
Setelah pria aneh bernama Ziko pergi, akupun sudah tak fokus lagi dengan pikiran melayang-layang, sebab penasaran sekali atas apa yang ada pada diri Ziko. Wajahnya sungguh tak asing lagi dalam ingatanku, tapi anehnya kenapa otak ini tak berkerja sama sekali untuk mengingatnya.
"Ada apa, Dio!" tanya Dilla.
"Ngak ada apa-apa, sih! Cuma aku masih penasaran banget sama orang yang bernama Ziko tadi. Aku seperti pernah kenal baik sama dia, tapi anehnya aku benar-benar tak bisa mengingat siapakah dia," jawabku.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Mungkin kamu sering melihatnya, tapi tak tahu siapakah dia, atau tak sengaja ketemu dimana gitu!" Dugaan Dilla.
"Mungkin saja."
Masih ada keraguan, tapi berusaha kutepis. Perasaan tidak enak.
"Duh, capeknya!"
"Ada suami disini, pasti capeknya hilang 'lah!" godaku.
"Mana ada, malah bikin capek saja."
"Hah, masak sih. Emang aku ngapain kamu? Perasaan ngak ngajak olahraga malam-malam juga."
"Dih, emang itu melulu yang bisa bikin capek."
"Lah terus?"
"Capek sebab kamu ngajakin ngobrol terus."
"Hadeh, masalahnya itu dimana? 'Kan wajar kalau mengajak kamu berbicara."
"Iyalah, capek jawabnya. Kamu itu kadang cerewet melebihi emakku. Bikin panas kuping kalau sudah berbicara."
"Tapi suka 'kan? Kalau sudah diam bakalan kangen juga nanti."
__ADS_1
"Enggak juga, kamu diam lebih kusukai, tapi harus beri pelukan hangat, hehhehe!"
"Dih, mulai keluar bar-barnya 'kah ini?"
"Kan ngak pa-pa minta sama suami sendiri. Bahkan minta lebih dari itu boleh 'kan?"
Bibir Dilla sudah monyong, yang mengoda minta segera disosor balik.
"Dih, genit amat jadi cewek. Beeer, geli lihatnya."
"Hahaha, bisa juga ternyata menolak."
"Kamu yah. Sukanya mengoda juga."
Tangan mulai mengelitik, dan Dilla tanpa henti terus tertawa lepas. Dia terus saja minta ampun, namun semakin menjadi-jadi jari ini mengerjai perutnya. Sampai akhirnya dia tidak bisa tertawa lagi, maka tangan cepat berhenti sebab melihat dia yang kasihan terengah-engah nafas.
"Sekarang beli'in aku kopi dong, yayankku Dio. Huaaah ... huaah, ngantuk benget nih rasanya! Sementara kerjaan masih numpuk aja ini! Ngak pa-pa 'kan aku menyuruh kamu? Lagian orang yang ngangur sekarang adalah kamu," pinta Dilla.
"Makasih, ya. Kamu memang suami terbaik!"
"Sama-sama. Kalau begitu aku pergi berangkat sekarang, ke kedai kopi kesukaan kamu dulu," ujarku berusaha pamit.
"Iya, hati-hati."
"Hmmm."
Kaki kini tengah mencoba berjalan menyusuri jalan, untuk menuju kedai kopi didepan kantor istri. Tak masalah diri ini untuk memenuhi permintaan istri. Bukankah seorang suami berkewajiban menolong istrinya yang sedang kerepotan. Suami istri harus saling membantu saat sedang kesusahan, maupun ada pekerjaan yang tak bisa dilakukan oleh seorang dirinya sendiri. Langkah telah usai mengerjakan apa yang menjadi tugasnya tadi, yaitu membelikan minuman pereda ngantuk pada istri.
Kedai selalu ramai. Sudah banyak atrian. Tidak menjual kopi saja, sambil menunggu maka tangan sibuk memilih beberapa camilan, semoga atrian cepat selesai. Dirasa sudah tidak ada yang membeli, segera memesan dua kopi dicampur susu.
Berjalan santai sambil menjijing apa yang barusan dibeli. Beberapa kali kutenteng ke atas, memastikan kalau istri bakalan suka apa yang terbeli.
__ADS_1
Byaaaaar, tiba-tiba lampu dalam gedung Dilla telah padam seluruhnya.
"Haiiist, sial*n. Kenapa harus mati semua lampu. Bhug!" umpatku kesal dengan membuang kopi yang barusan dibeli.
Secepat kilat kaki telah berlari, untuk mencoba menghampiri Dilla yang tengah sendirian dalam ruangan kantornya dalam keadaan gelap gulita.
"Tek ... tek. Aaaaah, sial ... sial. Kenapa lift tak bisa membantu," Kepanikanku yang kalut ingin naik lif tapi tak bisa dihidupkan, akibat lupa bahwa listrik telah padam.
"Tangga?"
"Iya, aku harus menggunakan itu sekarang."
Dengan tergesa-gesa kaki sudah berlari secepat kilat, untuk segera menaiki anak tangga darurat. Tak kupedulikam lagi berapa anak tangga yang harus terlompati dengan cara berlarian kecil-kecil, sebab dalam pikiranku sekarang adalah secepatnya sampai keruangan Dilla.
Dert ... dert, tiba-tiba gawai telah bergetar, yang sudah nampak tertera nama Dilla didalamnya.
Klik, kugeser gawai untuk mengangkatnya.
[Dio ... Dio, ayo cepetan datang kesini. Aku takut sekali ini]
Rasa suara bergetar Dilla, yang kelihatan sekali bahwa dia benar-benar dilanda ketakutan.
[Iya ... iya, aku akan datang. Kamu tenang disitu, jangan kemana-mana, sebab aku sudah mau datang dengan cara menaiki anak tangga]
[Iya. Bruaak ... bruaaak. Aaaaaaccchhh, DIO]
[Hallo Dilla ... hallo]
"Haaaah ... aiiisssst, Sial!" umpatku kesal.
Langkah kini semakin kepercepat, akibat sudah begitu khawatirnya terhadap keadaan Dilla, yang mana terdengar suara teriakan setelah ada dobrakan pintu yang memaksa masuk ruangannya.
"Aaaah ... awww ... aaa!" Suaraku kesakitan saat jatuh menaiki anak tangga.
__ADS_1
Dalam benakku sekarang adalah menolong Dilla, yang tak memperdulikan lagi atas luka kaki yang kemungkinan telah berdarah