisa mengangguk-angguk pelan, seperti anak kecil yang nurut dengan ucapan ibunya.


"Ternyata pemikiranku selama ini salah. Oh Dio, ternyata kamu pria baik dan pengertian sekali. Tak ayal aku menyesali pernikahan ini, sebab ternyata kamu orangnya romantis dan bisa membuat hatiku terus saja berbunga-bunga. Terima kasih Dio," ucapku dalam hati saat Dio kini tengah tergolek tidur disofa beneran.


*********


Hayo siapa yang berpikiran aneh-aneh habis nikah pasti melakukan itu???? Janganlah MP dulu, kan authornya lagi tidak ingin meracuni pikiran pembaca😁, jadi disimpen dulu cerita yang uwu itu . Terima kasih bagi pembaca setia, yang telah memberi vote, rate, like, kalian pokoknya selalu the best. terima kasih .... terima kasih ... terima kasih😊

__ADS_1


__ADS_2