Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Mengejar Untuk Menangkapnya.


__ADS_3

"Hei kamu, berhenti! Hei, haaaaah ... sial! Kenapa bodoh, bisa melepaskan dia," ujarku mengumpat pada diri sendiri.


Tak buang-buang waktu lagi, aku langsung berlari mengejar musuh yang sudah lari terbirit-birit menuruni anak tangga, akibat takut akan kedatangan pihak kepolisian. Satu persatu kaki terus saja berlari menuruni anak tangga, berusaha menangkap pria penyusup.


"Hei, pria br*ngs*k! Berhenti kamu," teriakku mencoba mencegahnya melarikan diri.


Suara hentakan kaki kami mengalun keras. Tidak ada jeda diantara kami. Saling berlomba menuju pecapaian masing-masing, yaitu dia ingin kabur sedangkan diri ini menangkap. Lawan begitu kuat sampai kewalahan mengatasinya. Masih penasaran atas identitas dia, namun sepertinya cahaya penerangan masih tidak berpihak.


Ternyata dia tak mengindahkan sama sekali atas teriakkanku. Tak banyak pikir panjang lagi, saat tubuhnya tepat didepan mataku, dengan cekatan kaki jenjang ini kulayangkan dibelakang punggungnya untuk mencoba menendang, hingga mau tak mau kami berduapun telah jatuh tersungkur berguling-guling dianak tangga. Sialnya lagi pria itu secepat kilat bangkit dari jatuh, dan terus saja berlari menghindariku yang terus saja ingin tetap mengejarnya.


"Hei kamu, berhenti ... berhenti!" teriakku lagi.


Pintu dipaksa terbuka, sejengkal lagi bisa meraihnya, namun dia bak kilat petir yang terus bisa jauh menghindar.


Terlihat pria itu sudah menuju tempat parkir perusahaan dengan posisi terus saja berlari, yang terlihat sekarang seakan-akan menuju motor yang terparkir rapi ditempat pakiran.


"Hei, tunggu kamu! Jangan pergi, hei kamu! Mau ke mana? Jangan lari kamu," cegahku saat pria itu sudah nangkring duduk diatas motor.


"Aaah, sial. Bakalan ngak bisa menangkap."


Klek ... klek, brum ... beruuuum, suara motor telah berhasil dengan kuatnya dihidup dan gas.


Wajah kaget, dia bakalan bisa lolos.


Weeeeeeees, dengan sekencang-kencangnya motor kini berbalik mengarah ke tempatku yang sedang sibuk mengejarnya tadi.


Weees ... bhuuughhh, dengan kecepatan motornya dia berhasil menendang tubuhku, hingga jatuh terduduk ke belakang dengan kuatnya.


Beberapa kali mengumpat dan marah pada diri sendiri, karena satu orang saja tidak bisa menangkapnya. Sangat menjengkelkan dalam situasi ini.


"Rasakan itu, pria lemah. Hahahaha, aku tidak akan melepaskan kalian berdua, untuk segera menemui ajal kalian, ingat itu!" teriaknya mengancam sebelum benar-benar pergi.


Tangan mengepal ingin sekali mengajaknya duel lagi.

__ADS_1


"Berhenti kamu, jangan coba-coba melarikan diri! Dasar pengecut," teriakku.


"Tangkap saja kalau bisa, hhahaha! Untuk sementara kita berpisah dulu. Simpan dulu tenagamu yang lebay itu. Bye ... bye!" ledeknya.


"Jangan kabur kamu. Sini, kalau masih punya nyali."


Weees ... bruuuum, dengan kecepatan penuh pria itu telah berhasil melarikan diri dengan motornya.


"Aaaaaaaah ... sial ... sial! Dasar brengs*k, kau kali ini bisa lolos, tapi lain kali tidak. Lihat saja! Kekesalanku marah-marah akibat tak bisa menangkap pria itu.


"Aaaawww ... aaaw, sssshhh. Kena sial terus dah!" Suaraku kesakitan saat melihat kedua tangan sudah ada goresan luka, yang diiringi memerah sedikit ada darahnya.


"Aaah ... ya ampun, Dilla?" ucapku teringat pada istri yang telah pingsan.


"Duh, gimana sama keadaannya sekarang? Kenapa aku bisa lupa sama orang terpenting dalam hidupku? Dasar sangat ceroboh sekali kamu, Dio!" Kesal pada diri sendiri.


Karena keasyikan berkelahi dan ingin menangkap lawan, sampai kelupaan bahwa istri tercinta telah tergolek terluka.


