
Ceklek, pintu telah dibuka Dio. Kursi cokelat itu jadi andalan tamu untuk segera menempati. Setiap tahun terganti spon, sehingga tetap nyaman dan empuk bila diduduki. Ruangan kerja penuh koleksi buku disepanjang tembok. Jenuh sering kali melanda, maka jalan solusinya istirahat sebentar dengan membaca buku. Dari kecil sudah diajarkan untuk mengemari kertas itu. Kata orang tua bisa menambah ilmu dan wawasan.
"Kamu kenapa?" tanya Dio saat membelai rambutku penuh kelembutan dan kemesraan.
Kami duduk berdekatan. Wajahnya fokus ingin mengintrogasi.
"Aku ngak pa-pa, Dio!" jawabku lemah.
"Kamu ngak usah bohong. Apakah ini ada hubungannya dengan perkataan karyawan kamu tadi?" jawabnya saat menatap wajahku lekat-lekat.
"Tidak ada, Dio. Beneran, aku ngak pa-pa."
"Ya sudah kalau kamu baik-baik saja. Sekarang aku sudah mengantar kamu kerja, jadi sekarang aku akan pulang dulu, sebab papa kamu tadi mau mengajak ke suatu tempat. Kamu bisa jaga diri sendiri 'kan?" tanya Dio berusaha pamit.
"Hemm. Jangan khawatirkan itu. Disini banyak orang yang bisa kumintai tolong. Kamu hati-hati dijalan nanti."
"Jangan terlalu dipikirkan masalah ucapan orang-orang tadi, sebab tak baik untuk kecantikanmu yang kelihatan cemberut ini," cakap Dio yang mencubit kecil pipiku.
Manis perlakuannya, dan aku suka. Berasa dimanja saja, padahal umurku sudah kepala tiga, tapi masih saja ingin bermanja ria sama pasangan sendiri.
"Heem. Iya, Dio!."
__ADS_1
"Ya sudah aku akan pergi dulu sekarang."
"Iya, kamu jangan ngebut-ngebut dijalan nanti."
"Iyah."
Saat Dio mulai pergi, seperti ada sesuatu yang hilang dan aku tak tahu apakah itu.
"Tunggu Dio," cegahku saat Dio mau melangkah keluar dengan tangan sudah memegang knop pintu.
Bhuughk, sebelum Dio berbalik badan, tanpa ragu-ragu langsung saja kutubruk tubuhnya dari dibelakang untuk segera memeluknya.
"Maafkan aku Dio. Atas semua sikapku maupun ucapan-ucapan para karyawanku tadi. Sungguh aku tak ingin kamu sakit hati maupun membenci," ucap penuh penyesalan dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Aku baik-baik saja, Dilla. Tidak usah kamu dengarkan kata orang-orang itu, yang tak tahu bagaimana rasa hati kita sekarang ini. Mereka hanya pandai bicara, tanpa tahu kebenarannya diantara kita," Dio menenangkanku sambil mengusap halus pipi ini.
"Walaupun begitu, aku menganggapnya masih tak baik, sebab aku tak mau engkau jauh disaat perkataan mereka memang ada benarnya."
"Jangan berpikiran terlalu jauh, sebab itu tidak mungkin kulakukan."
"Aku memilihmu dikarenakan sekarang ini mulai membuka hatiku untukmu, dan bukan hanya semata-mata ingin mencari pria yang kaya, melainkan hati yang tuluslah yang kucari, dan itu kudapatkan darimu sekarang ini. Maafkan aku Dio," ucapku sudah menitikkan air mata.
__ADS_1
"Sudah ... sudah sayang. Masak yang dihina aku, tapi kamu yang menangis," ucapnya menyejukkan jiwa sambil tangan mengusap airmata yang telah jatuh meleleh meluncur dipipi.
"Tapi Dio?."
"Sudah, sayang. Orang hanya iri saja sama hubungan kita. Apalagi aku tampan dan imut begini, pasti tidak menyangka saja kamu bisa mendapatkamu."
"Dih, kegedean banget percaya dirinya."
"Hahahah, haruslah."
"Isssh, orang serius dia bercanda melulu."
"Bermaksud agar kamu tidak sedi lagi. Aku tidak mau airmata kamu jatuh hanya gara-gara sebuah masalah yang menurutku hanya sepele," cakapnya.
"Hmm, iya." Langsung memeluknya erat.
Kamipun sudah terhanyut oleh pelukan yang memperatkan cinta kami. Benar juga kata papa bahwa Dio adalah pria yang tepat untuk dijadikan imam dalam rumah tanggaku.
Tidak ada salahnya mencoba menjalin hubungan lebih baik lagi.
*******
__ADS_1
Terima kasih bagi yang sudah mampir memberi like, gift, rate. Tanpa kalian author ini tak ada apa-apanya. Terima kasih para pembaca.
Part-part berikutnya akan lebih seru, menegangkan, banyak konflik, romantis, lucu, sedih, perpisahan, cinta abadi, jiwa yang hilang, permusuhan, masa lalu, dan pastinya cinta Dilla dan Dio akan bertambah nano-nano. Ikuti kisah selanjutnya. Terima kasih😊