
Ditinggal suami tercinta bisa jadi hal yang sangat memilukan. Meski tentu tak ada orang yang menginginkannya. Namun, ditinggal pergi sebenarnya bisa dialami oleh siapapun itu. Saat mengalami hal memilukan itu, yang ada hanyalah perasaan sedih dan sangat kecewa.
Tak hanya membuat sedih, ditinggal suami juga bisa mengganggu dan merusak suasana hati bahkan hingga berhari-hari. Akibatnya, seseorang bisa mengalami stres, depresi, dan berujung pada terganggunya aktivitas keseharian. Sebaiknya diluapkan dan tidak dipendam begitu saja, sebab bisa membuat mood jadi buruk dan semakin terpuruk.
Ditinggal suami tersayang pergi, bisa jadi hal yang cukup berat dilalui. Sering kali adanya suami membuat hidup jadi lebih berwarna dan bahagia. Sebaliknya, saat ditinggal orang terkasih, dunia itu seketika bisa jadi kelabu dan bagai hidup tak bernyawa lagi.
"Sampai kapan perpisahan kita akan terjadi? Aku sangat merindukanmu? Kenapa kau meninggalkanku saat membutuhkanmu?"
Cerahnya awan telah berhasil menyinari celah hati yang begitu gelap akan kesedihan. Cahaya mentaripun memanasi tubuh, agar diri ini cepat sadar bahwa semua telah hancur didepan mata. Kini disamping kaca perusahaan, berdiri melamun mengenang semua kesalahan yang kubuat. Embun terus saja ingin menerobos pelupuk mata. Tangan meraba pelan kaca bening ketika sekelebat bayangan Dio telah hadir. Senyum manisnya sangat ingin kulihat, namun tak kuasa sekedar mewujudkan dengan cara bertemu.
"Harus bagaimana aku menjelaskan semuanya? Tahu jika ini semua salahku, tapi apakah kau tidak ingin mendengar penjelasanku dulu? Apakah kita belum terlalu dalam mengenal satu sama lain, sehingga rasa sayang yang sempat terjalin kini mulai memudar?"
"Aku tahu salah, tapi apakah sebentar saja kau tidak bisa memeluk untuk menangkan diriku. Aku sangat rindu aroma tubuhmu. Jangan biarkan aku tersiksa begini, Dio! Kapan kau kesini?" guman hati terus merasa pilu.
Tes, setitik airmata berhasil jatuh. Kehadirannya yang kubutuhkan sekarang, hanya bisa datang dalam bayangan saja. Kaki tak kuat lagi menopang tubuh, sehingga terduduk sambil tersedu-sedu. Ingin rasanya berteriak meluapkan semuanya, namun hanya tangisan yang bisa mewakili.
Tok ... tok, pintu diketuk seseorang.
Langsung saja menyeka lelehan yang masih
tersisa dipipi. Berjalan lalu duduk dikursi kebesaran. Membenahi wajah yang berantakan. Kini bersikap anggun sambil berpura-pura membaca kertas kerjaan, agar karyawan tidak menyingung maupun menebak bahwa diri ini sedang dilanda kelemahan. Walau sudah banyak gosip menyebar, namun muka harus bisa tebal dan menyikapi dengan tenang. Membuktikan bahwa ini semua hanya berita bohong, sehingga gunjingan itu biar cepat mereda.
"Maaf, Bu. Ada tamu untuk anda," izin karyawan.
"Oh, iya. Bawa dia masuk."
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Hmm, silahkan."
__ADS_1
Dia seketika memanggil tamu itu. Masih sibuk mempelajari naskah kerja.
"Hei, cantik!" sapa seseorang.
"Joan? Tumben kamu ke sini?" Menyambutnya sopan.
Berdiri lalu menghampiri dia. Mempersilahkan duduk disofa ruang tamu.
"Bagaimana keadaan kamu? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Seperti yang kau lihat! Aku sangat ... sangat baik," balas sambil melempar senyuman.
"Masak sih? Kamu tidak usah berpura-pura lagi didepanku," Joan mulai mendekati posisi dudukku.
"Apa maksudmu? Tidak mengerti dech," Masih berpura-pura tegar.
"Mana ada! Kamu jangan asal menebak," jawab tapi tak sengaja menitikkan airmata.
