
Sedikit Review part
Ternyata suamiku Dio sangat baik dan penurut, tak salah Allah telah memilihkan jodoh yang terbaik untukkku. Kerjaan sekarang hanya bisa duduk dikursi kebesaran, sambil tangan sibuk mengecek berkas-berkas yang harus segera ditanda tangani. Mata sudah tak tahan lagi untuk tetap terjaga, yaitu saat ingin kopi yang segera kuminum masih dibelikan oleh Dio.
"Huaaah ... huaaah," Mulutku yang berkali-kali menguap.
"Duh, mata. Kenapa kamu ngak bisa diajak kompromi sekarang? Kerjaan masih numpuk nih, jangan ngantuk sekarang," Berbicara pada diri sendiri.
Berusaha menahan mata yang pedih, agar tetap terjaga. Jangan sampai ketiduran, sebab ada beberapa berkas yang harus dibuat rapat besok pagi-pagi. Malam ini semuanya harus siap.
Dengan perasaan terkejut tiba-tiba saja lampu seluruh perusahaanku mati semua. Lampu senter yang ada di handphone secepatnya kuhidupkan, untuk menerangiku melihat-lihat keadaan sekitar.
"Duh, kenapa kok bisa begini? Tidak biasanya mati mendadak. Iiih, mana gelap banget ini. Kenapa lama banget sih Dio membeli kopi?" Ada perasaan yang mulai ketakutan.
Tangan berusaha mengeser layar untuk menelpon suami, yang dari sembari tadi belum kembali.
[Hallo Dio, cepetan kembali kesini! Aku takut sekali nih! Sebab disini gelap sekali]
Klek ... klek, suara ganggang pintu ruanganku sepertinya telah dipaksa untuk dibuka, yang mana untung saja Dio tadi sigap mengkuncinya sebelum pergi membeli kopi. Dio memang pintar yang seakan-akan tahu sekali bagaimana untuk melindungiku, yaitu dengan cara mengkunci pintu ruangan kantor dari luar.
"Hah, siapa itu? Kenapa dia ingin membuka pintu? Aah, apa dia orang jahat? Kalau dia pegawaiku, kenapa tidak mengetuk pintu secara sopan? Duh, pasti ini beneran orang jahat. Dari gelagat, dia ingin secepatnya membuka."
[Dio, ayo cepetan kesini! Aku beneran takut nih. Sepertinya ada orang yang ingin memaksa masuk keruangan kerjaku]
Suaraku ketakutan dengan mimik bibir bergetar, saat ganggang pintu terus saja bergerak-gerak dipaksa terbuka.
[Apa? Aku akan segera kesana, jangan kemana-mana. Cari tempat yang aman untuk bersembunyi dulu]
__ADS_1
[Emm, baiklah]
Bruk ... bruuuuk ... bruk, suara tendangan kaki ke pintu telah mengema terdengar menakutkan.
Sebab takut aku langsung saja bringsut bersembunyi dibawah meja kerja dengan memeluk erat kedua lutut, akibat ketakutan yang luar biasa sedang melanda.
[Hallo ... hallo, Dilla?]
Bruuuuuaaaakkkk, sekali tendangan terdengar pintu sudah rusak akibat dibuka secara paksa.
[Hallo ... hallo, Dilla?]
Karena tak ingin diketahui oleh orang yang telah berhasil menerobos pintu, handphone telah kuputus dan matikan segera. Mulut sudah kututup rapat dan erat dengan tangan, agar tak dapat mengeluarkan suara. Bulir-bulir keringat mulai membasahi plipis, akibat ketakutan yang sudah super akut gemetaran.
Sreek ... sreeek, suara benda besi telah mengesek lantai begitu nyaringnya terdengar.
"Hei ... hei, wanita si*l*n dimanakah kamu? Dimana kamu, hah?" Suara seorang pria telah mencariku.
"Ayo Dio ... ayo datang selamatkan aku. Sungguh, aku sekarang takut sekali atas suasana ini. Ayo Dio datanglah!" pintaku dalam hati dengan mulut kubekap terus, hingga lelehan airmata tanpa terasa terus saja mengalir.
Sebuah penerangan lampu berwarna putih telah mulai dekat dan lama kelamaan semakin dekat saja dimeja kerjaku, yang sudah ada diri ini tengah bersembunyi dibawahnya. Takut kini membuat bulir-bulir tetesan keringat sudah semakin sebesar-besar jagung.
