Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Kebohongan Diam Demi Kebaikan


__ADS_3

Lama sekali tidak ada pergerakan musuh yang mengancam, hingga kami semua jadi agak tenang. Entah apa yang terjadi padanya hingga dia tidak kembali menyerang, yang padahal kemarin-kemarin hampir sempat berhasil untuk membunuh kami. Ketenangan dalam menghadapi musuh tak berarti pulak terlalu lengah, sebab dalang musuh utama belum juga tertangkap.


Pengawalan tidak seketat kemarin, namun kami masih memperkerjakan bodyguard untuk berjaga-jaga.


"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan? Kenapa kau tidak muncul kembali? Apa kau takut, ataukah ada sesuatu yang sedang kau susun?"


"Aahh, benar-benar dah musuh ini, bikin repot dan emosi saja. Tenagaku sudah pulih untuk siap menghadapi kamu, tapi kenapa kau malah tidak muncul sama sekali?" guman hati kesal.


[Hallo, Pa. Ada apa?]


Mertua mencoba berbicara lewat sambungan telephone.


[Apa masih aman sekarang? Sedangkan firasatku lagi tidak enak banget]


Beliau kebetulan sedang diluar kota bersama istri, untuk bisnis memajukan perusahan khusus bidang hotel, sementara aku dan Dilla disuruh tinggal dirumah mereka sambil menjaga sang adik yang masih sekolah.


[Untuk sementara ini masih aman-aman saja. Berdoa saja semoga baik-baik saja semuanya]


[Amin, semoga saja. Aku hanya bisa menitipkan Dilla kepadamu. Kami disini sebenarnya tidak tenang, namun bisnis disini sangat penting juga, jadi tidak bisa ditinggalkan begitu saja]


[Iya, Pa. Serahkan semuanya padaku dan beberapa orang sewaan. Kalian berpikir yang baik-baik saja, semoga tidak ada serangan yang membuat kewalahan kami. Fokus saja sama kerjaan saja, Pa. Insyaallah, semua bisa kami atasi]


[Iya, Dio. Kami merasa lega mendengarnya, jika kamu tetap berada disisi Dilla untuk melindungi. Ya, sudah aku tutup dulu. Jaga diri dan selalu hati-hati. Bye ... bye]


[Iya, Pa. Bye]

__ADS_1


Resiko mendapatkan ancaman bikin selalu was-was dan khawatir berlebihan. Itu hal yang wajar terjadi pada setiap orang, ketika jadi buronan untuk dibunuh. Siapa yang tidak takut jika ingin diserang? Yang pasti semua akan ketar-ketir dengan hal yang berkaitan kekerasan dan kejahatan.


Rasa hati ini kian hari kian terasa panas saja, akibat melihat keakraban Dilla bersama Reyhan dalam sama-sama melakukan bisnis. Walau nampak hanya sekedar dalam suasana pekerjaan, namun tak payah sampai Dilla sedekat itu melebihi sebagai sahabat.


"Aaah, sabar ... sabar kamu, Dio. Mereka hanya dalam urusan pekerjaan bukan percintaan, jadi kamu tak perlu terlalu panas tidak suka begitu. Wajar saja kalau istri kamu itu bisa bercanda lepas bersama mantannya itu, sebab dia lebih mengenal baik Dilla dibandingkan dengan kamu yang baru beberapa bulan menjadi suaminya, jadi cukup lihat dan sabar saja. Rendam segala prasangka kamu Dio, mereka hanya sebatas menjalankan bisnis," gerutu hati berbicara pada diri sendiri, saat melihat Dilla dan Reyhan tertawa lepas seusai melakukan rapat bersama.


Cemburu, ya mungkin itulah yang kini bersemayam dalam diri ini, namun semua bisa terkontrol dengan tenang, sebab jika tidak bisa menahan api kecemburuan bisa menyalakan percikan api pertengkaran, yang kadang hanya gara-gara masalah sepele akibat diri sendiri tak bisa mengendalikan.


Selalu mengamati dari kejauhan. Sengaja acuh tak acuh dan pura-pura tidak lihat ketika mereka sedang bicara bersama. Malas rasanya kalau ikutan ngobrol. Sifat Reyhan yang angkuh, pasti akan selalu mematahkan omongan orang kecil macam diriku ini.


Mencoba memeriksa beberapa lembar pekerjaan yang sedang digeluti Dilla. Pemotretan dan penempahan baju adalah bidang yang utama sedang dijalankan sekarang. Lebih sialnya Reyhan menjadi tokoh utama dalam bisnis ini.


