
Luka sudah sembuh, dan kini aku disibukkan membantu pekerjaan istri. Walau dia bisa bekerja sendiri, tapi harus tetap kujaga agar sewaktu-waktu ada serangan. Mertua tidak main-main kali ini, dalam ketatnya mengawal dan menjaga keselamatan kami.
Pengawal dibuat sedetikpun tak boleh lengah mengawasi, sebab ancaman terluka pada kami bisa saja terjadi sewaktu-waktu lagi. Beberapa pihak kepolisianpun tak luput juga ikut mengawasi gerak-gerik kami, dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Entah sampai kapan situasi seperti ini, yang jelas semua tak akan berhenti menjaga sampai musuh utama ditemukan.
"Apa yang kamu pikirkan, sayang?" tanyaku memeluk istri dari belakang.
"Tidak ada, lagi ingin santai saja," jawabnya singkat sambil mengelus pelan kedua tanganku, yang sudah terlingkar diperutnya.
Cerahnya awan disiang hari, nampak begitu empuk dan putih bersih seperti kapas yang terbang di udara. Netra sudah sama-sama memandang ke arah jalanan, yang nampak ramai kendaraan berlalu lalang melajukan lajunya.
Sepertinya sedang ada beban pikiran yang ada padanya. Wajahnya sudah berbeda ada kekusutan.
"Apakah kita akan terus begini? Rasanya hidup bagai terpenjara saja, tidak bisa ngapain-ngapain. Rasanya sangat membosankan sekali, hidup kita dikejar-kejar seperti ini. Hhhhh, kenapa pelaku itu tidak mau menampakkan diri, agar kita bisa menangkapnya dan mengakhiri semua ini? Udah capek bersembunyi dalam pengawalan. Menurut kamu bagaimana tentang masalah ini?" keluh kesah yang tidak sabar.
"Kamu yang sabar, sayang. Yakin saja semua ini akan cepat berakhir. Kalau pelaku menampakkan diri, namanya nanti bukan penjahat. Kamu jangan takut, aku ada disini akan selalu melindungimu," jawabku bermanja ria menyandarkan kepala dibahunya.
"Aku paham, Dio. Tapi aku begitu takut jika musuh itu datang dan berusaha mencelakai kamu lagi. Rasanya sungguh tidak tega sekali melihat kau terluka seperti hari kemarin," tutur lembutnya bernadakan ada rasa khawatir
Paham juga kalau ada kerisauan yang berlebihan. Mungkin kelakuan pelaku kemarin membuat Dilla semakin was-was dalam ketakutan. Namanya juga taruhannya nyawa, pasti ada sedikit agak ngeri supaya tetap bisa hidup bersama, tapi jika takdir sudah ditangan pelaku nak berbuat apa lagi. Sebagai manusia hanya menjalani perjalanan takdir, sesuai perjalanan yang telah ditentukan olehNya.
"Terima kasih atas perhatian kamu. Sungguh beruntung hidup ini, sebab punya istri yang selalu saja mengkhawatirkan suami yang sebenarnya tak pantas bersanding denganmu," ocehanku yang spontan keluar.
Dilla yang awalnya menatap seksama dan menikmati keindahan alam, didalam perusahaan lewat kaca yang tembus pandang, kini sudah berbalik badan secara mendadak, dengan sorotan matanya begitu mulai menatap tajam ke arah diriku. Sepertinya dia akan siap mengeluarkan tanduk.
"Kamu kok gitu sich sayang ngomongnya? Apakah dari awal aku menikah dengan kamu itu melihat berdasarkan materi, harta, ketampanan, dan wibawa, enggak 'kan? Jangan asal bicara," cecarnya ada guratan emosi.
__ADS_1
Salah paham lagi. Banyak yang perlu diluruskan diantara kami. Kalau salah satu tidak ada yang mau mengalah, pasti didalam rumah tangga banyak kekacauan, yaitu saling ribut akibat perbedaan pendapat atau penuturan.
"Bukan gitu!" jawabku bingung saat melihat wajah istri sudah cemberut, dengan tangan bersedekap didepan seperti tidak suka.
"Bukan gitu ... bukan gitu. Aku tidak suka kalau kamu mengatakan itu. Aku menikah dengan kamu memang awalnya karena paksaan akibat sebuah perjodohan, tapi setelah berpikir dan diteliti lebih dalam ternyata aku sangat ... sangat mencintaimu, hingga dengan ikhlas dan setuju untuk kau pinang menjadi istri," ujar Dilla mengungkapkan segalanya.
