Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Mencari Jejaknya


__ADS_3

Langkah kaki sudah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah majikan tuan besar, tanpa ada lagi mengucap permisi langsung saja masuk dalam rumah beliau.


"Heeh ... hhhhh, gimana Tuan?" tanyaku yang telah ngos-ngosan kecapek'an habis berlarian kecil.


Tidak sabar ingin mengetahui kedaaannya, namun ternyata masih sama.


"Masih sama, Dio. Belum ada kabar sama sekali darinya," jawab Tuan besar nampak panik, dengan langkah sudah mondar-mandir ke kiri kanan sebab khawatir.


"Tuan tenang saja, aku akan melacak dimana keberadaan non Dilla sekarang. Semoga saja handphonennya masih dia pegang yang telah kutaruh alat pelacak, sehingga kita bisa mudah mencari keberadaannya sekarang," jelasku.


"Iya Dio, cepat ... cepat lakukan itu. Aku begitu takut sekali, kalau sampai Dilla terluka," suruh majikan yang masih tak tenang.


Gawai dalam kantong celana langsung kurogoh. Tidak membuang waktu langsung membuka applikasi pelacak.


"Sebentar."


"Iya Dio, cepetan cari anakku," Suara pilu majikan perempuan yang ikut khawatir.


"Iya, nyonya. Anda sabar dulu dan tenangkan diri, pasti kita akan menemukan non Dilla segera," jawabku mencoba menghilangkan keresahan beliau.


Handphone telah kugeser-geser untuk membuka applikasi pencari jejak.


"Ini dimanakah ini, Tuan? Keberadaan non Dilla sekarang berada disini," tanyaku tak mengerti alamat yang tertera digawaiku.


"Emm, bukankah ini masih berada di tempat acara yang didatangi Dilla?" Keanehan tuan besar menjawab.


"Benarkah? Tapi sangat aneh."


"Sebentar. Aku akan panggilkan sopir yang mengantar kemarin."


Netra masih fokus digawai. Dari letak posisi masih sama dan tidak berpindah ke tempat lain.


"Pak ... Pak, sini!" panggil majikan kepada sopirnya, agar lebih dekat padaku dan beliau.


"Ada apa, Tuan?" tanyanya heran.


"Apakah ini alamat acara yang didatangi Dilla tadi?" tanya majikan.


"Iya, Tuan. Benar-benar ini tempatnya."

__ADS_1


"Kalau begitu kita secepatnya harus segera meluncur kesana Tuan, sebab aku takut kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan lagi pada non Dilla," usulku.


"Iya Dio, bener katamu. Kita harus gerak cepat supaya anakku tak diapa-apain orang. Ayo kita berangkat sekarang!" Antusias majikan berbicara.


Gawai langsung kumasukkan kantong lagi. Bersiap untuk meluncur.


"Ma, doakan kami supaya menemukan Dilla," cakap majikan kepada istrinya.


"Iya, Pa. Kalian hati-hati," balas beliau.


"Iya, Nyonya."


Kami bertigapun meluncur segera ketempat hilangnya Dilla. Sopir sempat mengemudikam dengan ngebut. Tak butuh waktu lama kami sampai ke tujuan, tapi yang membuat kami sedikit kecewa ternyata dalam gedungnya sudah ditutup.


"Semoga kamu baik-baik saja, Non. Maafkan aku yang telah melarikan diri dari kamu, sehingga kamu sekarang hilang karena emosi yang mengusaiku kemarin. Tunggu aku non, pasti aku akan menolong kamu dari semua marabahaya ini!" guman hati yang tak henti-hentinya mencemaskan majikan.


Dibuat bingung atas keadaan gedung. Lampu sebagian mati dan tidak ada orang.


"Gimana ini, Dio! Gedung sudah ditutup, pasti kita tak bisa masuk untuk mencari Dilla" tanya majikan.


"Tunggu tuan, coba kulihat dulu alat pelacaknya. Dimanakah tepat 'nya keberadaan non Dilla," cakapku yang sudah mengambil gawai disaku celana.


"Lihat, Tuan! Non Dilla tak ada didalam, melainkan sedang diluar," ucapku memberitahu.


"Bagus Dio. Mari kita lihat kesana," jawab beliau.


