
Menempuh jalan keberanian. Ingin tahu kejelasannya. Semua jadi berantakan. Bahkan rumah tangga sekarang dipertaruhkan. Hati mana tak risau jika sudah diambang kehancuran. Bahkan kata-kataku tidak mau didengar suami.
Semua orang tidak percaya. Tidak ada satupun keluarga yang membela. Semua pada menyalahkan. Seakan-akan diri ini pelaku utama.
Banyak yang menghujat. Tatapan orang berbeda, yaitu penuh kebencian. Berjalan saja harus menutupi muka. Tidak ada celah lagi untuk menunjukkan kebenaran. Kelakuan yang memalukan itu semua dilimpahkan padaku. Bagaikan wanita yang doyan selingkuh.
Daun berguguran berganti yang baru. Begitupun permasalahan ini, yang berganti rumit. Awalnya sangat bahagia. Dunia bagai milik berdua. Sekali kena terpa'an angin keburukan, maka semua gugur menjadi kepingan ketidakpercayaan. Biarlah derita ini sementara kutanggung sendiri. Tidak guna memberikan penjelasan. Pasti semua masih mengucilkan diriku sebagai wanita pengoda pria lain.
Brok ... brok, kugebrok pintu kasar. Tidak sabar ingin bertemu Reyhan. Rumah dia kelihatan sepi. Didepan tadi sempat melihat ada beberapa orang, yang tengah clingukan mencari sang pemilik rumah, namun nampak sia-sia sebab sosoknya seperti tidak ada dirumah.
Setelah nampak aman agar tidak diburu juga, maka turun dari mobil ingin segera bertamu dirumah sang penghancur. Dari jendela dan pintu tertutup rapat. Tidak ada pergerakan orangpun disini. Depan rumah sangat kotor oleh daun kering dan berdebu. Sepertinya memang tidak berpenghuni.
"Rey ... Reyhan, keluar kamu. Jangan beraninya cuma bersembunyi!" teriakku melengkingkan suara, biar kalau dia ada dirumah didengarkannya.
Sangat yakin sekali jika sang empu ada didalam. Dia tidak punya sanak saudara berdekatan, jadi selain dirumah ini akan kemana lagi.
Brok ... brok, sekali lagi ingin memastikan keberadaan artis yang membuat skandal kehebohan sekarang. Kalau ingin mendongkrak popularitas yang sempat jatuh, kenapa juga harus melibatkan diriku. Kalau ingin balas dendam seharusnya tidak begini, sebab banyak orang yang ikut terlibat dirugikan.
"Reyhan, cepetan buka. Aku tahu kamu ada didalam. Ini aku, Dilla. Kita harus membicarakan ini semua. Keluar kamu! Jangan bisanya cuma jadi pengecut," teriakku sekali lagi.
Nafas tersengal menahan kekesalan. Tidak sabar lagi ingin melihat muka dia. Pasti banyak kebohongan yang tertera.
Klek, suara kunci diputar. Sedetik kemudian, ada sesosok orang mengintip.
"Shuuutt, jangan keras-keras. Nanti akan ketahuan." Bicara sepelan mungkin. Dia tidak berani keluar.
Menoleh ke arah samping rumah. Memastikan kalau tidak ada wartawan lagi. Sepertinya sekarang sepi dan aman. Mungkin saja mereka sudah pergi akibat kecewa pada Reyhan, yang tak kunjung jua bisa ditemui.
"Biarkan aku masuk sekarang. Kelihatannya aman semua. Jangan terus menghindar begini. Aku perlu penjelasan dari kamu."
__ADS_1
"Ii-iiya, sebentar dulu."
"Aaah, kenapa harus ditunda segala! Aku sudah tidak sabar. Cepat buka!" paksa kasar.
"Emm, baiklah. Sekarang cepat masuklah!" Secepat kilat dia menarik tanganku.
Jebret, dia menutup secara kasar. Lampu tidak menyala, sehingga beberapa ruangan kelihatan gelap. Hanya ada sorotan cahaya dari celah jendela. Wajah Reyhanpun sampai tidak terlalu jelas. Tapi dari suara yakin jika itu orang yang kucari.
Plak, reflek tangan langsung menampar. Tidak ada kesabaran lagi untuk tak memberi pelajaran. Menyimpan amarah sudah berhari-hari. Sepertinya dengan begitu dia akan tahu, kalau aku dalam tahap emosi tinggi.
"Maafkan aku, Dilla!" Hanya kata itu yang mampu terlontar dari mulutnya sekarang.
