
Entah mengapa badanku terasa lemas bagai tulang-tulangku telah terlepas dari persendian, mungkin ini efek shock melihat Dio pergi akibat usiranku. Embun yang ingin menyeruak disudut mata, terasa sekali segera ingin meluncur namun sekuat tenaga kutahan. Belakang punggung Dio terlihat sudah hilang dari pandangan, dan terasa sekali dadaku sesak menahan sesuatu, yang entah tak tahu apa rasa itu.
"Dilla, kamu ngak pa-pa?" tanya Reyhan yang membuyarkan lamunanku saat menatap Dio pergi.
"Iya aku ngak pa-pa," jawabku lemah.
"Gimana dengan wajah kamu? Ayo kita obati dulu, sebab aku tahu kamu pasti kesakitan sekali atas kelakuan Dio yang memukul kamu babak belur begini," tuturku merasa kasihan melihat wajah Reyhan.
"Seessss, aku ngak pa-pa walau sedikit agak perih, sih!" jawabnya berdesis kesakitan.
"Ayo kita pergi untuk mengobati luka kamu," ajakku.
"Eeem, baiklah."
Kaki kini sudah melangkah keruangan rapat hotel. Kotak obat sudah berada disampingku yang sebelumnya kusuruh pegawai hotel untuk meminjamkan padaku. Muka Reyhan benar-benar hancur disekitaran wajahnya. Perlahan-lahan tangan mulai mengobati wajah Reyhan dari pelipis, hidung, dan sudut bibirnya yang sedikit pecah akibat pukulan kuat tangan Dio.
"Ssseeess ... awww ... aaa, pelan-pelan Dilla," keluh Reyhan.
Aku tak mengindahkan permintaan Reyhan, dan diri ini hanya sibuk mengoleskan obat secara perlahan-lahan, diiringi pikiran begitu melayang-layang atas ucapan yang telah kasar kulontarkan pada Dio tadi.
Nafasku mulai terasa sesak sekali untuk menghirup udara segar, yang entah mengapa rasanya itu begitu menyakitkan sekali. Tangan terus sibuk mengobati, yang tanpa terasa buliran airmata telah mengalir dan tak tertahan sudah pelan melewati pipi.
"Kamu kenapa, Dilla?" tanya Reyhan.
"Aku ngak pa-pa, Rey!" jawabku yang langsung mengusap lelehan airmata.
"Apa kamu menyesal atas tindakan kamu tadi, yang telah mengusir pengawal kamu sendiri?" tanya Reyhan heran.
Kepala hanya bisa kugeleng-gelengkan ke kiri dan kanan, dengan membisu tak menjawab pertanyaannya.
"Lha, terus kalau bukan karena dia, lalu kenapa kamu menangis? Atau jangan-jangan kamu tak rela dia pergi, sebab kamu sudah mulai ada perasaan kepadanya?" tebak Reyhan.
"Aku beneran ngak pa-pa, Rey. Kamu jangan ngacau kalau ngomong," jawabku lirih.
Kudongakkan kepala ke atas, agar airmataku tidak jebol oleh bendungan yang lebih banyak lagi akan keluar. Aku tidak boleh selemah ini, menangis hanya gara-gara masalah sepele, yaitu perpisahan dengan seseorang yang bahkan tak punya hubungan apapun denganku, selain keterikaran oleh pekerjaaan diantara kami.
Sepertinya Reyhan masih tak percaya atas ucapanku, saat dia menatapku terus-menerus dengan penuh keheranan.
__ADS_1
Kuatur nafas dengan menghirup udara secara baik-baik, agar bisa menghilangkan rasa sesaknya.
"Kenapa perpisahan ini begitu menyakitkan? Dan rasanya begitu sangat menyesakkan, dari pada saat aku kehilangan kakakku yang sudah meninggalkanku didunia ini. Dilla ... Dilla kamu jangan terlalu bodoh, tak ada alasan untuk bersedih pada Dio, yang seharusnya tak boleh kurasakan," guman hati menegaskan.
"Maafkan aku Rey, yang tidak bisa berlama-lama menemani kamu disini, sebab ada urusan penting yang harus kukerjakan sekarang," alasanku ingin pergi.
"Tapi sayang, aku tidak mau kamu pergi. Apa kamu tega meninggalkan aku disini dengan luka masih menganga sakit begini?" bujuk Reyhan.
"Aku tahu Reyhan, tapi maaf ... maaf sekali, aku kali ini benar-benar tidak bisa menemani kamu. Jika rasa sakitnya masih parah kamu bisa pergi kerumah sakit. Jadi sekali lagi maafkankan aku Rey," tekanku berucap, yang kini sudah berdiri agar segera bisa pergi.
"Tapi, Dilla!" cakap Reyhan yang masih ingin mencegah.
Tangan sudah mengambil tas dan beberapa berkas hotel, yang kuambil sebelum ada acara perkelahian tadi. Langkah terus saja maju tanpa menoleh kebelakang, saat Reyhan masih saja menatap heran ingin aku bersamanya. Pikiran sudah berkecamuk tak bisa berpikir jernih lagi. Entah mengapa otakku rasanya dipenuhi oleh rasa tak enak hati atas pengusiranku pada Dio.
Mobil sudah kuhidupkan untuk melaju kerumah. Sungguh bagaimana mungkin Dio bisa meninggalkan mobil begitu saja saat kuusir. Pikiran kini bernar-benar kalut, jika Dio benar-benar akan pergi dari hadapanku. Mobil kulajukan dengan kecepatan penuh, yang tak peduli lagi jika terjadi kecelakaan, sebab aku ingin sekali secepatnya sampai datang kerumah.
