Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Semua Terjelaskan


__ADS_3

"Pembunuhan?" Kekagetanku tak percaya.


"Iya, Dio. Waktu itu kakak Dilla berteman baik dengan anak yang namanya Abu, mereka sama-sama menyukai bidang dalam ilmu bela diri. Waktu itu mereka masih dalam tahap sekolah SMA. Abu mempunyai seorang kekasih dan ternyata juga dicintai kakak Dilla. Yang namanya masih remaja pasti ada saja kekhilafan yang tak bisa dihindari. Wanita itu ternyata telah melakukan hubungan terlarang bersama kakak Dilla, dan kekasihnya Abu tak terima atas semua ini. Awalnya mereka menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik saja, namun dendam tetaplah akan tersimpan dihati jika tak bisa memaafkan dengan baik. Waktu itu ada turnamen bela diri antara keduanya, dan ternyata kakak Dilla yang menang. Semua orang waktu itu menuduh kakak Dilla ada tindak kecurangan, karena dia berhasil menjadi juara satu, dan Abu hanya menjadi nomor dua" jelas papa yang nampak tak kuat menceritakan.


Kenangan pahit itu kembali terputar. Kesedihan pasti hadir, ketika mengenang kejadian mengerikan itu.


"Lalu apa hubungannya dengan kami, Pa? Maafkan aku jika bertanya-tanya mengenai ini, yang kemungkinan Papa akan sedih kembali ketika mengulang kisah memilukan itu," ucapku bertanya tak enak hati.


"Gak pa-pa, Dio. Memang seharusnya kamu harus tahu sekarang. Waktu itu kami masih dalam masa-masa sulit akan keuangan. Dulu aku dan ayah kamu masih sama-sama dalam satu kampung. Kejadian itu berawal ketika kamu bermain sama Dilla dirumah kami, yang diasuh oleh almarhum kakak Dilla saat kami tinggal kerja. Tak tahunya ketika Abu bertandang kerumah kami, mereka telah sama-sama tak bisa menurunkan ego, hingga terjadi percekcokkan yang berujung maut. Saat kami tiba dirumah yang sudah banyak kerumunan orang, kami sebagai orang tua begitu kaget ketika kakak Dilla sudah tergeletak tak bernyawa dengan bersimbah darah mengalir dimana-mana. Abu yang masih belum cukup umur itu telah berani membunuh akibat emosi sesaat, dan akhirnya Abu telah dipenjara," penjelasan beliau mengambil nafas dalam-dalam, sampai terjeda sebentar menceritakan.


Menyimak dengan penuh khidmat. Dari cerita memang sangat rumit kasusnya. Namanya belum labil, ego pasti belum bisa diatur dengan baik.


"Astagfirullah, sangat mengerikan juga kejadian itu. Lalu, Pa?"


"Kalian telah menjadi saksi bisu atas kejadian itu, hingga Dilla sempat depresi mengenang kejadian mengerikan itu. Oleh sebab itu dia kami boyong segera menjauh, dari tempat tinggal lama kami. Mungkin keluarga tersangka ada yang tidak terima atas kejadian ini. Karena kalian adalah saksi utama yang menyebabkan Abu dipenjara, mungkin dari pihak keluarga masih tak puas untuk mengobrak-abrik keluarga kami, ditambah lagi Dilla adalah adik almarhum, jadi tersanga hanya ingin berpusat membalas semuanya pada anakku itu," Kelesuan mertua menceritakan.


"Lagian bunyi kabarnya tersangka juga meninggal dalam sel, akibat merasa bersalah dan dihantui rasa penyesalan. Tubuhnya sempat kurus kering dan tidak mau makan, sampai ajal telah menjemputnya."


"Jadi begitukah cerita yang sebenarnya, Pa? Aku tidak menyangka jika kejadian yang mengerikan itu terjadi pada kami. Tapi anehnya, kenapa ingatan atas kasus itu tak ada satupun yang berhasil kuingat-ingat?" Keherananku bertanya.


"Waktu itu kalian begitu menderita, hingga datang penyakit trauma ketakutan yang akut. Hingga Ayahmu bertindak tanggap cepat, telah menyewa seseorang untuk menghapus semua kenangan buruk itu. Boleh dibilang dalam metode hipnotis," terang beliau.