"Hah, apa? Maaf? Apa tidak salah? Setelah apa yang kau lakukan padaku sekarang? Kau memang manusia kurang ajar dan tak punya hati. Sudah berani-beraninya membuat masalah. Kalau ingin terkenal, tidak begini caranya," geram ingin terus memaki.
"Bukan begitu, Dilla. Ini tak sesuai yang kamu pikirkan. Walau sebenarnya dibalik masalah ini semua memang aku yang bersalah," Akhirnya dia mengakuinya.
Dada Reyhan kupukul-pukul kecil. Ingjn melampiaskan segalanya pada dia. Tangisan kian terisak pilu. Tak tahan lagi atas penderitaan ini. Orang yang kucinta jadi salah paham. Reyhan hanya bisa diam membisu. Pukulan terus kuat, namun dia hanya bisa bergeming sambil menerima dengan pasrah.
"Kenapa ... kenapa, kau lakukan ini padaku? Kesalahan apa yang kuperbuat, sehingga kau benar-benar menghancurkan kehidupanku."
Semakin menjadi-jadi perlakuan. Dia mencekal tangan ini agar bisa menghentikan pemukulan. Nanar tatapan itu, yang mulai berfokus ke arah wajahku.
"Maafkan, Dilla. Aku juga tidak menginginkan ini."
Plak, tambahan tamparan terdarat diwajah tampannya. Mendengarkan kalimat yang dia ucapkan, semakin bertambahlah emosi jiwa. Dia pikir aku bodoh, sehingga bisa percaya begitu saja akan penjelasannya.
Ketika gorden tertiup angin, memperlihatkan raut wajah Reyhan yang nampak penuh penyesalan dan sorot mata sayu kemerahan.
"Tidak menginginkan gimana? Jelaskan! Jangan berbelit-belit kalau bicara. Maksudnya apakah kau bukan pelakunya gitu? Lalu siapa kalau bukan kamu, sebab foto kenangan kita hanya kau yang pegang?."
__ADS_1
Reyhan masih membisu. Sepertinya ada yang membungkam rapat mulut itu. Jadi menebak ada sesuatu rahasia yang disembunyikan Reyhan dibalik kasus ini. Apakah dia disuruh orang atau ada pengancaman disini?.
"Cepat katakan! Jangan bisanya kau hanya diam begini. Apakah ini caramu menjelaskan semua? Kau sungguh tega, melihatku tersiksa," bentakku tak terima.
Dia semakin tak bisa berkata. Kepala menunduk tidak berani manatap. Rasanya sangat benci, bahkan ingin terus memaki. Wajah itu terus menyiratkan sebuah tak enak hati.
"Ayo katakan! Apa kau masih tidak ingin memberi penjelasan, hah! Dasar pengecut." Mantapku terus mengomel.
"Ak-kku, tidak bisa mengatakan sekarang apa alasannya. Yang jelas aku hanya bisa minta maaf sama kamu untuk saat ini."
"Aah, dasar b*jingan kau ini. Setelah berbuat salah bukannya mengakui tapi malah bikin rumit saja. Ok, kalau begitu. Jangan harap kau bisa berhubungan ataupun bertemu denganku lagi. Sungguh tak sudi rasanya jika melihat wajahmu yang penuh kelicikan itu. Selamat tinggal, bye!" Melenggang pergi dengan perasaan kecewa.
"Tunggu ... tunggu, Dilla. Jangan begini. Aku bisa jelaskan, tapi untuk saat ini tidak bisa." Tangannya sudah mencekal supaya menghentikan langkahku.
"Lepaskan!" bentak kasar.
"Aku mohon. Mengertilah untuk saat ini."
Dia semakin mencengkram tanganku kuat agar tidak pergi.
"Bulsit, atas kemauanmu itu. Jangan pernah sentuh aku lagi. Lupakan semua dan anggap kita tidak pernah kenal. You know?"
"Tapi, Dilla?"
"Ahh, sudahlah. Bosan bicara sama pecundang kayak kamu. Bisanya hanya menyeret orang dalam masalah kamu saja, tapi tidak ada rasa tanggung jawab sama sekali. Aku hanya bisa berdoa, semoga kau tetap beruntung."
Menepis kasar tangan dia. Kelihatannya semua ucapanku sangat jelas, sehingga dia tidak lagi menyusulku.
Kekecewaan sangat membekas dihati. Tidak menyangka jika orang yang selama ini kupuja akan berbuat tak baik. Memang sebagian orang kelihatan baik didalam, tapi siapa sangka dalam hatinya menyimpan sebuah kebusukan. Justru teman atau keluarga terdekatlah kadang adalah musuh besar kita tanpa tersadari. Mereka rela menghalalkan segala cara agar apa yang diinginkan tercapai.
__ADS_1