Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Saling Baku Hantam


__ADS_3

Kemarahan sudah tidak tertahan lagi berada dipuncak, saat istri telah terluka tidak berdaya oleh hantaman sebuah kursi. Tak kupedulikan lagi tubuh Dilla yang tergeletak pingsan dilantai, sebab dalam pikiranku sekarang dapat melumpuhkan lawan, untuk segera memberi perlajaran lebih untuknya.


Hiiiat ... bhuuugh,Sebuah tendangan kaki telah mendarat tepat diwajah pria itu mengenai pipi kirinya.


Sreeet, tanpa keseimbangan tubuh pria itu telah jatuh terpelanting ke kanan.


"Cuuuih ... si*l*n kamu, jago juga ternyata," Kemarahan pria itu sebab aku telah berhasil mengeluarkan aliran darah dari mulutnya.


"Kenapa? Apa kamu akan menyerah juga, hanya gara-gara tendanganku tadi? Dasar pria br*ngs*k, aku tak akan melepaskan kamu begitu saja, ayo maju!" tantangku.



Wajah sudah ada rasa nyeri, saat awal-awal tadi kena pukulan tangannya beberapa kali. Rasa perihnya bisa kutahan, namun perih akan Dilla yang terluka, semakin mengebu ingin menumbangkan dia secepatnya.


Kaki kini telah berkuda-kuda, yaitu dengan berancang-ancang untuk siap menyerang, seandainya lawan akan maju melawan juga. Tangan mengepal, siap juga melayangkan tinjuan. Dalam hati jangan sampai kalah lagi, walau taruhan nyawa sekalipun.


"Baiklah aku akan melayani kamu sampai kamu m*mpus," gertaknya tak pantang menyerah.


"Siapa takut, majulah. Ini hanya urusan kecil bagiku," Kesombongan yang tidak.menyerah.


Braaaas ... sreees, lagi-lagi pisau yang dia pegang kembali melayang ingin segera menghunuskan ke tubuhku, tapi untungnya aku bisa memiringkan badan dengan cara khayang ke belakang, hingga ayunan pisau tak berhasil melukaiku. Dengan sigap aku menegakkan posisi badan kembali, dengan tangan siap mengambang untuk mengayunkan bogeman kepada pria itu lagi.


Phaaaak, tangan yang memengang pisau telah kutampik kuat menggunakan tangan, hingga senjata pisau miliknya telah terpelanting jatuh menjauh dari tangannya.


Dengan tangan kiri, berusaha memegang bahunya, kini tubuh sedikit terangkat melayang diudara, siap untuk segera melayangkan bogeman tangan ke wajah pria musuhku sekarang.


Bhuuugh, daratan tangan tepat sekali menjatuhkan pukulan ditengah wajah hingga mengenai dihidungnya.


"Aaaw ...aaaaah ... si*l*n kamu!" cakap pria itu yang kini memegang kuat hidungnya.


Telapak tangannya telah terbuka, menampakkan darah segar telah keluar dari hidungnya.


Diri ini hanya bisa tersenyum menyeringai sinis, sebab telah berhasil membuat lawan kini sudah mulai kerepotan. Tidak akan kubiarkan dia sedikitpun lengah mengalahkanku, justru sebaliknya akan memberikan beberapa bogeman yang layak untuknya.


"Kamu ternyata jago juga dapat melumpuhkan lawan, cuuuih!" pujinya sambil meludahkan air liur.


Tak terpikirkan olehku lawan kini telah berlari kencang, untuk mengambil pisau yang sempat hilang dari tangannya tadi.

__ADS_1



Byaaar ... creeit ... creeit, lagi-lagi lampu telah mengganggu pandangan, sebab tengah berkelap-kelip ingin mati, yang sepertinya sedang terjadi konslet.


Pandangan tidak bisa melihat seksama dengan jelas, saat pria itu telah membuka topeng penutup wajahnya, namun yang jelas sekarang dia tengah berkuda-kuda dengan pisau tengah ada ditangannya lagi, yang siap untuk menyerangku.



Hiaaaat ... bresss ... wesss, layangan pisau kembali mengudara ingin melukaiku dari ayunan sebelah kiri dan kanan, namun lagi aku bisa menghindarinya lagi.


Bhaauuugh ... phangk, dengan secepat kilat kuayunkan kepalan tangan tepat mengenai perutnya, yang selanjutnya diiringi oleh tangan memukul wajahnya juga.


