
Waktu ternyata berjalan cepat, saat ingin berangkat kerja tadi telah sempat tertunda, akibat kebringasanku menaklukkan wanita yang kini menjadi istri sahku.
Wajahnya yang malu tapi penuh senyuman manis, membuat jiwaku tadi semakin meronta untuk menerkamnya terus, tapi apalah daya saat semuanya harus terkendali penuh hati-hati, agar tak membuat Dilla lebih ketakutan atas diri ini yang kian lebih dewasa, akibat sudah mulai mengerti apa itu berumah tangga.
Tidak ada suara. Tidak ada percakapan. Hanya suara bising mesin mobil yang mengantar kami ke tempat kerja.
"Maafkan aku atas kejadian pagi tadi," ucapku membuka keheningan kami dalam mobil menuju perusahaan.
"Kenapa harus meminta maaf. Semua sudah terjadi, lagian tidak akan bisa diputar balik 'kan? Ternyata oh ternyata, si bocil Dio kini sudah mulai dewasa mulai bisa menganas juga," sindirnya.
"Uhuuk ... eghem ... emm. Setiap orang pasti berubah, termasuk diriku yang kau anggap bocil ini. Tapi oh tapi, kamu juga menikmati k*s*rvisan si bocil ini 'kan? Ayo ngaku! Jangan bilang ngak tertarik," godaku mematahkan omongannya.
Menyenggol lengannya yang sedang nganggur. Sambil alis kunaik-naikkan agar dia setuju atas godaan tadi.
"Tahu ah," jawabnya sudah memegang pipi.
Dan akupun tahu kalau Dilla kini sangatlah malu, yang nampak dari kedua pipinya begitu merona kemerahan, seperti warna apel yang masak begitu ranum. Ada tawa dalam hati terbahak-bahak, ketika bisa mengimbangi omongan Dilla yang kadang angkuh sok menang sendiri.
Entah mengapa aku begitu senang mengoda Dilla, hingga hati semakin bersorak bahagia, yang melihatnya merona malu seperti yang barusan terjadi. Kelihatan semakin mengemaskan. Ingin mejewer tuh pipi. Kasihan juga jika dilakukan, pasti sakit.
Percakapan demi percakapan, telah melupakan sejenak perjalanan kami yang menjenuhkan, akibat jalanan sudah mulai padat merayap akibat macet. Inilah akibatnya jika berangkat kerja agak kesiangan dikit, pastilah kalah sama kendaraan lain yang juga ingin cepat-cepat berangkat kerja. Lama sekali kami dalam perjalanan menuju perusahaan, namun akhirnya lega juga yang sudah sampai dengan selamat.
__ADS_1
Memarkirnya sebentar kendaraan, dan Dilla hanya menunggu santai disamping mobil. Dia harus turun duluan, dikarenakan jarak kendaraan begitu berdekatan, dan pastinya akan membuat dia susah turun akibat pintu tidak bisa dibuka. Dari kaca yang samar-samar tetap memperhatikan dia, walau harus fokus memarkir dengan benar, yang takut jika mengores mobil lain.
Setelah hampir tiga minggu lebih Dilla tidak masuk kerja, kini akhirnya kami berdua disibukkan dengan segudang pekerjaan yang sempat tertunda. Berkali-kali aku harus keluar masuk ruangan untuk mengambil beberapa berkas yang penting, sebab aku tidak ingin Dilla yang kemarin sakit nanti akan merasa semakin kelelahan oleh pekerjaan, maka biarkanlah diri ini yang menanggungnya. Kaki kupukul sebentar saat mulai merasakan pegal. Mungkin hari ini sudah ratusan langkah, ketika harus bolak-balik dari ruangan kerja pegawai ke tempat istri.
Pengawalan akhirnya terjadi juga, saat pria yang serba berjas hitam telah dikerahkan dibeberapa sudut ruangan kantor, dengan beberapa alat pengintaian untuk memudahkan aksi kami mencari pelaku.
Earphone, kamera cctv dan perlengkapan beberapa senjata adalah sebagai pengamanan utama bagi kami semua. Akupun tidak lupa memakai alat itu juga, agar jika ada hal-hal yang mencurigakan bisa langsung turun tangan untuk mengatasi itu.
