
Aku hanya bisa berdiri mematung sendirian, saat Mama mertua dan Adik Dilla telah pergi, sedang sibuk menyapa para tamu dan keluarga mereka.
Mata hanya bisa clingak-clinguk memastikan Dilla, sudah menyusulku dalam acara ini apa belum. Acara begitu mewahnya dengan beberapa model telah siap untuk membantu memajukan perusahaan, dengan cara berlenggak-lenggok memperagakan baju keluaran produk terbaru.
"Hai Dio, apa kabar pengantin baru? Mau tos minum?" sapa seorang pria dengan memukul pundakku dari belakang.
"Joan? Kamu berada disini juga?" Kekagetanku.
"Hehehe, iya ini aku. gimana kabar kamu?" jawab Joan
"Boleh saja, tos."
Bunyi gelas berdenting. Minuman warna merah dan kuning menjadi penyegar tenggorokan. Kami memilih yang aman, walau ada beberapa yang mengandung akh*hol.
"Aku baik. Gimana kabarmu juga? Nampak segar saja nih!
"Alhamdulillah kalau begitu, bro. Ahhh, bisa saja. Aku merasa senang juga atas rasa kebahagiaan kalian, ketika pernikahan kalian berjalan lancar. Semoga langggeng dan selalu bahagia sampai maut menjemput," cakap doa Joan.
"Amiin, makasih Joan."
"Iya, sama-sama."
Diriku begitu tak menyangka jika Joan yang dulu pernah jadi saingan dan menculik Dilla, kini malah sangat baik dan mendoakan keutuhan rumah tangga kami. Dari kejauhan sambil berdiri, netra kami tengah asyik memperhatikan pertunjukan fashion show yang sedang berlangsung, dengan mulut sama-sama mengoceh membicarakan tentang masalah pria
Bhuuuugh, tiba-tiba seseorang telah menabrak tubuhku dengan menumpahkan minuman dibaju.
"Oh, maaf ... maaf, kamu ngak pa-pa?" tanya seseorang yang menabrakku barusan.
__ADS_1
"Iya, aku ngak pa-pa, kok!" jawabku saat dia berusaha membantuku membersihkan baju yang basah dengan tisu.
"Kamu? Kamu?" Kekagetan orang yang barusan menabrakku.
Netra mencoba melihat siapa gerangan orang yang menabrak, hingga dia kaget saat mengetahui diriku.
"Kamu?" Balik kekagetanku.
"Wah ... wah, hhhhh. Ternyata dunia ini begitu sempit sekali, ketemu oleh orang seperti kamu yang miskin dan tak tahu diri!" hina Reyhan.
"What? Apa yang kamu bilang?" ucap Joan yang tak terima.
Joan seketika meletakkan gelas sudah kosong ke nampan pelayan, yang sibuk berseliweran menawarkan pada tamu.
"Apa maksud kamu?" tanyaku tak mengerti.
"Iya, bener 'kan? Kalau orang didepanku sekarang ini sudah miskin, yang pastinya tak tahu diri dan malunya telah menikah dengan majikan sendiri. Dasar manusia tak guna, berani-beraninya cuma bisa nikung dibelakang," imbuh hina Reyhan
"Apa ... apa? Kamu jangan sok jagoan juga disini. Sama piciknya berani nikung pacar orang. Kalian adalah sama-sama pria brengs*k."
"Jaga ucapanmu. Apa tuh mulut tidak pernah disekolahkan." Joan semakin mencengkram kuat kerahnya.
Reyhan kelihatan mulai sulit bernafas. Bisa bahaya kalau dia akan celaka. Bukan tidak berani, namun banyak pasang mata akan kepo memperhatikan.
"Sudah ... sudah, jangan diteruskan. Lepaskan saja dia Joan, tak ada gunanya kita emosi sama dia. Lihat! Sudah banyak orang tengah memperhatikan kita," cegahku pada Joan yang sudah ada api kemarahan.
Karena tak ingin ada keributan lebih lanjut lagi, akhirnya Joan menurut saja atas perkataanku, dan kini kuusahakan menarik Joan agar kami bisa menjauhi Reyhan.
"Ada apa dengan kalian, hah! Apa kalian takut berhadapan denganku?" teriak kuat Reyhan mencoba membuat ulah.
__ADS_1
Semua mata para tamu kini telah melihat ke arah Reyhan dan kami. Entah apa lagi yang akan dilakukan Reyhan sekarang ini, yang jelas dia sudah berlari menjauhi kami, dengan cara sudah naik panggung untuk merebut mic pembawa acara untuk diambilnya.
"Tes ... tes, minta perhatiannya sebentar untuk para tamu yang ada disini, sebab saya akan menceritakan sebuah kisah yang aneh dan tak patut kalian contoh, yaitu kisah pemilik perusahaan fashion ini telah berani memilih orang yang salah. Apakah kalian tahu pria yang berjas cream di tengah-tengah kalian, itu? Pasti kalian tidak tahu 'kan, maka dari itu aku akan memberitahu kalian. Dia itu hanyalah seorang pengawal b*jing*n dan tahu tahu malu, sudah berani-beraninya telah menikah sama majikan sendiri. Gimana menurut kalian? Aneh 'kan? Masak status hanya seorang sopir, bisa menikah sama majikan yang cantik dan kaya dari perusahaan ini. Menurut kalian apa ya, kok bisa begitu? Apakah jangan-jangan dia itu memakai jimat ataupun pelet, supaya dapat menikah dengan orang kaya? Wah ... wah kalau begitu, dia itu benar-benar manusia tak tahu diri dan malu, hahahahha. Dasar pria miskin yang tidak ada rasa malu dan tak tahu diri," caci maki Reyhan yang ditujukan padaku.
