
Tidak butuh waktu lama untuk datang ke perusahaan, sebab Dio telah kusuruh tancap gas buru-buru, akibat teringat ada janji dengan klien
"Kamu duluan masuk saja, Non! Aku akan parkir mobil dulu. Nanti aku menyusul," cakap Dio menyuruh, saat dirinya mengantarkanku dipintu utama perusahaan.
"Ok, hati-hati."
"Sipp."
Hati penuh dengan warna dan berbunga-bunga. Sikap Dio beda dari yang lain, walau dia masih bocil tapi bisa mengimbangi bersikap dewasa.
Dari arah depan kulihat seseorang yang sedang memakai masker dan topi, yang kelihatannya tak asing bagiku. Namun tak kuhiraukan, yang tetap fokus berjalan ke depan melangkah lebar-lebar.
"Tunggu," suruh pria itu, yang sekarang ini berhasil mencekal tanganku.
Kami berjalan berlainan arah, hingga dia mudah mengehentikan langkah ini.
"Lepaskan aku! Maaf aku tidak mengenal anda, jadi singkirkan tangan kamu itu," perintahku tak senang.
"Kamu sangat kenal diriku. Bolehkah kita bicara menepi sebentar, sebab ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu," suruhnya.
"Benarkah? Kenapa harus menepi? Kita bisa bicara disini langsung," cakapku berusaha menolak.
"Duh, siapa pria ini? Dari bahasa, suara dan poster tubuh, sepertinya dia ini-?"
"Ngak bisa, sebab disini banyak orang!" kekuh jawabannya.
"Maafkan saya. Aku tidak banyak waktu untuk melayani permintaan kamu," tolakku yang sudah membanting kuat cekalan tangannya.
Kaki kini berusaha melangkah melebar, namun naasnya pria yang memakai masker tadi telah mencekal tangaku lagi, dan kini menarik tubuhku secara kuat untuk mengikuti langkahnya.
"Kita betul-betul harus bicara, sebab ini masalah hubungan kita, mengerti!" bentaknya marah sambil tetap menarik diriku.
"Ya Allah, apakah dia Reyhan?"
__ADS_1
"Kalau betul. Kenapa dengan dia ini, yang tetap kekuh ingin menjelaskan dan berbicara? Bukankah kami sudah tak ada urusan lagi, setelah skandalnya yang diketahui telah menghamili anak orang? Ahh, kemana kamu Dio? Cepatlah datang! Aku takut sekali kalau dia benar-benar Reyhan, yang pastinya akan berbuat macam-macam nanti," bathin hati yang kini sudah merasa ketakutan.
Bhuuugh, pria bermasker telah membanting kuat tubuhku menabrak tembok diruangan sepi, yang kelihatan sekali ada emosi padanya sekarang.
"Sampai segitunya kamu marah padaku, sampai-sampai tidak mengenaliku lagi," cakapnya yang kini sudah membuka masker dan topi.
"Reyhan? Kamu?" Kepura-puraanku terkejut.
Braaaak, Reyhan telah mengebrak tangannya ketembok dengan mengkunci tubuhku oleh kedua tangannya.
"Kenapa, apa kamu sudah benar-benar melupakanku sekarang, hah!" Lengkingan suaranya marah.
Wajahkupun seketika beringsut ketakutan, sebab Reyhan sudah kelihatan memerahkan wajah seperti akan menerkam, akibat sebuah kebringasan kemarahan yang muncul.
"Bukan itu, Rey! Aku tidak mau berurusan ataupun membuat masalah lagi sama kamu. Lagian bukankah kamu sudah ada perempuan lain dihatimu, jadi aku mohon sekarang lepaskan diriku, sebab ini semua tidak berguna lagi atas pertemuan ini," jawabku pelan, sebab badan sudah gemetaran ketakutan.
"Hehh, tak ada guna? Siapa bilang? Kita selamanya adalah masih kekasih. Kamu jangan mengada-ngada atas hubungan kita. Masalah perempuan itu, dia bukan apa-apa dalam hidupku dibandingkan dirimu," jawabnya yang kini mengelus pelan pipiku.
"Sudah aku bilang tak akan melepaskan kamu," bentaknya yang membuatku terjingkat kaget.
Sorot mata tajam. Emosinya memuncak. Aku yang melihat itu semakin dibuat ciutnya nyali untuk berhadapan dengan dia.
"Harus berapa kali aku mengucapkan, bahwa aku tidak ada hubungan apa-apa sama perempuan itu. Dia hamil bukan karena diriku, jadi sekarang ini kamu harus kembali kepelukanku, ok! Aku begitu merindukanmu, sayang." cakap Reyhan yang kini tangannya tengah menyentuh dan mengusap bibirku.