Disudut ruangan kerja Dilla 'pun tak luput juga telah dijaga, oleh dua pengawal yang berdiri menjaga didepan pintu. Saat berpapasan mereka selalu hormat dengan menundukkan kepala, sampai leher kepala mulai kaku juga. Jika tidak menanggapi, takut disangka sombong.
"Ternyata Papa kamu tidak main-main atas pengawalan ini. Sungguh hebat sekali Papa kamu, bisa terpikirkan oleh usaha mengenai ini. Salut benar dah!" puji bercakap pada Dilla.
"Iya, benar itu. Seharusnya tidak usah terlalu banyak begini sih, 'kan jadinya ngak enak sama karyawan lain. Kok aku merasa risih amat ya sama pengawalan ini. Kamu merasa gitu tidak sih, Dio?" tanyanya.
"Merasa, sih! Tapi biarkan saja 'lah, sebab ini demi kebaikan kamu juga. Itu tandanya beliau sangat sayang pada kamu, sebab tidak ingin terjadi apa-apa sama putri kesayangan mereka ini. Kalau sampai terjadi kayak kemarin, pasti tidak akan bisa memaafkan diri sendiri sebab anak terluka," Santai mengajak ngobrol, walau mata masih fokus diberkas.
"Heeh, benar juga sih. Tapi aku beneran agak risih."
"Tak apa, sayang. Makin ramai yang menjaga, maka akan aman juga keselamatan kamu. Kalau bisa sih jangan sampai terulang lagi luka itu."
__ADS_1
Menaruh berkas dimeja. Mengelus pelan pipi, ketika sudah didekatnya. Rasa tak tega kemarin, harus lebih extra kewaspadaan agar tidak kecolongan lagi kena serangan.
"Hhheeh, benar."
Karena tidak ingin terjadi apa-apa sama keamanan Dilla, dengan terpaksa kami makan saja sampai didalam ruangan kerja, dengan beberapa menu makanan yang dipesan. Mungkin ada mata yang mencoba mengintai, maka dari itu lebih baik makan didalam saja, daripada nanti kesusahan ada serangan mendadak.
Seberapun waktu yang ada saat kelihatan tidak bermanfaat, namun jika pekerjaan sudah lama tak dilakukan, pasti kerjaan tetap akan terus menumpuk dan pastinga harus dikerjaan. Kemarin semua sudah diserahkan oleh pengurus perusahaan dibantu papa Dilla, namun pekerjaan masih tidak kelar-kelar, ketika harus pimpinan utama yang menyelesaikannya.
Lelah, iya. Hari ini kami cukup lelah untuk melakukan pekerjaan, hingga nampak sekali wajah Dilla mulai kusut dengan segundang file-file harus ditanda tangani, dan diselesaikan segera masalah pekerjaan itu.
"Maafkan aku, Dio. Hari ini kamu pasti lelah sekali membantu pekerjaanku," ucap Dilla tak enak hati, yang bermanja ria duduk dipangkuanku.
"Tidak apa-apa, sayang. Aku adalah suami kamu, yang sepatutnya harus meringankan beban istrinya, ketika menghadapi kesulitan apalagi masalah," jawabku santai sambil mencubit pelan pipinya.
"Makasih beneran lho, ya! Takutnya kamu ngedumel tidak suka," tegasnya yang masih ada sedikit tak enak hati.
"Iya! Jangan bilang begitu ah! Suami juga berkewajiban meringankan pekerjaan istri," jawabku memeluknya, dengan tangan terlingkar dipinggangnya.
"Terima kasih, Dio. Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku, jika kamu tak disampingku sekarang. Mama dan papa benar-benar tepat sekali memilih kamu.
__ADS_1
"Iya sayang! Semua sudah diatur oleh takdir, " jawabku mencium mesra pipinya.
Setelah sekian jam bergulat dengan kertas, akhirnya kami berdua dengan waktu singkat bisa menyelesaikan tumpukan itu, dan kini telah membawa kami untuk segera pulang. Langkah sudah sampai ditempat parkiran, untuk segera masuk didalamnya.