Nah, ternyata tebakan benar. Dari ekspresi mulai mudah menebak. Karena sudah keseringan bersama, jadi hafal sama sifat dia.
"Hihiii. Benarkah itu?" tanyaku tak percaya.
"Kalau kau tidak percaya ya sudah, yang tahu semua itu hanya diriku sendiri. Apa perlu aku membelah dadaku, agar dirimu bisa melihat semuanya," ketus masih mengerucutkan bibir.
Lucu dan gemes saja jika dia selalu marah. Ingin sekali mengerjainya terus, namun takut jika berlebihan akan jadi boomerang malah parah ngambeknya. Harus ekstra sabar menghadapi hal beginian, biar tidak ada perpecahan akibat salah paham.
"Ciiih, dasar suami tak pengertian dan tidak peka sama istrinya sendiri.
"Hahahah, iya ... iya. Maafkan aku jika menyingung perasaan kamu tadi. Kutahu cintamu begitu kuat juga padaku, hingga sedetikpun rasanya tak ingin berpisah, benar apa tidak?"
Godaku lagi sambil meletakkan telapak tangan dikedua pipi Dilla, hingga bibirnya yang berwarna merah menjadi begitu moncong.
"Tahu ah." Melenggang pergi yang sepertinya parah menyingung.
"Sudah ... sudah, aku tadi cuma bercanda. Tapi aku pun juga menerima perjodohan itu, sebab juga telah jatuh cinta kepadamu,"
__ADS_1
Jujurnya ucapan sambil memeluk erat istri, yang tercium wangi sekali aroma tubuhnya.
"Emm, benarkah itu? Kira-kira yang jatuh cinta duluan diantara kita siapa, ya?" ucapnya bertanya.
"Yang jelas bukan aku duluan," Gamblang perkataan.
"Ciiieh, masak tidak mau mengakui. Jangan-jangan kamu itu ketika kita pertama kali bertemu, sudah terpesona akibat aura kecantikan ini yang begitu menggoda," Kepedean Dilla menjawab.
"What? Pede kali istriku ini. Lagian kamu itu dulu tak begitu menarik, sebab perawan tua dan sukanya hanya marah-marah," tuturku terus terang.
"Hiliiih, tua-tua begini tapi akhirnya bisa mengaet dan meluluhkan hati kamu juga 'kan? Dasar kurang penuh keberanian sebagai lelaki, yang tak mau mengaku duluan. Bocil cupu dan penakut."
Jika mengenang masa kemarin, rasanya lucu ingin tertawa saja. Banyak kenangan diantara kami. Dari yang sering berantem, sampai malu-malu ingin lebih mendekatkan lagi hubungan kami. Kalau bukan karena orangtua menjodohkan, pasti kami akan menjadi tokoh tom jerry, selalu bermusuhan tidak ada yang ingin mengalah.
"Hihhihiiii, iya juga sich. Walau kemarin sempat tak suka atas sikap kamu itu, ujung-ujungnya hati masih berlabuh juga pada istriku tercinta sekarang."
"Emm, baguslah. Terima kasih, Dio. Kemarin-kemarin kau begitu sabar menghadapi tingkahku, dan selalu saja menyadarkan diri ini jika ada salah dalam ucapan maupun tindakan," ucapnya sendu.
"Iya, sayang. Itulah yang dinamakan jatuh
cinta, yang dapat mengalahkan segalanya termasuk keegoisan, tapi dengan syarat dalam diri kita sendiri mau berubah dan menerima semua nasehat itu. Cinta yang begitu kuat telah berhasil menumbangkan segala kesadaran diri, atas betapa besarnya sayang yang patut dipertahankan," jelasku.
"Iya, suamiku tercinta."
__ADS_1
Kami terus saja berpelukan, merasakan kedamaian atas betapa kuatnya cinta kami untuk tetap berpegang teguh, agar bisa bersama selama-lamanya sampai mautlah yang bisa memisahkan. Wanita yang menjadi peneman dalam hidupku, kini adalah suatu anugrah yang harus selalu disyukuri.
Awal kisah perjalanan cinta yang rumit, namun kami telah dipersatukan oleh takdir, yang sudah digariskan oleh Sang pecipta alam semesta ini.