Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Kini tubuh sangat lemah, saat terkapar diaspal jalanan penuh goresan luka.


Antara setengah sadar, nampak sekali mobil musuh sudah melesat menjauh, ketika banyak kerumunan orang sedang berkendara tiba-tiba sudah behenti bermaksud untuk menolongku.


"Aah, sial. Kenapa aku bisa kalah darinya? Awas saja kalau kita ketemu lagi. Aku tidak akan kalah begitu saja darimu," guman hati melemah.


Rasanya luka sudah mulai terasa perih. Pikiran mencoba menyadarkan diri sendiri, saat badan mulai lemah tak ada tenaga lagi, yang mana anak buah pengawal kini telah terkapar juga sudah bersimbah darah dibagian perutnya, yang nampak mengalir pelan-pelan sudah membasahi aspal jalanan.


Nafa terasa berat dan tersengal-sengal. Suara bising orang mulai mengema bagaikan dengungan lebah. Rasa pusing mulai datang.


"Mas ... Mas, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya seseorang saat mata ini mulai sayu-sayu ingin terpejam.


Tak ada jawaban langsung dari mulut ini, sebab yang terpenting sekarang mencoba membangkitkan tenaga yang terus saja melemah tak berdaya. Karena tak kuat menahan rasa sakit, hingga mau tak mau mata sudah terpejam tak bisa menahan rasa pingsan, sebab kemungkinan diriku yang sangat terluka parah, akibat terseret jatuhnya motor sangat jauh dari posisi awal. Antara sadar dan tidak, kini tubuh terasa sudah diangkat beramai-ramai didalam mobil milik orang lain.


Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, hingga indra penciuman tak terasa sudah menghirup ruangan seperti bau obat, yang sepertinya tebakanku adalah rumah sakit.


Kini terdengar jelas sebuah tangisan pilu seorang wanita sedang memeluk tubuhku dengan erat. Karena merasa heran, maka netra kini terpaksa kubuka, karena suara yang terdengar sepertinya adalah wanita yang kukenal.


Benar saja, ternyata istri tercinta sekarang sudah menangis pilu dengan sendu, yang didampingi oleh mertua laki-laki. Suara khas seorang dokter telah terdengar jelas sedang menerangkan kondisi tubuh ini kepada mertua, ketika masih terbaring lemah mulai terasa kaku semua.


Perlahan-lahan jari mulai kugerak-gerakkan perlahan, mencoba memulihkan kondisi tubuh yang begitu lemah sekali terasa tak ada kekuatan. Banyak kulit yang lecet.


"Dio ... Dio? Kamu ngak pa-pa?" tanya Dilla panik saat tahu aku mulai pelan-pelan sadar.


Tangannya melambai-lambai sebagai petunjuk kalau bisa melihat jelas dirinya. Hanya anggukan kecil yang bisa kuberikan, sebab tenaga rasanya terkuras habis. Hingga rasa-rasanya tak berdaya lemah sekali, hanya sekedar ingin menjawab pertanyaannya. Mungkin karena suara Dilla yang begitu panik, akhirnya sang dokter yang sempat berbicara pada mertua laki-laki, sekarang mendekati tempat pembaringan diri ini dirawat, mungkin mencoba untuk memastikan apakah aku baik-baik saja apa tidak?.


"Saya akan lihat kondisinya!"

__ADS_1


"Oh, iya, Dok. Silahkan," jawab Dilla.


Setelah diperiksa disana sini, akhirnya senyuman mengembang sang dokter mengartikan sesuatu, pasti akan ada hal baik yang bakalan beliau sampaikan.


"Bagaimana keadaan menantu saya? Apa ada hal serius yang dia derita sekarang? Atau ada gejala lain yang serius?" Mertua terdengar panik dan khawatir.


"Alhamdulillah, pasien masih baik-baik saja atas keadaannya," Keterangan dokter.


"Alhamdulillah, kalau begitu, Dok!" jawab Papa dan Dilla kompak.


"Ini beneran 'kan suami saya ngak kenapa-napa!" imbuh Dilla.


"Iya, tidak ada luka berat."


"Kalau begitu saya akan pergi dulu, nanti akan ada suster yang akan memeriksa kesini untuk memastikan keadaan pasien lagi," ujar Dokter ingin pamit.


"Iya, Dok. Terima kasih," jawab Papa ramah.


