Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Semua Sepakat Honeymoon


__ADS_3

Badan terasa segar sekali saat mata mulai sayu-sayu terbuka. Hal yang pertama kulakukan sekarang adalah melihat kearah suami, yang ingin kuketahui keadaannya saat tengah kejamnya kubiarkan tidur di sofa. Hatipun sedikit ada rasa penyesalan, namun mau gimana lagi jika aku masih saja belum siap untuk melayani haknya.


"Huuuaaah, ternyata Dio sudah bangun! Heh, pasti dia sedang sibuk didapur," bathin hati berbicara.


"Semoga Dio, tidak cerita sama sekali pada orangtua. Bisa matilah aku nanti. Orangtua jika tahu, pasti akan menebas leherku langsung, heehhhh! Dasar istri pendosa!"


Kini akupun langsung bangkit dari pembaringan untuk mencuci muka, gosok gigi, lepas 'tuh membersihkan diri. Setelah mandi, kini akupun disibukkan oleh aktifitas merias diri dengan pakaian lengkap untuk bekerja ke perusahaan. Walau hari masih kelihatan agak gelap, aku ingin pergi kekantor untuk segera membereskan berkas-berkas yang belum sempat terurus, yaitu saat beberapa hari cuti sebab acara pernikahan dan mengikuti beberapa ritual adat sebelum menikah.


"Pagi, Dio!" sapaku saat suami sibuk memasak.


"Pagi juga. Tumben waktunya belum bangun, sekarang sudah rapi begini?" tanyanya.


"Iya nih, aku mau ke perusahaan mengerjakan semua pekerjaan selama aku cuti," jawabku menjelaskan.


"Ooh. Kata kamu, badan sedang lelah?" imbuh tanya Dio.


"Semuanya hilang sebab kepentok mau kerja!" jawabku santai.


"Ohh," jawabnya yang kini memberikan piring untuk wadahku makan.


Dio telah mendecitkan kursi untuk digesernya kebelakang, agar dia enak untuk duduk yaitu supaya segera bergabung denganku untuk makan.


"Makanlah yang banyak, biar kamu sehat selalu. Apalagi dengan sayur-sayuran ini," suruh Dio penuh perhatian.


"Iya, heeem!" jawabku tersenyum ramah padanya.


"Wah ... wah, kalian ini pagi-pagi sudah main mesra makan. Ngak ngajak dan menunggu kami lagi?" ujar mama yang baru datang.


"Habisnya mama molor melulu sih!" ketusku menjawab.


"Haaist, anak ini. Mama bukan molor, tapi memang kalian aja yang sudah bangun pagi-pagi," jawab ma

__ADS_1


"Oh ya, kamu rapi banget pakai pakaian kantor, mau kemana?" tanya mama.


"Ya, ke kantorlah, ma! Masak mau ke pasar" jawabku.


"Apa? Enggak ... enggak bisa, kalian baru saja menikah, masak sudah main nyerobot mau kerja," Keheranan mama berkata.


"Maksudnya?" tanyaku binggung.


"Maksud mama, kalian itu seharusnya bulan madu dulu," suruh jawab mama.


"Uhuuuk ... uhuuuuk," Suaraku terbatuk-batuk tersedak, akibat kaget atas ucapan mama.


"Kamu ngak pa-pa," ucap Dio khawatir, sambil menyodorkan segelas air putih.


"Uhuuk ... aku ngak pa-pa, makasih!" balik ucapku.


Mata menatap melotot ke arah mama, dengan mulut berkomat-kamit akibat ngedumel marah sama beliau. Namun pada kenyataannya mama malah tersenyum lebar seperti mengejek dan berharap sesuatu yang lebih pada kami.


"Aku harus cari alasan supaya mama tak memaksa kami untuk bulan madu," bethin hati yang berpikir.


"Tapi ma, kerjaan dikantorku numpuk banyak sekali, yang secepatnya harus kukerjakan," Percobaan alasanku.


"Ngak ada tapi-tapian, semua ini wajib dan harus. Pokoknya mama ngak mau tahu alasan apapun dari kamu. Yang jelas kalian hari ini juga akan berangkat, sebab mama sudah memesankan tiket kepada kalian ke Singapura," jelas mama ngotot atas keinginan.