Diriku hanya bisa terdiam mematung, dengan kedua tangan telah mengepal kuat ingin menonjok wajah si br*ngs*k Reyhan itu. Tapi apalah dayaku sekarang ini, saat semua mata tertuju hanya padaku akibat dipermalukan.
Bukan aku tak ingin melawan, tapi diri ini sadar diri bahwa ini adalah acara istri tercinta, yang tak mungkin aku telah mempermalukannya dengan menghancurkan acara mewahnya ini. Joan sudah berusaha berjalan ingin menghampiri Reyhan, namun seketika itu pulak aku mencekal tangannya agar tak membuat keributan di acara ini.
"Kenapa Dio? Kamu kok Diam saja? Apa yang kukatakan semuanya adalah benar, hah ... hah? Hingga kamu malu sekali untuk melayaniku sekarang ini?" imbuh hina Reyhan yang tak sabar ingin menantangku.
Kerena tak ingin mencari gara-gara dan dipermalukan lebih dalam lagi, kini aku berbalik badan untuk menuju jalan keluar. Tapi saat langkah ingin mulai berjalan, tiba-tiba tangan telah dicekal seseorang.
"Kamu ngak usah pergi, aku ada disini untukmu!" Suara Dilla yang sudah datang mencegahku, supaya mengurungkan niat pergi.
Tanpa berbalik badan lagi, aku masih berdiri mematung dengan perasaan malu, marah, sedih, kecewa, sakit hati, dan pastinya sudah tak punya muka lagi.
Plaaaak ... plaaaak, terdengar suara tamparan keras sekali sampai ditelinga, dan aku tak tahu apa yang sedang terjadi dibelakang badanku sekarang ini, sebab aku sudah tak ingin melihat drama apalagi yang dilakukan oleh Reyhan, karena diri ini sudah tak bisa mengangkat wajah lagi, saat mukaku telah dicoreng dan sangat dipermalukan.
"Maafkan kami para tamu, atas kekacauan yang telah terjadi sekarang ini. Apa yang dikatakan oleh pria buaya br*ngs*k yang suka selingkuh ini adalah benar, tapi asalkan kalian tahu bahwa aku dan suamiku sekarang ini, kami sangatlah sama-sama saling mencintai. Walau dia dulu adalah pengawal dan sopirku, apakah salah dengan status itu? Bukankah cinta tak memandang status seseorang, jika cinta telah tumbuh di hati kami. Aku tak mencintai akan status suamiku yang miskin, tapi aku mencintainya karena ketulusan hatinya yang telah ikhlas mencintaiku. Duniaku tak perlu akan harta yang banyak, sebab aku hanyalah butuh cintanya yang tulus mencintai. Terima kasih suamiku, kau telah hadir dalam hidupku, kau telah menjadi bagian hidupku sekarang ini, kau telah menghiasi hari-hariku dengan warna kebahagiaan, kau telah memberikan hatimu hanya untukku seorang, terima kasih kau telah mencintaku. I LOVE YOU, sayangku mas Dio!" ungkapan hati istri yang telah membela.
Hati begitu trenyuh bergetar tak bisa berkata apa-apa lagi, dengan posisi masih sama tak berbalik badan menatap ke arah Dilla dan Reyhan.
"Dan untuk pria bermulut ember ini. Hello pak Reyhan, apa kamu sudah hilang urat malu, saat kamu telah menghamili anak orang, hingga karir kamu sekarang hancur habis tak tersisa lagi. Seharusnya kamu itu sadar diri telah nyungsep jadi orang miskin yang tak punya apa-apa lagi, atau jangan-jangan kamu sekarang sudah jadi gembel mau minta makan dan ngemis pekerjaan disini, hah! Dasar orang kismin belagu dan sombong amat, pergi sana! Sebelum aku usir secara kasar dari sini," ucap bentak kemarahan Dilla pada Reyhan.
"Kamu? Kamu, awas kamu Dilla?" Suara kemarahan Reyhan tertahan.
Semua orang bersorak kesal sama Reyhan. Ternyata pembelaannya membuat semua orang tahu, cinta tak memandang status.
Terdengar suara deru langkah kuat sekali berjalan menghampiriku,, yang masih mematung tak percaya. Rasanya aku kini benar-benar drop dengan pikiran kalut serta malu, atas apa yang dikatakan Reyhan tadi.
__ADS_1
"Awas kamu, Dio! Bhuuuugh," Kemarahan Reyhan menyenggol bahu belakangku dengan kuatnya.
Saat Reyhan sudah pergi berjalan menjauh, kini aku juga berusaha berjalan keluar, untuk pergi menghindari tatapan orang-orang yang masih melihat aneh kearahku. Selain itu aku terpaksa harus keluar akibat malu bukan kepalang lagi, hingga kini harus bisa menenangkan diri dulu untuk menjauh dari orang-orang yang mungkin sudah berpikiran aneh terhadapku.