Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Pulang Terhalang Obrolan


__ADS_3

Masih disisinya untuk menemani kerja. Walau tidak ada ancaman lagi, namun keselamatan istri sekarang lebih utama, jangan sampai terulang lagi kejadian mengenaskan kemarin.


"Duh, capeknya!" Leher berusaha ketekuk kanan kiri, agar bisa merengangkan otot yang kaku.


"Iya sama. Kaki pegal banget dari tadi bolak-balik harus rapat dengan klien. Kamu enak banget sih, cuma duduk santai sambil kerja, lha aku ngak berhenti nih kaki berjalan terus," Dilla memijit betisnya.


"Duh, kasihannya. Apa perlu aku pijitin," Mencoba menawarkan diri.


Kami sedang didalam mobil untuk menuju pulang kerumah. Lampu perusahaan mulai padam dan hanya beberapa ruangan yang penting masih dinyalakan. Semua orang sudah pulang, hanya beberapa dari kami yang tadi sempat lembur.


"Wah, boleh ... boleh, mumpung ada yang mijitin dan gratis pulak."


Dilla menyodorkam betisnya yang mulus. Rok sebatas lutut membuat sedikit naik, dan bikin meneguk saliva ketika melihat kemolekan kaki halus nan putihnya itu. Tapi masih bisa menahan godaan karena dia istri sendiri, jadi bisa kapan saja mengajak main kartu dengannya.


"Dih, maunya."


"Issh, kelihatan tidak ikhlas banget mau melakukannya."


"Emang!" menjawab gampang.


"Hadeh, kenapa tadi nawari mau memijit, kalau diri sendiri saja nampak kelelahan gitu," Dilla nampak kesal dam kaki yang sempat ditaruh dipangkuan kini diturunkan.


"Tambah manis aja nih istriku," Mencubit manja dipipinya.


"Hilih, pasti ada maunya dengan mencoba memberi pujian begitu," sindirnya.


"Emang."


"Yeah, dari tadi emang, melulu jawaban. Kalau ngak tulus jangan pakai acara nawari yang aneh-aneh," Muka ditekuk tanda mulai serius marah.

__ADS_1


"Hahaha, begitu saja kok sewot, istriku yang cantik. Iya ... iya, sini aku pijitin. Jangan ngambekan ah, tambah jelek saja nanti tuh muka. Tadi cuma bercanda saja," Mencoba membujuk.


Cett, dia menganas dengan mengigit lenganku.


"Aaah, duh. Jadi perempuan ngak bisa apa, lemah lembut sedikit?."


"Ngak bisa. Habisnya bikin dongkol saja kamu dari tadi."


"Tadi aku bilang cuma bercanda, kenapa sekarang jadi beneran digigit. Uuuh, sakit beneran ini."


"Hah, serius sakit? Padahal aku tidak kuat banget gigitnya."


"Ya iyalah." Mengodanya lagi.


"Ya, maaf. Habisnya kamu duluan tadi mancing."


"Masalah mancing, jangan duluan mancing mengigit, kalau digigit balik entar malah ketagihan." Alis bergerak dengan menaik-naikkan.


"Hihihi, maaf sekai lagi, sayang. Walau sakitpun itu ngak seberapa terasa. Aku 'kan pria perkasa yang bisa meluluh lantakkan pertahanmu itu. Saking bucin jebol dah bentengnya. Apakah betul itu?"


"Dih, terlalu narsis dan bangga pada diri sendiri."


"Ya harus. Cowok tampan gini, ciuuus! Harus bisa merobohkan segala pertahanan kamu, Benar ngak?"


"Hmm, iya. Ayo pulang, keburu kemalaman juga nanti sampai rumah."


"Eeh, iya. Sampai kelupaan mau pulang, sebab kamu ngajak ngobrol terus sih."


"Dih, dia yang mulai duluan, malah main nyalahin orang saja."

__ADS_1


Kalau sedang adu mulut, tidak ada yang mau mengalah diantara kami. Ada saja jawaban dari Dilla, yang tak mau kalah juga dari perdebatan kami itu.


"Hehe, peace. Kita pulang saja yuk, habis tuh bobok manis sambil pelukan. Dingin begini enak kali."


"Hadeh, mulai lagi dah, tujuan dari otak kamu ke situ terus. Heran jadinya."


"Hahaha. Yah, ngak pa-pa sama yang halal."


"Hmm."


Kalau tanda jawab begitu dan diam, berarti dia sudah kehabisan kata-kata lagi untuk diperdebatkan. Entah mengapa suka sekali mengodanya. Berasa asyik saja istri diajak ngobrol, lagian komunikasi diantara kami harus terjalin dengan baik, agar tidak kaku dalam menjalani rumah tangga.


Mata mulai pedas efek ngantuk berat. Dilla sudah diam seribu bahasa, ketika dengkuran mulai terdengar. Wajar dan sangat memahami, mungkin dia sebagai pemegang utama perusahaan sangat kelelahan sekali. Walau kelihatan mudah pekerjaan kami, tapi pikiran terkuras habis untuk memikirkan hal berkaitan dengan kerja sama, pegawai, kemajuan, bahkan gaji sekalipun.


Tidak ingin membangunkan dia, maka dengan terpaksa mengendongnya. Untung saja memakai lift, kalau tangga sebagai jalan utama pasti kaki akan patah. Agak kesusahan juga sebenarnya menekan tombol lift, sambil memegang tubuhnya agar tidak jatuh maupun mlorot.


Ting, akhirnya sampai juga ke tempat peristirahatan yaitu apartemen.


Sempat kaget ketika memasuki rumah, sebab lampu sudah nyala. Sedikit waspada, sebab takut jika musuh yang datang.


"Dilla ... ?" teriak suara Papa mertua begitu mengelegar bagai beledek, hanya memanggil nama anak saja.


Lega rasanya kalau bukan musuh, tapi teriakan itu terdengar mengerikan.


Istri yang tertidur nyenyak, sampai terbangun dengan turun mendadak.


"Yang sabar, Pa. Jangan emosi begini," Mama mertua berusaha menenangkan beliau dengan mengelus bahu.


"Ada apa sih, Pa. Memanggil saja sampai berteriak begitu?" Dilla kebingungan, sambil mengaruk kepala dan menguap lebar.

__ADS_1


Aku yang baru saja dikagetkan kadatangan kedua mertua, sekarang dibuat heran juga sama wajah sangar mertua laki-laki, yang kelihatannya sedang menyimpan emosi.


Phak, secara kasar beberapa majalah telah dilempar didepan kami. Mencoba memungut satu, dan seketika tulang belulang bagai terlepas dari persendian, dan terasa lemah tak berdaya lagi hingga terduduk pelan dilantai.


__ADS_2