Kami sudah berlarian kecil menuju petunjuk alat yang kupegang. Kaki perlahan-lahan menyusuri sebuah taman kecil, dengan daun-daun terlihat lebat sehingga bisa menutupi keberadaan orang jika ada yang bersembunyi.


"Kita hampir sampai, Tuan!" cakapku pelan, sambil langkah kami mengendap-endap perlahan, takut-takut jika ada musuh yang tiba-tiba menyerang .


Ternyata hanya ada sebuah pemandangan kosong, tak ada siapa-siapapun didepan mata kami, yang pastinya ini hanya ulah orang iseng ingin mengelabui kami, tapi anehnya keberadaan majikan tepat sekali ditempat berdirinya kami, sesuai petunjuk jejak dari gawai. Langkahku mencoba maju terus, untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.


Klek, sebuah kaki telah menginjak sesuatu. Sebab gelap dan terlalu fokus, akupun sampai tak sadar ada benda yang berhasil kuinjak. Tangan kini mencoba memungut benda itu, yaitu ada sebuah tas.


Tak sabar ingin tahu, langsung saja kubuka, dan betapa terkejutnya diriku saat mengetahui gawai majikan telah ada dalam tas yang kutemukan.


"Ah, sial ... sial ... sial!" Kekesalanku tidak menemukan orangnya, melainkan benda yang tercecer ketinggalan.


"Ada apa, Dio?" tanya tuan besar heran yang sudah menghampiri.

__ADS_1


"Ini, Tuan. Kita tak bisa mengetahui keberadaan non Dilla, sebab barang-barangnya telah terjatuh disini," terangku.


Seketika terlihat raut wajah majikan menjadi pucat dan seperti ingin ambruk kebelakang, yang untung saja sang sopir ada dibelakang dan bisa menangkapnya langsung.


"Ayo kita bawa tuan besar ke mobil saja," suruhku pada sang sopir.


"Baik, Mas."


Tubuh majikan sudah kami papah untuk istirahat didalam mobil saja. Jangan katakan namaku Dio, jika tidak bisa menemukan sesuatu petunjuk keberadaan majikan. Kini kucoba telusuri area sekitaran gedung sewa, ternyata lampu masih ada yang menyala menandakan didalamnya pasti masih ada orang.


Tok ... tok, pintu ruangan seperti kamar penjaga telah kuketuk.


Ceklek, pintu telah terbuka, yang telah memunculkan dua orang Bapak-bapak bertubuh kekar.


"Ada apa ya, Mas?" tanya mereka.


"Maaf mengganggu. Ada yang ingin saya tanyakan yaitu mengenai gedung ini?" jawabku.


"Oh iya, silahkan!" jawab mereka ramah.


"Apakah Bapak-bapak tadi melihat wanita ini?" tanyaku sambil menunjukkan foto majikan yang bertengger di handphoneku.


"Iya, kami melihatnya dipesta yang tadi sempat heboh, akibat menolak lamaran seseorang. Waah ... pria itu pasti sungguh malu sekali, kepada semua para tamu undangan akibat si perempuannya menolak lamaran," Keterangan salah satu penjaga gedung.


"Lamaran? Apa maksudnya?" tanyaku kebingungan.


"Gedung ini tadi disewa sama seorang pria yang namanya kalau ngak salah yaitu Joan, terus dia nyiapin semuanya digedung ini, dengan hiasan serba mewah untuk melamar kekasihnya, tapi sayangnya si ceweknya menolak. Kasihan banget si prianya, dan kelihatan sekali dia tadi begitu emosi," ujar para penjaga gedung menjelaskan.


"Iya bener, pasti dia malu dan sungguh malang nasibnya!" simbatan penjaga lain.


"Yang kalian katakan itu beneran 'kah?" tanyaku yang tak percaya.


"Bener, Mas."


"Oh ya sudah, Pak. Terima kasih atas informasi dan penjelasannya tadi," ujarku ingin berpamitan.


"Iya, sama-sama, Mas!" jawab mereka tersenyum ramah.


"Aaah, apakah ini ada hubungannya dengan Joan. Tapi kenapa? Apa dia sakit hati karena ditolak lamarannya? Tapiiiiii, bukankah Joan sangat mencintai non Dilla? Aaah, pasti ini tidak mungkin dia yang melakukannya, pasti ini semua adalah ulah orang lain. Tapi siapa?" rancau hati yang terus saja bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2