"Maksud kamu apa, Rey?" Ketakutanku dengan wajah berpaling kekanan, menghindari tatapan Reyhan yang ada emosi dan menakutkan.
"Aku berkata sesunguhnya, bahwa itu hanyalah sebuah rekayasa wanita br*ngs*k itu," jawabnya yang kini mengambil wajahku untuk menatap wajahnya.
Dert ... dzzzt, gawai tiba-tiba bergetar.
Tangan dengan cepat merogoh handphone dalam tas, dan cepat-cepat mengangkatnya.
Klik, gawai langsung saja kutekan mengangkat.
__ADS_1
[Dio ... Dio, tolong]
Keluhku yang sudah ketakutan menangis.
[Hallo, Non. Kamu dimana?]
Braaaak, handphone secara kasar telah direbut dan dibanting Reyhan kesembarang arah, dan akupun kini benar-benar beringsut ketakutan yang luar biasa.
Kesempatanpun akhirnya telah ada, untuk diriku berusaha ingin lari ketika Reyhan lengah, namun pada kenyataannya akupun kalah tenaga sebab dia berhasil menarik tanganku lagi.
"Lepaskan aku Reyhan, aku mohon!" pintaku merengek sambil melelehkan airmata.
"Sudah kubilang berkali-kali aku tak akan melepaskanmu, paham!" bentaknya.
"Jangan begini, Rey."
"Masa bodoh."
"Aku pinta padamu Dilla, jangan tinggalkan diriku sebab dalam ini masih sangat mencintaimu. Bahkan dari dulu sampai sekarang cintaku masih utuh untukmu. Aku sangat tersiksa sekali tanpa dirimu disisiku, bahwa malam-malam yang gelap terus saja kuisi dengan cara minum-minuman berakh*h*l. Aku begitu hampa tanpa ada suaramu, tidak ada celotehmu, bahkan tak ada senyuman kamu lagi. Otakku terus saja dipenuhi oleh bayang-bayang wajahmu yang dulu selalu menghiasi hari-hariku. Sungguh cintaku tak akan pernah pudar untukmu," suara serak pilu Reyhan.
"Ya ampun, apakah apa yang dikatakan Reyhan adalah benar? Tapi kenapa kamu melakukan ini semua padaku, jika kamu masih mencintaku, Rey! Maafkan aku Reyhan, cintaku padamu seakan-sakan sudah mati dan telah kubuang jauh-jauh dikehayutan air sungai," guman hati yang agak goyah.
"Maafkan aku Reyhan, kita tidak bisa seperti ini lagi. Kehidupan dan dunia kita sudah berbeda, kamu sudah memiliki wanita itu, sedangkan aku juga sudah ada orang yang mengantikan posisi dirimu yang menyakiti hatiku. Kita tidak akan pernah bersatu lagi, oleh ikatan cinta yang ternoda. Aku sangat kecewa sama dirimu, setelah sekian tahun kita sama-sama saling menjaga cinta yang ada dihati, tapi apa yang kamu lakukan padaku sekarang, hah!" ucapku mengeluarkan segala uneg-uneg yang penuh emosi
"Aku tidak bisa melakukan itu, Dilla. Aku tak akan melepaskan genggaman tanganku lagi untukmu, sebab cinta ini masih sama seperti hari-hari kemarin," kekuhnya dia menjawab.
"Ngak bisa, Rey. Cukup sudah atas omong kosong ini. Kamu jangan mengada-ngada kalau berbicara, semua tak akan jadi hancur begini sendainya kamu bisa menjaga hatimu untuk wanita lain," keluhku.
"Maafkan aku Dilla," ucap penyesalan Reyhan.
Cuup, tanpa aba-aba Reyhan telah mendaratkan ciuman ke bibirku dengan cara memaksa sekali. Sekuat tenaga aku berusaha meronta menghindarkan bibir, tapi kalah kuat saat tangan Reyhan dengan kuatnya juga mencengkeram tanganku ditembok perusahaan.
Bhuuugh, sebuah pukulan akhirnya mendarat dipipi Reyhan dilakukan oleh Dio yang sudah datang, yang membuat Reyhan kini oleng mau jatuh, tapi bisa dia tahan oleh tangannya sehingga masih berdiri sedikit membungkuk.
__ADS_1
"Haaaist, kurang ajar sekali kamu, masih berani menemui, Non Dilla! Berdiri kamu," tantang Dio penuh amarah.