Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Dicuekkan


__ADS_3

Entah mengapa aku melakukan ini dengan perasaan pasrah namun berat. Apakah ini ada kaitannya dengan kekhawatiranku atas melayani kewajiban sebagai istri, yang sedangkan diri ini belum siap sama sekali.


Dio yang mengurus semuanya termasuk chek in, sementara aku hanya menunggunya mengiringi dari belakang. Sekitar setengah jam lagi pesawat baru datang, sehingga kamipun terpaksa menunggu diruang tunggu, yang sudah ada dibandara.



"Mau minum?" tawar Dio menyodorkan sebotol minuman teh.


Tanpa menjawab perkataan darinya, langsung kucomot saja pemberian itu. Bukannya dia marah, malahan Dio tertawa menyeringai kecil ke arahku.


"Iiiich, apa-apan sih Dio ini? Memang ada yang lucu diwajahku? Dari sembari tadi tertawa ngak jelas melulu," guman hati meminum teh botol, sambil mata melirik ke arah Dio yang duduk disampingku.


Banyak juga yang sedang menunggu pesawat. Walau kami telah sah sebagai pasangan, namun sikap masih seperti biasa. Bahkan jarak masih membatasi sikap kami. Tidak ada sama sekali kemesraan. Sempat iri melihat dibeberapa bangku yang ada pasangannya. Rasa bosan dan kelamaan menunggu, membuat para pasangan bermesraan menyandarkan kelapa, berpegangan tangan, mendengarkan lagu berdua. Harap dimaklumi, mungkin tidak ada rasa cinta hingga terasa beku saja diantara kami.


"Hei, permisi. Kalau boleh tahu kamu Dio 'kan?" tanya seorang perempuan yang kini berdiri tepat didepan kami.


Kutatap wanita yang menyapa Dio, dari ujung mata kaki sampai rambut. Cantik juga, tapi agak pendek orangnya. Dari cara berpakaian, kelihatan mampu memikat banyak pria. Riasanpun cukup tebal, hingga siapapun yang melihat bakalan ijo saja tuh mata.


"Ya ampun, siapa perempuan didepanku ini? Kok kenal Dio?" guman hati bertanya-tanya.


"Benar, aku Dio. Kamu? Kamu?" tanya kebingungan Dio.


Telunjuk mencoba menerka. Wajah Dio seperti ingin mengingat-ingat.


"Aku Maya, teman kamu. Masak sudah lupa, sih!"


"Maya? Sedikit lupa."


"Waah ... wah, kamu tampan sekali sekarang," puji perempuan itu yang membuatku sedikit kesal.

__ADS_1


"Terima kasih atas pujiannya. Maya? Ahaaaa, Maya yang teman sekolah SMP dulu 'kah ini?" imbuh Dio masih binggung.


"Iya, ini gue. Masak sudah lupa? Padahal dulu kita sering sama-sama lho, yang pastinya banyak kenangan manis diantara kita," jawab perempuan bernama Maya.



Dih, berasa ganjen. Gaya bicara muak mendengarnya. Enye-enye, kayak disengaja centil.


"Haiiich, benar-benar Dio ini. Sok sangat akrab sekali kamu. Tapi, kata tadi teman lama. Hmm, wajar sih kalau dekat. Kenapa aku jadi sewot begini?"


Membalas sumringah. Ramah tapi bikin mood jadi berantakan. Dio duduk menghadap wanita itu. Berbincang yang menurutnya semakin seru.


"Aaah, dan sekarang berani sekali kamu sekarang anggurin diriku, mentang-mentang telah ketemu sama teman," Kekesalanku dalam hati.


Tangan bersedekap. Ingin rasanya memberontak dan mengacaukan pertemuan mereka.


"Waah, aku benar-benar tak mengenali kamu lagi. Sebab dulu kamu itu sedikit cupu, dan sekarang ck ... ck cuantik banget," puji Dio.


Jaripun tanpa ragu, langsung saja mendaratkan cubitan keperut Dio, dan kini nampak sekali wajahnya mringis akibat kesakitan. Akibat ulahku, seketika wanita bernama Maya yang agak berpakaian sexy, menatap kearahku dengan sorotan matanya penuh selidik.


"Ini siapa?" tanya Maya menujuk ke arahku.


"Ooh, dia. Ini adalah istriku namanya Dilla!" jawab Dio dengan jujur.