Ceklek, pintu depan rumah kubuka dengan tergesa-gesa, tanpa menutupnya balik. Kaki sudah berlarian kecil, menginjak anak tangga untuk sampai ke kamar.
"Dio ... Dio, maa---?" Suaraku tertahan saat melihat kamar ternyata sudah kosong, dengan lemari nampak terbuka lebar tak ada lagi pakaian didalamnya.
"Aaah ... haaah, mengapa aku begitu sesedih seperti ini? Apakah aku takut tak ada teman yang selama ini mengajakku bercanda, atau aku takut jika tak ada yang menjagaku lagi? Oh Tuhan, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku seperti tak rela Dio pergi dari hadapanku? Memang mulut kamu itu tadi sungguh-sungguh keterlaluan Dilla, mengusirnya dengan merendahkan harga dirinya. Sungguh aku tak ada niatan untuk memakinya, tapi emosiku begitu meledak tak tertahan, saat dia begitu marah ingin memukul Reyhan!" guman hati dengan linangan airmata yang semakin pecah, dengan dada kupukul-pukul kuat, akibat terasa ada himpitan batu besar yang menghujam dadaku.
"Dilla ... Dilla, kemana kamu? Keluar kamu sekarang?" Suara cempreng mama memanggil.
Dengan cepat-cepat kuhapus airmataku dengan tangan. Tubuh sudah kuusahakan untuk bediri tegak, untuk segera menghampiri Mamaku yang terus memanggil.
"Ooh, rupanya kamu disini! Ayo cepat ... cepat ikut mlMama sekarang!" ujar beliau sambil menarik tangan paksa.
Dengan kuat mama menarik pergelangan tanganku, untuk membawaku turun ke lantai bawah, dan betapa terkejutnya diri ini saat melihat adik laki-laki dan papaku telah menunggu duduk santai disofa ruang tengah. Wajah semua orang telah mengekspresikan kekecewaan, kemarahan, dan ingin mengintrogasiku.
"Duduk kamu?" ucap tegas Papa, tapi berucap penuh penekanan.
Dengan mulut membisu, kuturuti saja perintah papaku.
"Ya ampun, apakah Papa dan semua keluargaku telah tahu bahwa aku mengusir Dio? Aah ... mulut Dio ini memang begitu ember sekali main mengadu pada orang tuaku," guman hati merasa ketakutan jika papaku akan marah besar.
Braaak, sebuah i pad telah terlempar dimeja dengan kerasnya, sehingga membuatku terjingkat kecil saat mulutku terbungkam.
__ADS_1
"Lihat itu?" suruh Papa.
Dengan tangan sedikit gemetar, kuambil i pad yang terlihat seperti ada video yang harus kulihat. Mata begitu terbelalak kaget, saat video itu menampakkan tingkah pemukulan Dio dan Reyhan. Yang lebih membuatku shok, terlihat tanganku telah menampar Dio dan mengusirnya. Video itu begitu jelasnya merekam aksi kami, yang sedang bertengkar dan adu mulut.
"Haiiist, mati .... mati aku. Kenapa video ini bisa menyebar luas cepat sekali diinternet? Ahh, aku bakal kena semburan kamarahan Papa. Aduh, bagaimana dengan nasib Reyhan juga sekarang? Pasti skandal ini akan mencuat ke permukaan publik, dan bisa-bia menghancurkan karirnya," rancau hati gelisah, saat tangan memegang i pad melihat adegan-adegan dengan jelasnya tersajikan.
"Jelaskan itu?" pekik Papa bernada tinggi.
Akupun tersentak kaget, dengan kepala berusaha kutundukkan tak berani menatap sorot mata beliau yang begitu tajam kearahku.
"Iya Dilla, jelaskan pada kami. Apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa kamu begitu teganya mengusir Dio yang kami amanatkan untuk menjaga kamu. Lihatlah! Apa yang kamu lakukan? Dio benar-benar pergi tanpa berpamit pada kami lagi," saut Mama ikut marah.
"Bener itu, Kak. Kami minta penjelasan. Kak Dio begitu baik pada kamu, tapi kamu malah mengusirnya dan berani-beraninya membela artis itu, yang belum tentu dia itu baik. Aku yakin sekali, pasti artis itu yang salah bukan kak Dio," simbatan adik laki-lakiku yang kini ikut kesal padaku.
"Haaaisst," Pelototan mataku marah pada adik laki-laki, tak senang dia ikut campur.
"Jawab, Dilla?" bentak Papa lagi.
"Aku ngak tahu Pa, Ma!" jawabku santai.
"Apa?" jawab mereka bertiga kompak, sambil berekspresi terkejut atas jawabanku.
*******
Wuuuih ... terjadi perang antara Dio dan Dilla.
1. Apakah setelah diusir Dio akan kembali pada Dilla lagi?
2. Dilla mulai bucin nih, apakah masih ada harapan mereka akan bersatu?
3. Semua keluarga Dilla apakah akan marah besar pada Dilla? Dan hukuman apa ya, kira-kira pantas untuknya.
4. Mengapa Dio memukul? Rahasia apa yang disembunyikan Reyhan?
Ikuti terus kelanjutannya, dipart berikutnya akan menguak siapa Dio dan kenapa semua keluarga begitu marah besar pada Dilla.
Terima kasih yang telah mengikuti tulisan receh saya ini, kudoakan kalian selalu dilimpahkan rezeki, dan sehat selalu. amiin ya robal alamin😊.
__ADS_1