Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Akhirnya Bangun


__ADS_3

Bagaikan mayat hidup, wajah Dio begitu pucat. Matanya terus terpejam. Belum ada tanda-tanda kalau dia ingin segera bangun. Dalam hati terus saja berkecamuk banyak penyesalan. Tutur katanya selalu benar, namun diri ini hanya bisa membangkang terus.


"Maafkan aku Dio, aku tidak bermaksud melukaimu. Seandainya selalu menuruti perintah dan kata-kata kamu, pasti semua kejadian ini tak akan pernah terjadi. Aku memang wanita bodoh yang telah dibutakan oleh cinta. Tak seharusnya terlalu mempercayai kedua pacarku yang dulu telah mengisi hari-hari itu. Pantasnya aku memang dipanggil wanita murahan, yang selalu saja percaya oleh buaian dan rayuan gombal seorang pria. Tutur katamu yang kasar ternyata ada sebuah kenyataan bahwa ingin melindungi. Sungguh aku sangat menyesal atas kelalaian kemarin, saat diri ini sempat menaruhkan cap hama penggangu hubungan pacaranku, tapi semua itu ternyata hanyalah sebuah omong kosong tentang kebenaran disebalik kebaikan hatimu untuk melindungiku, maafkan aku Dio!" Bathin hati yang merasa bersalah, dengan linangan airmata yang terus saja meluncur pelan ke pipi.


"Aku masih tidak menyangka kalau kita telah dijodohkan, tapi mengapa engkau bungkam tidak mau memberitahu atas kenyataan semua itu? Aku ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Apakah cinta sejati adalah tujuan utama kamu? Tapi kenapa harus rela menjadi pengawal? Kedekatan kita yang singkat, sangat berkesan sekali untukku, sampai-sampai rasa-rasanya tidak bisa berjauhan lagi darimu. Ooh Dio, betapa pesonamu telah meluluh lantakkan pertahanan yang kemarin sangat kokoh untuk pria-pria br*ngs*k itu. Semoga saja kedepannya kamu bisa menerima dengan legowo atas semua kesalahanku itu," rancau hati penuh penyesalan, yang mana netra terus saja menatap wajah Dio.


"Kalau memandang wajahku jangan sampai keterlaluan begitu, nanti bisa-bisa nambah kesemsemnya," Suara Dio yang mengagetkanku saat sedang melamun menatapnya.


"What? Aku? Kesemsem sama kamu? Ngak salah? Jangan asal ngadi-ngadi kalau bicara," jawabku nyolot tak terima.


"Percaya diri amat jadi orang. Dasar."


"Bisanya cuma ngeles. Mau bukti?" tantangnya bernada lemah.


"Apa ... apa itu? Coba katakan?" balik tantangku kesal.


"Airmata Non masih ada tuh dipipi. Pasti kamu sangat menyesal dan ingin berbaikan denganku. Iya 'kan? Orang ganteng selalu diharapkan," ucapannya yang menyebalkan.


"Mana ... mana? Ngak ada pun, jangan asal berbicara sembarangan. Percaya diri amat jadi orang," jawabku mengusap-usap pipi.


"Aaah ... sial, kenapa aku sampai lupa kalau habis menangis karena dia!" guman hati yang lagi benci.


"Ooh ya sudah kalau ngak ada, berarti aku hanya salah lihat. Memang aku ini pria yang ngak berguna dan bermanfaat bagi orang lain, sehingga aku ini ya begitulah, sangat terlupakan!" ketus ucapan Dio.


"Maksudnya? Terlupakan gimana?" tanyaku pura-pura binggung.


"Hhhh, sudah lupakan saja. Rasanya malas sekali aku bahas, yaitu saat orang yang aku ajak bicara tidak peka sama sekali," Dio kelihatan merajuk.


Wajah Dio kelihatan sekali ada rasa kecewa atas kepura-puraanku, dan aku sangat menyukai atas sikapnya yang kelihatan manja tapi sangat mengemaskan. Tangan gatal ingin mencubit pipinya.