"Untuk sementara ini aku hanya diam melihat ulahmu mendekati istriku? Tertawa sepuasnyalah yang bisa kamu lakukan sekarang. Jika terjadi sesuatu, maka aku tidak akan segan-segan bisa mematahkan semua tulangmu, cam kan itu Reyhan!" Dongkol rasanya dihati ini ketika melihat fotonya bak ganteng sedunia.


"Jangan kau pikir aku diam, kau bisa bebas ingin menarik perhatian dan mendekati Dilla lagi. Aku tahu sifatmu itu hanya bohongan belaka."


Netra yang sempat sibuk menatap layar gawai, seketika melihat kearahnya dengan menyimpan sekelebat pertanyaan. Awalnya mulut ini mau menjawab pertanyaannya, entah mengapa jadi malas hanya sekedar mengeluarkan suara.


Saat pandangan terbagi antara layar gawai dan Dilla, netra mencoba melirik ke arah Dilla yang sudah menyungingkan alis sebelah, yang sepertinya telah merasa ada sesuatu keanehan padaku.


"Kamu kenapa sih, sayang?" ulang tanyanya.


Lagi-lagi mulut ini hanya diam seribu bahasa, yang masih sama malas sekali untuk menjawabnya.


"Kamu jangan diam begitu, kenapa? Tidak enak tahu rasanya didiamkan begini," keluhnya yang sudah memelukku mesra penuh kemanjaan.

__ADS_1


Heeeeh. Suara hembusan nafas terdengar kasar dan pasrah.


Diriku yang awalnya agak acuh padanya, jadi meleleh saat menerima pelukan yang membuat diri ini sedikit ada rasa kasihan, jika Dilla sekarang sudah merasa tak nyaman atas kudiamkan dari tadi.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya lelah dan capek saja, maka dari itu aku dari tadi hanya banyak diam," Akhirnya aku angkat bicara.


"Benarkah itu?" tanyanya tak percaya.


Hanya anggukan kecil yang dapat kuberikan, saat tanpa menjawab dengan kata-kata lagi.


"Tapi aku masih tidak percaya, jika diamnya kamu adalah itu. Pasti ada hal lain 'kan?" imbuhnya masih tak percaya.


Sikapnya yang manja semakin mengeratkan pelukan. Nampak dia seperti tidak ingin berjauhan. Merasa geli saja jika dia berubah lebih bar-bar. Jarang sekali dia agresif begini, yang ada selalu berdebat dan dia tidak ingin kalah dalam berbicara.


"Beneran, sayang. Lagian buat apa aku diam begini, sedangkan istriku yang cantik ini butuh kehadiranku," jawab berbohong yang sudah mengelus pelan rambutnya.


"Maafkan aku, Dilla. Bukan aku bermaksud membohongimu, tapi aku sudah muak jika rasanya mengatakan alasan yang sebenarnya, sebab ujung-ujungnya nanti bakalan ada perdebatan diantara kita, karena sekarang kamu nampak telah mengedepankan Reyhan," guman hati yang tak tega.


"Ya sudah, kalau kamu beneran capek dan lelah. Maafkan aku jika selama ini selalu menyusahkan kamu, dalam ikut mengurusi urusan perusahaan dan ikut andil dalam pengawalan," cakap Dilla tak enak hati.


"Iya, sayang. Tidak apa-apa, kok. Aku ikhlas membantu kamu, lagian aku sedang tak ada pekerjaan yang bisa membiayai kehidupanmu, selain ikut andil dalam mengurusi semua pekerjaan papa dan kamu," jawabku jujur.


"Emm, itu lagi ... itu lagi. Kamu tak payah membicarakan hal itu. Apalagi mengenai harta, pekerjaan, bahkan tahta. Aku mencintai kamu bukan karena itu, melainkan ketulusan hatilah yang benar-benar sangat mencintaimu," jawabnya tak suka.


"Iya, sayang. Maafkan aku, jika menyebutnya lagi dan membuat kamu tersingung" ucapku yang langsung membalas pelukan, dengan posisi Dilla masih duduk dipangkuanku.

__ADS_1


Semua bisa diselesaikan dan bicarakan dengan baik-baik, walau dengan sedikit ada kebohongan. Mungkin kebohongan demi kebaikan harus diperlukan saat ini, yaitu demi tidak adanya pertengkaran diantara kami.


__ADS_2