"Aaahkg ... awww!" Suaranya kesakitan yang tubuhnya sudah mulai sedikit menjauh dariku.


Tangan masih mengepal, yang mana kaki masih berancang-ancang dengan posisi berkuda-kuda jika pria itu berusaha melawan lagi.


"Sialan, cuiiiih!"


Weees ... wezzzs, layangan pisau tak henti-hentinya terus saja melayang.


Sriiing, lengan tangan kananku telah berhasil kena goresan pisau. Kini tangan berusaha mendekap kuat-kuat luka, saat tetesan darahnya telah berhasil mengalir jatuh menetes diubin keramik.


"Jangan harap. Dasar b*jing*n. Aku tidak akan kalah darimu. Majulah, jika kau masih mampu melayaniku."


"Cuiih, dasar bocah ingusan. Jangan sok jagoan kamu."


"Jangan banyak b*cot. Jika berani lawan aku terus dengan kemapuanmu yang sok kemayu."


"Dasar, mulut tak guna. Sini kamu, kalau mau tuh muka hancur."


"Jangan mimpi."


Berhasil memancing emosinya. Dia mulai bersiap menyerah juga. Mengumpulkan semua tenaga agar bisa mengimbangi bela dirinya yang tidak bisa dianggap enteng.


Menantang tidak kenal takut, yang ada hanya ingin segera melumpuhkan dia.


Wajah sudah menyerigai marah dengan gigi bergetaran dan bergemerutuk akibat menahan emosi. Tak kupedulikan tangan yang terus saja berdarah, kini kedua telapak tangan terus saja mengepal kuat, untuk siap melakukan perlawanan lagi.

__ADS_1


"Aku tak akan membiarkan kamu hidup, dasar! Hiaaaaaah ... braaas ... bruuus," hantaman tinjuan lagi-lagi kembali terlayang memukul.


Aku yang melayaninya dengan tangan kosong, tak gentar untuk terus mencoba mengalahkan lawan. Pria yang jadi musuhpun tak mau kalah juga, yang terus saja memepetku dengan cara mengayunan pisau berkali-kali, ingin melukai tubuh yang mulai kelelahan.


Nafas mulai tersengal-sengal, namun tidak bisa lengah begitu saja. Sedikit saja tidak fokus, maka medan perkelahian ini akan dia kuasai, dan bisa secepatnya melumpuhkanku.


Dengan sigap tangan lawan yang sedang memegang pisau, berhasil kutangkap dengan cara mulai memutarnya kebelakang untuk mengkunci pergerakkanya. Sekali dorongan aku telah berhasil melumpuhkan lawan dengan cara menumbangkannya dilantai, untuk segera kududukki mengkuncinya.



"Haaich ... si*l*n, lepaskan aku!" pintanya dengan tubuh meronta-ronta ingin melepaskan diri.


"Jangan harap. Aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja, sebelum menjebloskan kamu masuk kepenjara," jawabku menakutinya.


"Hee'eeh, coba saja kalau kamu bisa, sebab aku tak akan menyerah ditangan pria lemah seperti dirimu," hinanya.


"Wah, masih menganggapku enteng? Apa kamu tidak merasa sudah kukalahkan? Dasar."


"Jangan belagu, sebab kau bisa menang dariku sekarang."


"Aaah, banyak b*cot juga kamu."


Terdengar suara bunyi mobil polisi mengema keras sekali, yang ternyata telah datang mendekati perusahaan istri.


"Sial, apa kamu yang telah memanggil pihak kepolisian?" tanyanya marah.


Masih berposisi mengkuncinya dengan duduk diatas tubuh dia. Tidak banyak pergerakan yang dilakukannya.


"Walau aku tidak memanggilpun, sepertinya pihak kepolisian seakan tahu jika kau sanga berbahaya, jadi ingin membantu kami. Sekarang bersiap-siaplah untuk menerima hukuman atas apa yang kamu lakukan barusan," jawabku.


"Jangan harap. Aku bukan pria bodoh. Hiaaat ... aaa," ujarnya berusaha meronta.


Dengan sekuat tenaga pria musuhpun berontak bangkit, yang berhasil menumbangkanku jatuh terguling dilantai, yaitu saat diriku lemah tenaga sedang mengkuncinya tadi.


"Akan kubuat perhitungan lagi sama kamu. Tunggu saja! Awas."


"Haiiisst, mau kemana kamu. Hei, jangan lari."

__ADS_1


"Hei, tunggu. Jangan lari kamu."


__ADS_2