"Aaah, mama ini. Seenaknya saja mengaturku, dan kenapa juga ngak bertanya padaku dulu, apakah aku setuju atau tidak? Terlalu ikut campur banget, sebel deh aku sama kamu, ma!" keluhku dengan muka cemberut masam.


"Iya, ma. Masalah itu nanti saja, 'kan bisa lain kali. Mungkin Dilla memang lagi banyak kerjaan yang harus diselesaikan sekarang," pembelaan Dio.


"Ngak bisa. Pokoknya nanti sore kalian akan berangkat, jadi persiapkan pakaian kalian untuk dibawa. Eeem ... ngomong-ngomong, mama tahu sekali jika kalian semalam belum melakukan ritual itu, sehingga aku mencari akal untuk kalian. Lagian ngak baik Dilla, untuk menolak hak suami, dosa sampai tujuh turunan tahu," jelas mama mengomel.


"Ada apa sih kalian ribut pagi-pagi begini!" ucap papa tiba-tiba yang ingin bergabung dengan kami.

__ADS_1


"Pagi kak Dilla, pagi kak Dio!" sapa adikku Andi yang tengah berjalan dibelakang papa.


"Pagi juga," jawab aku dan Dio secara kompak.


"Itu loh, pa. Pengantin baru ini kusuruh honeymoon biar mereka akrab, tapi sayangnya Dilla menolak dengan alasan perkerjaan," penjelasan mama pada papa.


"Kamu ngak usah terlalu dipusingkan masalah pekerjaan, Dilla. 'Kan ada papa, jadi semua pasrahkan sama papa, biar nanti semua pekerjaan itu biar papa yang mengerjakan," jelas papa.


"Aaaah, kenapa semua orang malah setuju kami honeymoon? Hu ... hu ... hu, sial ... sial. Pasti aku bakalan ngak bisa lolos dari Dio kali ini," rancau hati yang kesal.


"Bener, tuh kak. Lagian kalian itu sering berantem, sekali-kali rujuk baikkan menikmati masa-masa cinta kalian, kenapa?" saut jawab adikku.


"Haaaist, anak kecil tahu apa?" sewotku menjawab.


"Heeh, oklah. Asalkan Dio mau juga," cakapku sambil menyendok makanan, dengan mata melirik ke arah Dio, yang sembari tadi berada duduk disampingku.


"Tolak ... tolak ... tolak ... tolak, Dio." Rancau hati berharap Dio menolaknya.


"Aku menurut saja sama kamu. Kalau kamu mau, pastinya nanti aku juga akan ikut," mudahnya Dio menjawab.


"Uhuuuk ... uhuuk," Untuk yang kedua kalinya aku keselek, dengan tangan berusaha menepuk-nepuk dada berusaha menghilangkannya.


"Kamu ngak pa-pa?" tanya kekhawatiran Dio mengelus-elus belakang punggungku.


"Eeem," jawabku melambai-lambai tangan, berusaha memberi jawaban bahwa aku baik-baik saja, padahal kenyataannya tidak.


"Naaah, Dilla. Kamu dengar sendiri 'kan kalau suami kamu saja nurut, jadi rencana honeymoonnya tetap akan terlaksanakan, yaitu berangkat hari ini," cakap beliau.


"Iya, Dilla. Tak baik jika pengantin baru terlalu fokus pada pekerjaan, sementara kamu orangnya terkenal tak pernah kekurangan uang. Bener kata mama, kalian harus bulan madu untuk menenangkan sejenak hiruk pikuk kota, serta agar keharmonisan cinta kalian bertumbuh semakin kuat, sebab papa merasa diantara kalian ini masih ada rasa canggung dan malu-malu pada diri masing-masing kalian," jelas papa.


"Iya pa," jawabku nurut.

__ADS_1


Acara sarapanpun telah selesai, dan kini aku tengah disibukkan dengan acara mengemas pakaian untuk honeymoon selama seminggu dinegeri orang. Bakalan terjadi perang antara aku dan Dio, tapi takut jika gagal semua sebab masih ada rasa takut. Sebagai istri pasti banyak dosa, sebab tidak bisa melayani dengan baik.


__ADS_2