
Wajah fokus pada makanan, namun sering kali mencoba mencuri-curi dan melirik ke arah Dio, yang terus saja memperhatikan ke arah diri ini makan. Wajahpun tak luput jua terus saja tersenyum-senyum, akibat pikiran telah membayangkan kejadian yang aneh tapi lucu yang tadi sempat terjadi.
"Duh, kayaknya Dio kali ini akan marah besar. Kenapa juga sih dia makai handuk melilit saja tadi, 'kan jadinya tangan jahil ini jadi melorotin."
"Kalau teringat bikin sakit perut aja sih, hahaah! Tapi kok geli juga melihatnya," Guman hati yang terus ingin tertawa.
Sehingga akupun sekarang ini sekuat tenaga menahan tertawa, agar suamiku Dio tak semakin marah.
"Ooh, ya Dio ... ooo!" ucapku yang berusaha mengajak berbicara, untuk memecahkan kecanggungan ini.
Ucapanku seketika terhenti, saat suami masih saja menatapku dengan penuh ketajaman atas netranya itu.
"Ada apa?" jawabnya lembut namun tegas.
"Untuk masalah yang tadi ... yang tadi, aku minta maaf!" jawabku pelan akibat rasa tak enak hati masih menyelimuti.
"Kenapa? Yang mana? Apa ada yang perlu dimaafkan?" jawabnya datar
"Ye elah, masak lupa. Ya, tentunya yang masalah pagi tadi 'lah, memang kamu setuju aku menatap itu terus," jawabku ketus sambil mulut menahan senyum.
"Kamu ini! Haaah ... hhhaaah, bikin malu aja," Kekesalan Dio menjawab, dengan tangan mengenggam erat telapak tangan akibat emosi yang tertahan.
"Ooh, ternyata kamu bisa malu juga, 'kan ngak sengaja juga tadi. Hahahaha," tertawaku lepas.
"Bisa diam, ngak! Awas kalau nanti masih membicarakan ini terus." Kedongkolan Dio yang mulai kesal dan marah.
"Enggak bisa, hahahha! Sungguh kamu lucu banget Dio, baru kali ini aku lihat kecoa sebesar itu, hahahha!" ujarku tertawa lepas.
Tidak bisa diam, sampai tak terasa mengeluarkan airmata, akibat terbayang kelucuan yang luar biasa terjadi.
"Haiiiist, ini orang. Walau kecoa yang kamu lihat itu lucu, tapi kamu sudah merasakannya 'kan ... 'kan? Gimana rasanya? Pasti kamu menikmatinya tadi malam," tanya Dio yang kini berbalik membuatku tersipu malu.
__ADS_1
"Iiiich, ngak juga segamblang itu bertanyanya. Udah 'ah, lupakan itu semua. Lagian aku kagak tahan untuk tertawa terus jika mengingatnya," sahutku menahan tawa.
"Mau kemana? Makanan belum habis nih!" cegah Dio dengan mencekal tanganku supaya berhenti berjalan.
"Mau cuci mata saja. Sepet lihat muka kamu. Tidak bisa diajak kompromi untuk bercanda" jawabku ketus.
"Benarkah? Sepet-sepet, tapi suka 'kaaan? Hayo ngaku?" ledek Dio.
"Mana ada."
Membenahi baju, yang switternya untuk menghangatkan leher terjuntai.
"Cuuuup! bye ... bye, aku saja yang duluan berjalan," respon Dio berkata, yang tiba-tiba mencium pipiku dan kini berlari mendahuluiku berjalan keluar kamar.
"Hei Dio, ke sini kamu! Dasar kurang ajar, sini ... sini kamu. Jangan main nyosor saja!"
"Biarin, wlueekk."
"Hahahaha, kalau bisa kejar aku, hahahaha!" ledek Dio menang.
Dia berlari mundur-mundur, sambil tak henti-hentinya meledek. Wajahnya terus saja tertawa. Berhasil mengejaiku.
"Awas ya kamu, sini kamu! Akan kuulek makai cabe, atau mau ditebas kamu itu."
"Kalau bisa, coba saja Wlueekk."
Kaki terus saja mengejar Dio sampai ke tempat lift, yang mana kini diri ini mulai terasa sudah kelelahan ngos-ngosan, akibat tak bisa seimbang mengejar Dio yang terlalu cepat berlari. Kekuatan dia bagiakan kilat, tiba-tiba jauh dari pandangan.
"Waah, kamu benar-benar suami luknut, bisa-bisanya ninggalin istri lari dibelakang, heeeeh ... hhhhh," protesku kelelahan.
"Hihihihi, maaf ya! Sini, aku ganti dengan ini," Penyesalan Dio yang secara tak terduga sudah membungkuk badan untuk mempersilahkan diri ini digendongnya.
__ADS_1
"Ngak usah lebay gitu kenapa? Lagian malu dilihat orang nanti," Kepura-puraanku tidak suka.
Mau sok jual mahal, agar si bocil Dio ngak ngatain bucin.
"Ayo cepetan, mumpung suami kamu ini baik, puuuk ... puuuk!" suruhnya dengan menepuk-nepuk pundaknya sendiri.
"Tapi Dio, aku ini berat lho!" jawabku tak enak hati.
"Haiiist, mau naik aja ngomel melulu, sih! mau ngak? Sebelum cewek lain yang menempati," Kekesalan Dio yang kini menarik tanganku.
"Iiichhh, maunya."
Dengan terpaksa mau tak mau aku harus nurut juga sama perkataan Dio. Entah apa yang terjadi padaku sekarang ini, yang jelas hati ini seakan-akan ingin menangis atas perlakuan suami barusan. Begitu tak menyangka bahwa Dio yang selama ini kuanggap seperti belum dewasa, ternyata melebihi apa yang kupikirkan selama ini, yaitu keromantisan yang telah dia lakukan padaku.
Semua mata telah menatap heran ke arah kami, ketika berjalan di koridor pintu utama. Ternyata Dio hanya cuek-cuek saja atas tatapan itu, tapi lain dengan diriku yang malu-malu kucing menyembunyikan wajah diatas bahunya. Kuat juga si bocil suamiku ini, yang mana tanpa halangan dan rintangan dia terus saja mengedong tubuh beratku ini, sampai kami mendapatkan taxi untuk jalan-jalan cuci mata.
"Kita mau kemana, Dio?" tanyaku dalam taxi.
"Nanti juga akan tahu," jawabnya santai.
"Iisssh, main rahasiaan sekarang. Emang tahu jalan dan tempat?" Bibir menyunging sebab tidak suka.
"Sekarang serba canggih ada handphone. Kalau dikasih tahu namanya bukan rahasia lagi dong."
"Makin lama makin pelit informasi saja kamu ini."
"Bukan gitu, sayang. Namanya juga kejutan, ya harus dirahasiakanlah."
"Hadeh, mana-mana suka kamulah."
Mobil taxipun terus melajukan kendaraannya, hingga tak membutuhkan waktu lama kamipun sudah sampai di sebuah pantai, dengan pintu utama dibuat indah oleh sebuah taman dan cafe-cafe kedai makanan dan minuman.
__ADS_1