
Mentari pagi telah menyosong dengan penuh hawa semangat. Sinar kilaunya yang masuk dari celah-celah jendela seakan-akan sudah menyuruh untuk segera bangkit dari tidur, ketika tadi malam nyenyak terpejam, yang terus sama-sama dalam keadaan saling berpelukan. Tangan yang sempat bertengger sebagai batalan kepala Dilla kini perlahan-lahan mulai kutarik, saat rasa kesemutan mulai muncul.
Wajah istri yang kelihatan masih lemah dan lelah, hanya bisa kupandangi nanar penuh rasa iba, tak rela atas rasa sakitnya sekarang. Untung saja pemukulan kemarin tak sampai mematahkan tulang belakang Dilla, hanya saja ada keretakkan sedikit, banyak luka gores dan memar yang sudah membiru yang harus diobati.
"Awas saja kalau kita ketemu, pasti akan kubuat perhitungan lebih menyesal lagi daripada kemarin, akibat kamu telah melukai orang yang sangat berarti untukku, awas!" Kekesalan hati saat mengenang orang yang berhasil mencelakai Dilla.
"Kenapa ini semua bisa terjadi? Apa sebabnya? Kenapa pelaku kayak mengebu ingin membunuh kami? Duh dosa apa yang kami perbuat, sehingga ada orang jahat ingin melukai kami?"
Kaki kini berjalan ke arah kamar mandi, untuk mencoba membasuh muka yang baru saja bangun tidur. Setelah dirasa cukup membersihkan diri, kini langkah berjalan lagi ke tempat Dilla yang masih nampak terbaring tertidur.
"Hhh, pasti badan kamu nyeri semua? Kamu wanita yang terlalu baik, hingga mau mengorban diri sendiri untuk terluka. Pelaku sangat kejam sekali. Andaikan dia tadi malam bisa ketangkap, pasti akan kulakukan balik pemukulan dengan kursi untuknya,'" guman hati yang tidak rela.
Ketukan pelan dari arah pintu mulai terdengar sayu-sayu. Berjalan membuka, dan ternyata tamu adalah pihak keluarga besar istri.
"Eeeh, kalian."
"Pagi, Kak Dio."
"Pagi juga," Membalas dengan senyuman.
"Gimana keadaan Dilla anakku, Dio?" tanya Mama yang sudah datang bersama Papa dan anak laki-laki sulungnya.
"Alhamdulillah, baik. Namun sepenuhnya belum sehat, sebab lukanya kelihatan agak cukup serius," jawabku saat duduk dikursi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau dia baik."
"Hufff, dia nyenyak benget tidurya. Sampai kitta datang ramai begini dia tidak dengar."
"Kali saja obat sedang bekerja, makanya loose molornya. Lagian badan Dilla, pasti remuk redam akibat pemukulan itu."
"Hhh, kasihan benget anak Mama yang cantik ini."
"Makanya kalau ada jangan diajak berantem saja, Ma. Akhirnya nyesel juga 'kan! Kalau ada diajak gelud, kalau sakit dikangenin."
Andi mencoba protes. Yang dia katakan ada benarnya, ketika sering diajak adu mulut. Mungkin beliau melakukan itu karena rasa sayang.
"Dih, tahu apa kamu anak kecil."
"Iya, juga sih."
Kami hanya bisa menatapinya dengan nanar. Wajahnya yang teduh kelihatan memelas sekali. Canda tawa yang sering mengema sangat terindukan. Rasanya suasana jadi sepi. Tidak seperti biasa rame, walau kadang hanya masalah sepele kami adu mulut saja.
"Oh ya, Dio. Boleh 'kah kita bicara berdua sebentar? Sebab ada hal penting yang ingin Papa bicarakan sama kamu. Biar Mama sama Andi saja yang menjaga disini," Izin ucap beliau.
"Boleh, Pa. Tapi izin mau ganti baju dulu."
"Iya, silahkan."
__ADS_1
Baju samalam yang dipakai berkelahi belum sempat tergantikan, dan baru pagi ini dibawakan oleh keluarga. Ada bercak darah, serta ada beberapa bagian yang sobek. Harus diganti biar tidak memalukan.
"Ayo, Pa. Aku sudah siap." Baru saja keluar dari kamar mandi.
Walau rambut masih acak-acakkan, namun tetap saja ingin pergi sebab mertua kelihatan penting sekali ingin membicarakan sesuatu. Masalah kerapian, bisa memakai tangan untuk menyisir.
"Baiklah, ayo. Kalau begitu kita keluar saja, sebab masalah ini penting mengenai Dilla. Aku tidak mau jika dia mendengar ini, sebab bisa fatal baginya. Maka dari itu kita bicara menjauh dari sini saja," Papa menyuruh.
"Iya, Pa. Silahkan duluan."
Kuturuti kemauan mertua, yang akhirnya kami duduk ditaman rumah sakit, banyak sekali orang sedang lesehan santai direrumputan, selain itu ada juga sambil jalan-jalan. Aku dan mertua kini begitu duduk santai, sambil berusaha mengikuti suasana taman yang adem ayem. Udara sejuk dipagi hari bikin tambah nyaman saja. Burung saling berkicau dan berterbangan kesana-kemari. Bungapun nampak indah bermekaran penuh warna-warni.
"Kamu mulai sekarang harus benar-benar menjaga Dilla, sebab nyawanya sangat terancam sekali. Papa tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi, maka dari itu kamu harus menjaganya dengan ketat," perintah papa yang terasa sekali ada guratan kekhawatiran.
"Memang ada apa, yang terjadi tentang semua ini? Kenapa orang penyusup kemarin seakan-akan ingin sekali membunuh Dilla, yang kelihatannya juga telah membenciku juga?" tanyaku penasaran.
Memang sangat aneh sekali masalah kejadian itu, dan sangat asing pada si pelaku. Yang jadi pertanyaan kenapa kami berdua dijadikan incaran.
"Ini adalah kejadian yang mengerikan dimasa silam diantara kalian semua. Kamu tahu sendiri kalau kakak Dilla sudah meninggal, dan semua kejadian ada kaitannya dengan semua ini," jelas papa lesu yang seakan-akan berat mau menceritakan.
"Kakak? Benarkah ini ada kaitannya dengan almarhum?" imbuh tanyaku tak percaya.
"Iya, Dio. Dulu waktu kamu dan Dilla masih kelas satu SMP, inilah awal dari cerita mengenaskan itu. Kakak Dilla dulu adalah seorang atlet bela diri, yang kemungkinan si penyusup kemarin adalah keluarga dari orang yang membunuh kakak Dilla," Penjelasan mertua terdengar serak.
__ADS_1
"Pembunuhan?" Kekagetanku tak percaya.