Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Keanehan Sikapnya Romantis


__ADS_3

Sudah empat hari lebih luka Dio akhirnya perlahan-lahan mulai membaik. Dio tetap tidur dirumahku, sebab dia akan selalu menjaga diri ini walau status kami sudah beda yaitu akan melakukan pertunangan. Kamarpun sudah terpisah, dikarenakan Dio sudah percaya kalau aku tak akan melakukan hal-hal yang aneh lagi, saat diri ini masih suka bandel berpacaran dengan Joan dan Reyhan.


Didapur terdengar sekali ada bunyi ribut suatu benda alat-alat masak, dan pastinya tak salah lagi ini semua pasti kerjaan Dio. Mata berusaha kubuka, yang sudah dongkol sekali saat tidur nyenyak suara-suara itu begitu tak nyamannya terdengar ditelingaku.


"Haiist Dio ini, benar-benar ganggu orang tidur saja. Huuuaaaah, apa ngak lihat rasanya aku capek sekali habis merawatnya dan bekerja," bathin hati yang kesal, dengan tangan berkali-kali menutup mulut yang menguap.


Sebab teringat akan kerjaan yang menumpak diperusahaan, mau tak mau sekarang aku harus menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama diri ini mandi di shower, yang sebenarnya ingin berlama-lama berendam dalam bathub, karena tidak ingin membuang waktu akhirnya aku urungkan niatan itu untuk segera berangkat kerja.


"Pagi Dio," sapaku saat dia masak didapur.


"Pagi juga, Non!" jawabnya.


Duduk dimeja makan, menyeruput kopi yang sudah tersedia. Bocil sudah hapal dengan kebiasaan majikannya ini.


"Luka kamu belum sembuh beneran, kok sudah repot-repot sekali untuk masak?" tanyaku.


"Ngak pa-pa, Non. Lagian bosen dikamar istirahat terus. Sekali-kali ingin makan masakan sendiri!" jawabnya sambil meletakkan menu makanan.


Mata begitu terbelalak atas semua hidangan yang satu persatu mulai terhidang dimeja. Terlihat aneh sekali atas bentuk makanan yang dibuat Dio.


"Ya ampun, nih anak aneh bener hari ini? Kenapa masakkannya ada yang berbentuk love ... love."


"Wah, Apakah ini efek jatuh cinta yang pertama kali terjadi padanya? Hihihi, kalau itu benar sangat-sangat lucu juga dan bikin hatiku semakin nyes-nyes gembira yang tak terlukiskan lagi rasanya," guman hati yang sudah senyum-senyum.


Dio ikutak duduk. Membuka piring yang tadi sempat tengkurep. Sendok biasa dan garpu tidak lupa dia ambil sebagai pelengkap.


"Kenapa? Kok senyum sendiri begitu? Ada yang lucu 'kah?" tanya Dio saat melihat wajahku.


__ADS_1


"Enggak ada. Cuma aneh saja sama bentuk makanan-makanan pagi ini," jawabku jujur.


"Aneh gimana? Tidak menyelerakan apa?" tanyanya balik.


"Enggak, Dio. Masak kamu goreng telur dadar saja, sampai detail bentuk hati semua, 'kan aneh saja mau memakannya," ujarku.


"Ngak usah aneh begitu, kenapa!"


"Ya, berasa aneh saja sama bentuknya."


"Itu tandanya kalau aku sungguh-sungguh akan belajar mencintaimu, dan ini tuh sebagai tanda ungkapan hatiku supaya kamu makan, agar telur ini bisa sampai mentok merasuk kehatimu yang masih agak tertutup padaku," Penjelasan Dio sambil mengombal.


"Ciiieh, benarkah itu? Masak telur dijadikan alat sebagai ungkapan hati" Tidak percaya.


"Ya iyalah, masak aku bohong'an. Selain itu aku akan berusaha sekuat tenaga, biar kamu bisa jatuh ke dalam pelukanku selamanya. Bagiku perjodohan yang orang tua kita atur bukanlah main-main, jadi sekarang aku akan dua kali lipat lebih serius," jawabnya penuh semangat.


"Heem ... hemm, ok 'lah. Agak percaya sajalah."



"Iya, bawel."


Muka sudah sedikit panas kemerahan akibat ucapan Dio. Tidak menyangka saja, jika dia akan berusaha sampai segitunya demi mendapatkan diriku.


Dalam pikiran kini melayang-layang berpikir, apakah aku juga harus sungguh-sungguh untuk belajar mencintainya lebih dalam lagi.


"Aaaaaaa," Suruh Dio agar diriku membuka mulut, saat udang dalam sumpit dia sodorkan.


Rasanya malu sekali, saat baru pertama kalinya aku disuapi oleh seorang pria dari tangannya.

__ADS_1


"Ayo buka mulut kamu, Non!" ucapnya saat diriku tengah melamun.


Mau tak mau akhirnya aku menuruti saja perintah Dio, ketika seperti anak kecil yang lugu-luguya menerima suapan mamanya.


"Bagus. Cantik kalau jadi anak nurut gini," Kegembiraan Dio menjawab diiringi senyuman.


Senyuman malu-malu sudah terluncur dari bibirku, untuk membalas tindakan Dio.


"Nanti berangkat kerja ngak usah berangkat sendirian, aku antarkan!" ujar Dio.


"Tapi Dio, kamu masih dalam pemulihan belum sembuh beneran," jawabku berusaha menolak.


"Ngak pa-pa, lagian yang sakit itu bukanlah tanganku tapi perut," kekuhnya.


"Heeeh, baiklah!" Hembusan nafas kepasrahanku.


Detingan sendokpun terus saja berbunyi, mengiringi kami yang tengah menikmati sarapan pagi. Mulut terus mengunyah dengan cepat, karena buru-buru akan berangkat kerja.


"Ayo, Dio. Kita berangkat sekarang, sebab aku ada kerjaan numpuk dikantor," suruhku sudah selesai makan.


"Hemm, tunggu disini. Aku akan siap-siap dulu," Perintahnya yang kini meneguk air putih dan secepatnya bangkit untuk menuju kamarnya.


Secepat kilat dia sudah kembali. Dia sudah rapi menggunakan jaket hitam.


"Ayo, Non!" Ajaknya tidak sabar.


"Iya. Sebentar, aku ambil tas dulu."


Sebenarnya tidak enak hati atas perlakuan Dio ini, tapi mau nak berkata apalagi, saat dia benar-benar serius ingin mengantar.

__ADS_1


Sifatnya hari ini sangat aneh. Tidak ada obrolan sama sekali diantara kami ketika dalam mobil. Dio terlalu fokus sama jalanan. Jika menganggu, takutnya berantakan dia menyetir saat baru belajar


__ADS_2