__ADS_1


"Mungkin saja itu masalahnya, Pa! Hingga kami benar-benar tidak mengingat kejadian itu lagi. Aku harus benar-benar mengerahkan segala kekuatan untuk melindungi Dilla, agar kejadian yang mengenaskan kemarin tidak terjadi lagi," cakapku semangat.


"Iya, Dio. Harus itu. Jaga anakku Dilla dengan baik, karena hanya kamulah harapan satu-satunya kami untuk menjaganya dengan baik. Nanti akan kami usahakan sewa pengawal, untuk menjaga dan memperketat keadaan kalian," ujar mertua memberitahu.


"Benar, Pa. Itu lebih bagus. Semoga rencana kita memperketat penjagaan tak ada hal lagi yang mengancam, dan kita bisa menemukan pelakunya segera," jawabku menyetujui.


"Emm, benar itu."


Sungguh benar-benar tak menyangka bahwa nyawa kami kini terancam, apalagi Dilla yang menjadi sasaran utamanya. Semua harus terjalani sesuai rencana, agar semuanya aman dan tak ada korban yang tersakiti lagi.


Bahagia yang tak terperi rasanya, itu adalah yang kini kurasakan saat memiliki istri yang cantik dan penuh pesona, tapi dilain sisi aku sebagai suami harus ditakutkan oleh sebuah ancaman, yang sewaktu-waktu bisa terjadi padanya yaitu sebuah rencana pembunuhan.


"Apa yang harus kulakukan untuk lebih waspada untuk menjaga Dilla, supaya dia lebih aman dari ancaman-ancaman itu? Rasanya aku ingin segera menyelesaikan atas kasus ini, saat pelaku yang kemarin menyusup belum ditemukan. Tapi harus mulai dari mana diriku untuk mencari sang pelaku? Sementara wajah kemarin tidak kelihatan. Sedangakan kami tidak mengenal sama sekali," Kebingunganku.


"Hei sayang! Apa yang sedang kamu lakukan? Tumben-tumbennya bisa melamun disini?" tanya Suara Dilla yang tangan sudah terlingkar diperutku dengan rasa kemanjaannya, ketika diri ini berdiri tegap menatap kehijauan tanaman.


"Kamu kok bangun? Bukannya masih sakit? Seharusnya banyak-banyak istirahat saja disana," keluhku saat berbalik badan, sambil menunjuk ke arah bangun rumah sakit.


"Bosan rasanya jika harus berbaring terus menerus begitu, karena tak ada kegiatan yang bisa kulakukan," jelasnya manja yang kini meletakkan kepala didada bidangku.


"Yang namanya sakit ya harus banyak-banyak istirahat biar cepat sembuh. Gimana luka kamu, apakah masih ada yang terasa sakit?" tanyaku khawatir.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya sudah agak mendingan. Walau rasanya masih ada saja yang sedikit-sedikit ngilu jika dipengang, tapi semua aman jika tidak dibuat gerak banyak-banyak," terangnya.


"Syukurlah kalau begitu, aku jadi ikut senang," jawabku makin menambah menguatkan pelukan.


"Iya, Dio."


"Gimana? Apa masalah orang yang menyerang kita sudah selesai?"


"Belum bisa menemukan pelaku saja, sebab masih simpang siur atas masalah ini. Takutnya pihak kita malah salah menebak, tapi pihak polisi sudah membantu kta untuk mendalami kasus ini."


"Baguslah kalau begitu. Duh, jadi makin takut saja nih jika dia masih berkeliaran."


"Ngak usah takut. 'Kan ada suami kamu yang ganteng ini."


"Dih, kepedean akut."


"Tapi aku beneran orang gemoy dan ganteng 'kan? Kalau enggak, mana mungkin kamu mau kujadikan istri. Coba saja kalau tongos, hitam, kudisan, apalagi berkumis tebal bagai bang toyip, pasti ogah banget dijadikan pendamping. Jangankan begitu, melirik saja pasti kamu ngak mau."


"Heheheh, tahu aja nih selera tinggi."


"Dasar pencinta orang ganteng."

__ADS_1


Rasa cinta dihati pada diri kami masing-masing begitu kuat, hingga rasa pahitpun bagaikan hilang seketika, yang tergantikan oleh manisnya kemesraan. Kian hari kondisi istri kian membaik, hingga beberapa hari kedepan bisa diperbolehkan untuk pulang.


__ADS_2