Wajah wanita itu mengkerut. Dari tebakan seperti heran dan tidak suka.


"Hehehe, kenalan dong! Aku istri sahnya Dio yang tak kalah cantik juga lho. Iya ... ya 'kan, sayang!" cakapku cegegesan menyodorkan tangan untuk berkenalan, yang memuji diri sendiri.


__ADS_1


Dio tidak berkata apapun, dengan sikap tenang dan juga senyum tetap menghiasi bibirnya. Sungguh merasa bingung dan juga heran dengan sikap Dio yang begitu tenang. Aku pikir dia akan marah, sebab ketara kalau tidak menyambut baik si Maya.


"Ooh, salam kenal juga. Namaku Maya, teman satu sekolahan sama Dio dulu," jawabnya yang menyambut hangat tanganku, namun berbanding balik denganku yang kesal menyambutnya, yaitu langsung meremas tangan Maya secara kuat.


Kelihatan sekali Maya tak senang atas perlakuanku, tapi aku tak mau ambil pusing atas tindakan barusan padanya, sebab hati rasanya begitu dongkol saat Dio berani-beraninya memuji atas kecantikan orang lain.


Pengumuman atas kedatangan pesawat, telah melepaskan jabatan tangan kenalan kami. Tanpa banyak kata kutarik kuat lengan Dio, agar segera ikut naik pesawat yang sudah datang. Rasanya eneg sekali melihat wanita bernama Maya tadi, sedangkan Dio happy-happy saja atas pertemuan mereka.


"Bye ... bye," Lambaian tangan Dio berusaha pamit pada temannya itu.


Karena tingkah Dio yang ngeselin, lengannya semakin kutarik kuat-kuat, sampai-sampai dia kewalahan mengikuti langkahku.


Bobot tubuh langsung kubanting ditempat duduk pesawat, dengan tangan langsung memasang sabuk pengaman. Sementara Dio sibuk menaruh tas dibagasi badan pesawat, dengan netranya terus saja memperhatikan wajahku yang tengah melihat pemandangan luar dari kaca badan pesawat.


"Kamu kenapa sih? Muka kok kelihatan ditekuk begitu? Apa ada hal yang telah kulakuin salah?" tanya Dio yang penasaran.


Pertanyaannya tak kujawab, yang mana mata terus saja melihat pemandangan luar. Enggan berdebat. Ujung-ujungnya akan ada pertengkaran diantara kami nanti.


"Hai Dio?" Suara sapa seseorang yang kukenal.


Betapa terkejutnya diri ini , saat perempuan pemikat bernama Maya ternyata satu pesawat dengan kami.


"Maya?" Keterkejutan Dio.


"Wah ... wah, kita beruntung dipertemukan dalam satu pesawat. Aku senang sekali lho ketemu sama kamu lagi, sebab rindu pengen ngobrol banyak sama kamu," cerocos Maya sok kecentilan.


"Aku juga sama!" jawab Dio dengan mudahnya.


"Haaaaissst, kamu Dio. Berani ya goda cewek didepan mataku, walaupun Maya itu adalah teman kamu. Dasar playboy, lihat yang bening saja langsung gercep."

__ADS_1


"Awas saja kamu Dio. Honeymoon ini tak akan bahagia, namun akan kubuat seperti kapal pecah. Akan kubuat perhitungan sama kamu, yaitu atas mudahnya kamu tergoda oleh perempuan yang lebih cantik dan memikat dari pada diriku. Hahahah, nanti akan kucincang kamu sampai mati, biar kamu tahu bagaimana rasanya membuat hatiku dongkol. Berani kali kau tersenyum sumringah bersama wanita lain! Awas ... awas ... awas, kamu bakalan mati sampai ke hotel nanti," Kekesalanku dalam hati akibat Dio tengah berbincang-bincang serius, dan tertawa ria bersama temannya, yaitu saat Maya duduk disamping kursi kami.


Akibat kesal, telinga kusumpal pakai handset dengan mata kututup oleh buku panduan dari pesawat. Walau aku berpura-pura tidur dan tidak mendengarkan percakapan mereka, tapi perlahan-lahan aku telah menguping, akibat kepo apa yang sedang mereka bicarakan sampai bisa tertawa riang, yaitu saat tanpa diriku yang sudah tak dianggap olehnya.


__ADS_2