Sekuat tenaga kini aku kembali lagi menaiki anak tangga, yang tak tahu berapa ratus lagi jumlah anak tangganya. Nafas sudah ngos-ngosan kelelahan mengambil nafas, sebab sudah berulang kali naik turun anak tangga, ditambah lagi perkelahian tadi telah berhasil menguras habis tenagaku. Rasanya sudah tidak kuat lagi, ketika nafas susah dihirup lagi.


"Ayo kaki, cepat berjuang. Jangan sampai tidak bisa diajak kompromi. Kamu harus bisa menolong Dilla secepatnya," guman hati harus semangat.


Kaki akhirnya sampai juga ditempat yang dituju, setelah beberapa menit berjuang.


Terlihat dia masih tergolek lemas. Tidak ada pergerakan sama sekali dan itu sangat membuat khawatir.


"Dilla ... Dilla, bangun sayang! Dilla ... Dilla," ucapku menepuk-nepuk pipinya secara kuat supaya sadar.


"Ayo bangunlah, jangan buat aku takut begini!" pintaku yang sudah memeluk tubuhnya secara erat.


"Eeeh ... eeeeh," jawab Dilla lemah, dengan mata antara setengah sadar.


"Hei, bangun. Ayolah sayang."

__ADS_1


"Syukurlah, kalau kamu ngak pa-pa."


Lampu kini sudah normal menyala kembali, hingga terlihat jelas semua ruangan kantor Dilla.


Tangan secepat kilat mengambil gawai Dilla, yang tadi sempat terlempar dilantai. Menekan tombol dengan cepat. Tidak ingin membuang-buang waktu, diri ini kini berusaha menghubungi pihak ambulan untuk segera minta pertolongan, agar Dilla segera dibawa ke rumah sakit, sebab kelihatan sekali luka Dilla begitu parah.


"Selamat malam," sapa beberapa orang dari pihak kepolisian, yang kini telah masuk keruangan kantor istri.


"Malam juga, Pak!" jawabku.


"Kami ingin menindak lanjutin atas laporan adanya penyusup yang ingin melukai orang," terang salah satu anggota pihak kepolisian.


"Iya Pak, silahkan. Tapi sayangnya pihak anda sudah terlambat, sebab pelaku yang telah membuat ulah telah berhasil melarikan diri. Saya sekarang hanya bisa meminta kepada pihak Bapak, untuk menyelidiki semua kasus yang barusan terjadi," pintaku menjelaskan.


"Baiklah, kami akan membantu anda menyeilidiki apa yang sebenarnya terjadi, dengan cara meminta kerja sama memberikan keterangan dan sebagai saksi mata atas semua kejadian ini," ujar Pak polisi dengan pakaian seragam khasnya.


"Terima kasih, Pak!" jawabku.


Tangan menyangga kepala Dilla. Berusaha memangkunya. Nafas masih normal, namun sukar membuka matanya.


"Iya, sama-sama. Bagaimana dengan keadaan korban sekarang?"


Beliau menghampiriku, ketika melihat Dilla yang masih pingsan.


"Saya tidak tahu lagi, Pak! Yang jelas pasti lukanya parah, akibat tadi kena pukulan sebuah kursi!" jelasku.


"Baiklah, semoga keadaan korban baik-baik saja. Kita akan memanggil pihak rumah sakit untuk mendatangkan ambulan segera," ucap beliau memberi usulan.


"Saya tadi sudah menghubungi pihak mereka. Semoga saja secepatnya mobil ambulan akan segera datang menolong, sebab keadaan korban kelihatan memprihatinkan sekali," ujarku sudah mulai gelisah akibat kekhawatiran.


"Semoga saja."


Dugaan ternyata benar saja bahwa ambulan telah datang secepat kilat ke perusahaan Dilla. Dengan berlarian kecil mencoba mengendongnya. Lewat lift biar cepat. Takut kalau kelamaan menunggu pihak rumah sakit datang mengatasi pertolongan pertama, pasti akan berbahaya bagi Dilla yang terus saja pucat dan melemah. Sesampainya dekat mobil ambulan, tanpa banyak membuang-buang waktu kamipun segera membawa Dilla kerumah sakit

__ADS_1


Sementara pihak kepolisian telah mendatangkan beberapa anak buahnya lagi, untuk menyelidiki kasus ini. Ruangan kantor istri, sudah berantakan seperti kapal pecah, akibat perkelahian menegangkan diantara musuh tadi.


__ADS_2