"Nah 'kan, ketahuan bohongnya sekarang."
"Maaf, Jo. Suasana hatiku akhir-akhir ini kurang baik," Menghapusnya dengan cepat sebab merasa malu.
"Tidak apa-apa, Dilla. Aku memahami apa yang sedang kamu alami. Sabar dan tegarkan dirimu. Apa yang terjadi sekarang anggap saja untuk menguji cinta kalian sampai sebatas mana, ok."
"Iya, Jo. Aku sangat mengerti."
"Jangan jadi wanita cengeng lagi. Yakinlah kalau Dio sangat mencintaimu dan dia begitu tersiksa juga. Wajar saja dia sekarang tidak ada, sebab mungkin hatinya sedang mengalami kesakitan yang luar biasa. Kamu harus bisa memahami itu. Jika kalian saling mencintai dan dijodoh oleh takdir untuk tetap bersama, badai apapun itu yang datang agar bisa mengoyahkan, pasti akan kalah juga sama kekuatan cinta kalian. Banyak berdoalah, agar semua ini segera berakhir dan Dio bisa kembali kepelukanmu," Nasehat panjang lebarnya membuat airmata tak bisa ditahan lagi.
Joan memelukku dengan erat sambil menepuk pelan bahu. Lama kelamaan tangisan kian pecah. Begitu sakitnya hati ini ketika yang dicintai tidak bisa mengenggam erat tangan ketika sangat dibutuhkan.
__ADS_1
"Sudah ... sudah, jangan sedih lagi. Kamu wanita kuat dan bisa melalui ini semua. Mulai sekarang buktikanlah pada dunia bahwa kamu bukan wanita yang selama ini diberitakan."
"Tapi bagaimana, Jo? Semua orang kini membenci dan tak percaya lagi atas kata-kataku. Harus memulainya darimana lagi, setelah banyak orang mencemoohku?" Rasanya tidak ada celah lagi untuk membuktikan.
"Kamu sekarang tenangkan diri dulu. Aku akan membantu dan berusaha mencari bukti bahwa kamu hanya dijebak. Kita akan memulai menyelidiki Reyhan."
Joan melepaskan pelukan dan kini menyeka lelehan embun dengan jempolnya. Lama sekali tadi sesegukan sampai baju Joan sedikit basah.
"Apa ada Reyhan kesini?"
"Tidak ada. Bahkan setelah berita itu muncul, dia mengilang bagaikan ditelan bumi. Aku telephone nomornya juga tidak diangkat. Semua orang yang kenal dia sudah kutanyakan, tapi semua menjawab tidak tahu," jelasku sudah sedikit tenang.
"Wah, ini pasti ulahnya. Kok aneh begitu."
"Tidak tahulah, Jo. Aku belum bisa menebak kalau itu ulahnya, walau semua foto itu berkaitan dengan kami berdua."
"Ya sudah. Kamu tenang dulu. Nanti akan tetap kubantu mencari solusi masalah ini."
"Terima kasih, Jo. Hanya kamu yang sekarang ini percaya padaku, dan untuk bahu kamu thanks sudah jadi sandaran kesedihan ini."
"Sama-sama. Tidak usah sungkan gitu. Kita adalah teman dan pernah dekat, jadi apa salahnya jika saling membantu."
"Iya, pokoknya terima kasih banyak!" Kembali memeluknya erat sebagai tanda dia ikhlas telah mau menolong.
Kadang memilih untuk membiarkan cinta itu pergi, tapi bukan karena tak ada cinta, melainkan takut mencintai lalu kehilangan lagi seperti dulu. Kini hanyalah waktu yang akan mengerti bahwa perpisahan ini sangatlah berat.
Perpisahan memang nampak seperti akhir, dan selamat tinggal mungkin akan nampak kehilangan selamanya. Namun di dalam hati masih tersimpan kenangan bersamanya, yang akan senantiasa ada serta utuh.
Ditinggalkan oleh sesorang adalah hal yang menyedihkan. Hari-hari yang indah dan penuh tawa dengannya akan seketika berganti dengan kesedihan. Bahkan, kenangan-kenangan manis bersama tak lagi membuat bahagia, melainkan justru turut mengundang kesedihan berlarut-larut.
__ADS_1