"Ya Allah, selamatkanlah aku. Datangkan Dio secepatnya untuk menolongku. Jangan sampai orang ini menangkapku," rancau hati yang ketakutan.
"BAAAA," ucap orang yang sedang mencariku.
Plaaaggk, sebuah benda besi terdengar memukul kuat diatas meja kerjaku, hingga akupun terjingkat kaget ketakutan.
__ADS_1
"Wah ... wah, aku cari kamu ternyata bersembunyi disini! Sini kamu ... sini, perempuan si*lan," pintanya memaksaku untuk keluar.
Hanya geleng-gelengan kepala kuat kini telah kuberikan, sebab aku tak mau menurut begitu saja, oleh orang yang aneh dengan berpakaian serba hitam menggunakan penutup wajah, hanya bisa menyisakan nampak mata dan mulutnya saja.
"Ayo cepat, sini! Dasar kamu ini! Akan kubuat perhitungan sama kamu, perempuan br*ngs*k," ucapnya marah-marah sambil menarik tanganku secara kuat agar diri ini mau keluar.
"Lepaskan aku! Kamu siapa? Aku tak mau menuruti perkataan kamu untuk keluar dari sini," jawabku berani dengan tangan berusaha kutarik balik, tapi naasnya aku kalah tenaga dengan pria yang memaksaku sekarang.
"Banyak b*c*t kamu, ayo cepat keluar!" suruhnya paksa, yang kini telah berhasil menarikku hingga tubuh keluar dari persembunyian dibawah meja.
"Dasar perempuan j*l*ng dan br*ngs*k, mulai sekarang akan kubuat perhitungan sama kamu," ujarnya yang kini mencengkram rambutku secara kuat, hingga kepala terpaksa terdongak ke atas, menatap tajam mata pria yang berusaha mencelakaiku.
Byaaar, tiba-tiba lampu yang tadi sempat mati kini telah menyala menerangi tubuh orang yang sepertinya akan berbuat kasar padaku.
"Apa yang kamu inginkan? Aku tak kenal sama kamu. Jadi katakan apa yang akan kamu inginkan sekarang?" tanyaku berusaha mengajak bernegosiasi.
"Kamu ngak usah banyak b*c*t dan tanya, apa yang kuinginkan sekarang? Yang jelas aku akan balas dendam dan menguliti tubuh kamu dengan benda tanjam yang kupegang sekarang ini," jawabnya yang kini mengoleskan pisau perlahan-lahan dipipiku, mungkin dengan maksud agar dia bisa menakut-nakutiku.
"Lepaskan aku, kumohon! Kalau kamu minta harta aku bisa memenuhi apa yang kamu inginkan, yaitu berapapun yang kamu minta, asalkan aku minta dilepaskan," imbuh ucapku berusaha mengajak negosiasi lagi.
"Tak semudah itu, apa yang kamu minta sekarang. Harta bukanlah tujuan utamaku, sebab yang kuinginkan adalah penderitaan yang akan kamu alami mulai sekarang, yaitu dengan cara menghancurkan dan menyakiti kamu perlahan-lahan, PAHAM!" bentaknya melengkingkan suara, yang tak mau diajak negosiasi.
"Aku kumohon, aku tidak kenal kamu dan tak ada urusan sama kamu!" pintaku yang sudah berderaikan airmata.
Tangan bertangkup, berusaha untuk terus memohon. Kelihatannya dia tidak ingin memberikan kesempatan sedikitpun.
"Apa? Tidak kenal? Dasar j*l*ng, kamu kenal aku lebih dari siapapun, paham! Semua kebahagiaanku telah kau hancurkan, dasar perempuan si*l*n. Plaaak ... plaak," ucapnya menjelaskan sambil menampar pipiku sebelah kanan dengan keras yaitu dua kali.
__ADS_1
Rambut sudah acak-acakkan tak berbentuk lagi, akibat tamparan yang begitu kuatnya telah mendarat hingga kini telah terasa sekali panas nyut-nyutan.
"Kamu tak akan kubiarkan lepas begitu saja, haaah! Plak ... plaaaaak," ancamnya yang menambah tamparan lagi.