"Shhhssh, boleh minta tolong!"


"Apaan?"


"Hadeh. Kasar amat jawabannya. Kayak tidak suka saja aku ngomong."

__ADS_1


"Hhh, bukan gitu. Ucapanmu terdengar menyebalkan sekali."


"Masak? Tapi ngagenin 'kan?"


"Dih, besar kepala akut. Terlalu kepedean tingkat dewa."


"Heheh, anda betul sekali. Sudah, ayo antar aku ke toilet sebentar. Bisa?"


"Icch, 'Kan kamu cowok. Tidak malu apa menyuruhku yang mengantar?"


"Hadeh. Apa tidak lihat. Kalau sedang sakit."


Bibirnya menyunging tidak suka. Menjadi kasihan juga jika tidak diantar. Sepertinya dia sedang kebelet akut.


"Iya ... iya, sini aku antar. Ngak usah banyak bawel lagi."


"Nah, 'kan begitu bagus. Tidak usah banyak menawar-nawar dari tadi."


"Ayo bantuin."


"Issh, sabar kenapa!"


Tidak bisa diajak berjalan cepat, sebab wajahnya terus saja meringis kesakitan. Tidak tega saja kalau mengelandangnya agar tidak lelet tertatih begitu.


"Pelan-pelan jalannya."


"Hmm, ini sudah pelan banget."


Lama sekali menunggu dia yang tengah sibuk dalam toilet. Andaikan pria saja sudah kudobrak pintu, agar dia bisa cepat menyelesaikan aktifitas didalam itu.


"Dio, sudah belum sih. Lama banget. Buang air kecil lama sekali. Emang sambil ngekuarin batu juga 'kah?"


Ceklek, pintu dibuka pelan.


"Haiist, tidak sabaran betul sih jadi orang. Orang sakit pasti lambat mengerjakan sesuatu, gimana sih! Sangat kurang memahami."

__ADS_1


"Hehehe, paham. Tapi kaki pegal banget nih nunggu kamu dark tadi sebab sambil berdiri begini."


"Itu resiko sebab semua gara-gara Non juga."


"Iya ... iya. Semua ini karena salahku."


Dia yang masih tertatih berjalan, sudah kutuntun kembali dipembaringan ruang rawat


"Ambilkan aku minum saja, haus sekali nih! Tenggorokanku terasa kering sekali," perintahnya.


"Iiiist, majikan bukannya dilayani malahan anak buah minta pelayanan," keluhku.


"Apa ngak lihat aku sedang terluka, bukankah ini juga akibat ulah non Dilla yang ingin kuselamatkan dari penculikan. Lagian disini non Dilla yang menungguku, jadi tak ada orang lain yang kumintai tolong selain kamu," ucap Dio yang terus saja berbicara.


"Ya ... ya, aku ambilkan. Jangan merepet kayak mulut emak-emak. Tapi ngak boleh minum banyak-banyak sebelum kamu k*ntut dan banyak pergerakan kaki kamu, sebab kamu 'kan habis selesai dioperasi," jawabku pasrah.


Sebuah air putih dalam botol telah kutuang dalam cangkir, dan kini telah kuusahakan untuk menyuapinya dengan sendok secepatnya kepada Dio. Terlihat air yang kuberikan sampai habis setengah, yang kemungkinan Dio benar-benar kehausan.


"Alhamdulillah," ucapnya.


"Makasih, Non."


"Hemm. It's ok."


"Gimana luka kamu? Masih terasa sakit parah 'kah? Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan kamu sekarang," tawarku.


"Aku baik-baik saja."


"Beneran nih?"


"Iya."


"Awas kalau mengeluh ada yang nyerilah, cenut-cenutlah, atau yang lainnya."


"Insyaallah, ngak akan."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu."


Tidak ada kursi yang bisa aku dudukki. Terpaksa duduk dekat dirinya yaitu ditempat pembaringan. Selimut kurapikan agar bisa menutupi kaki jenjangnya.


__ADS_2