
Airmata terus saja meleleh, saat Joan menarik paksa dan mencengkram kuat lenganku. Tak kuasa rasanya meninggalkan Dio yang mulai berkondisikan lemah akibat terluka.
"Lepaskan dia!" cegah Dio.
"Ngak bisa. Kamu mau apa? Sudah terluka jangan banyak tingkah, deh!" jawab Joan, saat langkah kami masih belum benar-benar keluar dari kamar.
"LEPASKAN DIA," bentak Dio terdengar begitu emosi.
"Tidak akan," jawab Joan.
"Haaaaissst," Kekesalan Dio.
Dio sudah bangkit, dengan kedua tangan telah mengepal kuat, yang kelihatan ingin sekali menghabisi Joan dengan sebuah bogeman tangan.
"Dasar ... haaaahhh!" cakap Dio berlari menghampiriku.
Tanpa ba bi bu, tendangan kaki telah meluncur. Joan oleng tidak bisa menyeimbangkan tubuh. Bangkit kembali untuk melawan.
Braas ... bhugh ... bhuuugh, lagi-lagi perkelahian dua pria didepan mataku telah sengit terjadi.
"Aaaa ... awww," Suara kesakitan Joan, saat wajahnya bertubi-tubi terdaratkan hantaman pukulan yang dilakukan oleh Dio, dengan cara mengkunci duduk diatas perut Joan.
Tanpa ampun pukulan terlayangkan, membuat hidung, mulut, dan pelipis membiru diiringi mengucurnya darah keluar.
"Sudah Dio ... sudah, hentikan! Jika kamu melakukan itu terus, maka kamu bisa-bisa akan membunuhnya," cegahku dengan menahan tangannya yang kini tengah mengudara keatas, supaya Dio benar-benar menghentikan memukul.
__ADS_1
"Awas kamu, jika macam-macam lagi. Akan kubuat menyesal seumur hidup lebih dari ini," ancam Dio emosi, saat Joan telah terkapar terlentang tak berdaya di lantai.
"Ayo, Non!" ajak Dio, yang sudah menarik tanganku.
Tanpa ada ucapan dari kami, Dio masih saja mengandeng tanganku untuk segera cepat-cepat meninggalkan rumah Joan.
Sementara itu, kulihat lamat-lamat dari kejauhan Joan masih tekapar tak bedaya tanpa menghalangi kami untuk pergi.
"Kamu ngak pa-pa 'kan, Non?" tanya Dio khawatir sambil merapikan rambut yang sempat acak-acakkan, saat kami didepan pintu rumah Joan.
"Heem, aku sangat baik, Dio!" jawabku santai.
"Ayo kita cepetan pergi dari sini, sebab takut-takut kalau Joan akan berulah menghalangi kita lagi," ajaknya.
"Baiklah."
"Aaaaaaaa," erang Dio tertahan, terdengar seperti kesakitan parah.
"Ada apa, Dio? Apakah luka kamu masih sakit?" tanyaku panik, saat melihat Dio kini memegang kuat bagian perut kanannya.
"Aku ngak pa-pa, ayo kita pergi dari sini," jawabnya lemah.
"Iya ayo!" jawabku menyetujui.
"Aaaaaaaa," Lagi-lagi suara Dio kesakitan saat dia akan berdiri.
Heeeh ... hhhhhh, Suara hembusan nafas Dio ngos-ngosan secara kasar ketika wajahnya mulai memucat, dengan telapak tangannya terbentang terlihat penuh oleh noda darah, yang sempat untuk menahan lukanya tadi.
"Dio ... Dio, hei ... Dio!" panggilku panik disaat Dio mulai tak merespon perkataanku lagi, dengan mata mulai sayu-sayu terpejam.
__ADS_1
Bruuuuk, tiba-tiba tubuh Dio oleng ambruk ke samping kanan dan itu membuatku terkejut bukan kepalang.
"Dio ... Dio, bangun ... ayolah Dio bangun. Jangan buat aku ketakutan begini, Dio ... Dio!" panggilku berulang-ulang kali, sambil menepuk-nepuk pipinya secara keras dan kasar.
Berulang kali kupanggil namanya, namun Dio masih saja tak bergeming. Airmataku tiba-tiba mulai meleleh keluar, akibat kepanikan yang melanda didepan mata.
"Ayola Dio ... bangunlah, Dio ... Dio!" panggilku lagi berusaha membangunkannya.
Tangan berusaha tergesa-gesa untuk meraba-raba disekitar kantong celana Dio, supaya bisa menemukan gawainya yaitu agar dapat menghubungi pihak ambulan.
Dengan tergesa-gesa menekan tombol. Habis cepatnya sampai tidak melihat apakah yang kutekan adalah benar atau salah.
[Hallo pak, tolong datang ke alamat xxxx ini Secepatnya, ya pak! Sebab ini adalah keadaan gawat darurat]
Cakapku pada pihak pegawai rumah sakit, yang diiringi lelehan airmata yang sudah menganak sungai.
[Iya nona, kami secepatnya akan segera datang kesana] jawaban dari pihak mereka.
Ada perasaan lega, jika bala bantuan segera datang.
Tangan masih sibuk berusaha untuk membangunkan Dio. Rasanya hati ini begitu sangat ketakutan sekali, yaitu saat Dio tak kunjung jua membuka matanya.
"Dio ... bangunlah ... bangunlah Dio," panggilku sekali lagi, sambil meraba lukanya yang sudah mengalirkan banyak sekali darah keluar.
Akhirnya yang ditunggu datang juga, yang seketika semua pengawai ambulan kusuruh cepat-cepat mengambil tubuh Dio yang kian terlihat pucat pasi melemah. Badan Dio sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulan, dan aku hanya bisa ikut mengiringinya dari belakang agar bisa ikut serta dalam mobil ambulan.
Tanpa diduga saat kugenggam erat tangannya, tiba-tiba tangan Dio melemah terlepas dari genggaman tanganku.
"Tidak ... tidak Dio. Jangan pergi, aku tak mau kamu meninggalkanku sendirian disini, aku sangat butuh kamu, jadi kumohon bangunlah."
Stres menghampiri. Kekhawatiran itu menghujam perasaan menjadi campur aduk, hingga air bening yang terus mengalir hanya sebagai penyalur kata-kata, agar bisa melihat Dio kembali bangun.
__ADS_1
"Maafkan aku Dio, aku mohon jangan tinggalkan aku. Dio bagunlah, aku sangat mencintaimu, jadi tolong bangunlah jangan tinggalkan aku sekarang," Kepanikanku berkata dengan airmata begitu meleleh tak henti-hentinya membasahi pipi penuh sesegukan.
"Ya Allah, aku mohon selamatkan Dio. Beri kesempatan dia untuk menjalani hidup ini, biar aku bisa leluasa meminta maaf kepadanya. Perasaanku sungguh tersayat saat melihat kedaannya yang tak berdaya ini, rasanya aku ingin sekali berbicara banyak hal tentang kejadian kemarin dan masalah hatiku padanya, jadi aku mohon ya Allah, selamatkan Dio!" Doaku dalam hati meminta agar Dio selamat dari masa kritis.