Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Perkelahian Sengit Bagian 1


__ADS_3

Ikatan tangan dan sumpalan dalam mulut akhirnya telah terlepas, yang bikin naas kesal adalah pada kaki kenapa tidak bisa terlepas cepat, hingga kedatangan Joan membuat semakin gagal.


Terlihat Dio sudah meladeni Joan untuk segera berkelahi mempertahanku agar bakal ikut siapa nantinya. Badan kutepikan agak menjauh dari perkelahian mereka, sebab aku takut kalau mereka tak terkontrol dalam tijuan dan tendangan, yang nanti bisa-bisa mengenaiku.


Buuugh ... braaas, saat sebuah kepalan tangan Dio memukul tepat diwajah Joan, namun dengan cekatan ternyata Joan dapat menghindarinya. Tak kehabisan akal dan tak mau kalah, kini Dio berbalik memutar badan untuk melayangkan sikunya supaya tepat mengenai hidung Joan.


"Sial*n, ternyata kamu hebat juga. Aku tak akan kalah begitu saja darimu, awas!" umpat Joan marah, dengan tangan sesekali menyeka hidung yang sudah mengalirkan darah.


"Jangan banyak b*cot, majulah kalau berani. Aku akan melayanimu sampai kamu mampus," jawab Dio dengan lantang dan berani.



Hiaaaat ... bhuugh, Joan berusaha berbalik memukul wajah Dio, tapi dengan lihai Dio bisa memiringkan tubuhnya ke samping kanan, sehingga tijuan Joan itu berakhir dengan meleset.


Kini kepalan tangan Dio telah berhasil berbalik meninju perut Joan, yang membuat dia harus mringis kesakitan disekitaran perut, sehingga mau tak mau harus menahannya rasa ngilu itu dengan tangan. Netra hanya bisa mengawasi jalannya perkelahian yang begitu sengit, tanpa bisa melerai mereka untuk berhenti berkelahi.


"Ayo maju. Apakah cuma segitu saja kemampuan kamu, hah!" tantang Dio dengan penuh keberanian, dan akupun telah meleleh atas sikapnya itu.


"Haaaist, dasar. Aku tak akan kalah, cuma hanya dapat pukulan kamu yang lemah ini," jawab Joan yang ternyata tak mau menyerah.


__ADS_1


Joan yang sempat kesakitan, kini mulai maju berlari kecil untuk menghampiri Dio yang sudah ancang-ancang ingin mengajaknya berduel lagi.


Bhuug ... bhuuuugh, lagi-lagi tinjuan pada wajah Joan telah tepat meluncur, membuat sudut bibirnya kini sedikit pecah mengeluarkan darah juga. Saat Joan lengah, sebuah tendangan maut telah berhasil mendarat tepat di wajah Joan mengenai pipi sebelah kanannya. Mungkin akibat tak bisa menahan keseimbangan tubuh, mengakibatkan Joan kini telah terkapar dilantai, diiringi dengan nafas ngos-ngosan tersedat oleh kekalahan.


"Segitu 'kah kekuatanmu?" tanya Dio yang masih ingin menghajar Joan.


"Cuuiih!" Joan memuntahkan air liur bercampur darah merah segar.


"Dasar manusia tak berguna. Beraninya kamu ini hanya pada perempuan yang lemah. Cinta bukan dengan cara memaksa untuk menerima pasangan kita untuk menikah, tapi harus ada ikatan bathin menikah secara tulus dalam hatinya, mengerti!" rancau Dio terus mengomel.


Joan hanya mengerang kesal, sambil bangkit dari tergoleknya tubuh. Nampak sekali Joan habis mengecap rasa darah diujung bibirnya dengan lidah.


Kelihatan sekali amarahnya kian memuncak tak terkendali, sehingga dia dengan cepat-cepat ingin melawan Dio lagi.


"Aku akan melayanimu, sampai kamu bisa sadar apa arti cinta yang sesungguhnya itu, bagaimana!" cakap Dio tak gentar.


Saling pukul dan tedang terus saja terjadi, kini membuat mereka berdua sudah kehabisan tenaga dengan nafas telah ngos-ngosan akibat kelelahan.


Sejenak kemudian, mereka berdua menghentikan aktifitas saling pukul, dengan cara perang mata saling melotot, ingin terus lanjut sampai titik darah penghabisan dalam berkelahi.


"Awas kamu. Sini kamu!" cakap Joan yang kelihatan mengambil sesuatu benda.

__ADS_1


Hiaaat ... braas, sebuah ayunan gunting dalam kepalan tangan Joan telah terdarat ingin menghujamkan ke tubuh Dio, tapi lagi-lagi Dio dapat memiringkan tubuh ke kanan.


Sreeess, sebatan benda tajam itu berhasil mengores pipi Dio, dan sudah nampak darah telah mulai menetes dengan goresan memanjang. Tangan Dio berusaha menahan pipinya yang berdarah, dengan tatapan mata penuh emosi full terisi.


"Kurang ajar kamu!" Kemarahan Dio.


Hiaaat ... braas, Dio membalas ingin memukul tepat mengenai wajah Joan.


Tangan yang dari tadi sibuk membuka tali, akhirnya bisa berhasil juga walau sempat kesusahan atas simpul yang begitu rapat.


"Aaaaaaa," Suara kesakitan Dio mengelegar mengema dalam kamar.


Aku yang melihat situasi itu merasa sudah khawatir dan cemas, ingin tahu apa yang sebenarnya tengah tejadi? Seketika akupun berlari menghampiri Dio, saat dia jatuh terduduk dilantai.


"Dio, ada apa ... ada apa? Apakah kamu terluka?" berondongku begitu cemas.


"Iya dia sudah terluka, akibat tujaman gunting ini. Hahahaha, kelihatannya sebentar lagi dia akan mampus, karena kehabisan darah dari hunusan benda ini," Kesombongan Joan tertawa, sambil menunjukkan gunting yang sudah ada noda darahnya diujung.


"Dasar kurang ajar kamu, Joan. Aku tak akan sudi menikah dengan kamu. Dulu kamu adalah seorang pria baik-baik, tapi ternyata kini jadi monster yang menakutkan tanpa belas kasihan pada orang lain lagi," responku menjawab sambil melelehkan airmata, sebab khawatir sekali saat melihat perubahan wajah Dio menjadi pucat.


__ADS_1


"Aaaahhh, jangan banyak cincong. Ayo ikut aku sekarang!" tarik Joan marah, yang kini mencoba menyuruhku ikut dengan dia.


__ADS_2