Pria paruh baya yang sempat memeriksa, kini sudah hilang dari pandangan kami.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Papa mertua.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja, Pa!" jawabku lemah.


"Syukurlah, keadaan kamu baik dan tidak menderita luka parah, akibat kecelakaan yang mengenaskan itu," Kelegaan mertua.


"Iya, Pa."

__ADS_1


"Benar kata Papa, Dio. Kamu tadi itu terlalu ceroboh untuk menghadapi musuh itu sendirian, hingga akhirnya luka kamu jadi parah kayak gini 'kan!" keluh Dilla bersuara serak sendu.


"Iya, sayang. Aku ngak pa-pa, kok. Kamu tak payah terlalu berlebihan kayak gini," ujarku memperhalus kata-kata sambil mengelus pelan pipinya.


"Kamu selalu saja begitu, Dio. Selalu saja meremehkan hal-hal yang kemungkinan berbahaya dengan mudah. Kamu seharusnya juga memikirkan perasaanku, yang mana selalu saja khawatir atas keadaan kamu jika terluka kayak gini," keluh Dilla tak suka dengan penuh kemanjaan.


"Iya, maaf ya."


Wajah yang awalnya cemberut, kini telah memberikan senyuman kecut namun ada rasa hormat biar aku tidak kecewa. Mungkin benar saja kalau aku memang terlalu ceroboh meremehkan lawan, hingga diri sendiripun terluka parah dengan kening ada tiga jahitan, sedangkan tangan dan kaki cuma luka ringan hanya ada beberapa goresan lecet-lecet saja.


"Untung saja musuh tadi tak berbuat lebih sadis kepadamu, sebab jika itu terjadi pasti tubuh kamu sudah tak berpijak lagi dibumi. Papa sangat khawatir sekali sama keadaan kamu, Dio. Pengawal yang kamu ajak untuk mengejar musuh tadi, keadaannya sungguh mengenaskan tertembak dibagian perut sebelah kanan tembus ke hati, hingga mau tak mau tanpa diduga pengawal suruhan itu telah meninggal ditempat kejadian perkara," jelas Papa.


"Innalillahi waina illahi rojiun. Benarkah itu, Pa?" tanyaku tak percaya.


Sedih rasanya jika ada yang meninggal hanya gara-gara melindungi kami. Pengorbanan mereka patut diapresiasi. Namun, semua pekerjaan ada resikonya termasuk bodyguard, sampai kehilangan nyawa adalah tantangan pekerjaan bagi mereka.


"Benar itu, Dio. Makanya aku takut sekali mendengar kabar ini, apalagi kamu sudah terluka parah akibat kejadian bersama pengawal itu. Aku sungguh tidak mau kehilangan kamu begitu saja," ucap pilu Dilla.


"Maafkan aku, sayang. Sebab sudah membuat kamu begitu khawatir sekali atas tingkah dan keadaanku sekarang. Andai aku tak mengambil keputusan ceroboh itu, pasti kejadian ini tidak akan bakalan terjadi," ucap penyesalanku.


"Tak apa, Nak. Semuanya sudah terjadi. Dan Papa sudah menyerahkan kasus ini semua ke pihak kepolisian, sebab sudah banyak kejadian yang membuat keluarga kita begitu terancam dalam ketakutan, yaitu atas kasus penyusup, pengancaman, tindak kekerasan, dan sekarang kasusnya bertambah runyam dengan adanya kejadian rencana pembunuhan pulak," Kejelasan papa.


"Benarkah itu, Pa? Semoga saja pelakunya akan segera ditemukan, agar tidak ada lagi ketakutan dalam keluarga kita," Balik ucapku.


"Iya, semoga saja."


"Kalian jangan sampai gegabah atau keluar tanpa pengawalan, sebab pelaku bisa kapan saja menyerang."

__ADS_1


"Baik, Pa!" jawab kompak.


Rasa hati begitu dilanda rasa was-was, akibat ancaman ketenangan dalam kehidupan keluarga kami mulai terusik, yang terutama keselamatan Dilla. Mungkin diri ini harus lebih hati-hati dalam menangani masalah ini, karena lawan terlihat sangat kuat, cerdas, dan tak bisa diremehkan begitu saja. Dia antusias ingin segera membunuh kami, sedendam itukah dia?


__ADS_2