Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Mertua Tidak Senang Dia Datang


__ADS_3

Sikap Reyhan semakin keterlaluan. Dia makin sering ke perusahaan Dilla. Merasa risih dan jengah melihatnya, namun demi kebaikan pekerjaan maka untuk sementara membiarkan saja, namun jika berbuat ulah yang macam-macam maka tidak akan tinggal diam.


Jika mereka sedang sibuk membicarakan hal penting mengenai pekerjaan, maka aku akan menepi dulu takut kalau menganggu. Rasa cemburu bisa menimbulkan kobaran emosi. Takut jika tidak terkontrol, akan berakibat fatal. Dilla ternyata mulai lupa atas kelakuan Reyhan kemarin. Entah termakan omongan dan rayuan apa, sehingga Dilla sekarang begitu percaya dan akrab sekali.


Memeriksa beberapa file diluar ruangan. Duduk santai sambil menunggu si artis keluar dari tempat kerja istri. Pengawal masih banyak yang berseliweran ditempat kerja. Agar tidak diketahui musuh, bakan ada beberapa yang menyamar sebagai karyawan dengan pakaian biasa dan formal. Jika memberi hormat dengan menundukkan kepala, berarti itu ada adalah pengawal sewaan. Begitu banyak yang dikerahkan, sehingga tidak hafal wajah mereka.


"Eeh, kenapa kamu ada diluar, Nak?" tanya mertua laki-laki yang baru saja datang.


"Eh, Pa. Tumben kesini?"


"Lagi mau berkunjung sama kalian saja, dan ingin melihat keamanan yang ada disini."


"Duduk, Pa!" tawar dengan ramah.



Menepuk kursi yang memang disediakan untuk karyawan ketika sedang menunggu perintah masuk, dan selain itu memudahkan para pengawal istirahat ketika kelelahan menjaga didepan pintu.


"Iya. Terima kasih. Oh ya, kamu belum jawab kenapa berada diluar?"


Tidak ada tingkatan apakah yang duduk bos besar atau bawahan. Semua sama, yang terpenting nyaman ketika dibuat istirahat tempat duduk itu.


"Didalam ada orang penting yang lagi ketemu Dilla."


"Oh gitu. Siapa dia? Kok kayaknya lebih mementingkan tamu itu dari pada suaminya sendiri."


Pertanyaan beliau bikin bingung menjawabnya, tapi kalau tidak dijawab takut tersinggung sebab tidak sopan.


"Biasalah, Pa. Teman lama dia dulu, yaitu Reyhan."


"Apa?"


"Kamu ngak salah 'kan?"


Duh, ekspresi beliau yang keget seperti mulai menimbulkan emosi.


"Enggak, Pa. Kalau mau bisa lihat sendiri didalam untuk memastikannya."


"Ngapain tuh bocah datang kesini. Apa tidak kapok bikin ulah dan mempermalukan anak, menantuku kemarin? Dasar pria tak tahu diuntung."

__ADS_1


'Kan beneran emosi. Nyesel jadinya ngasih tahu. Lebih baik biar beliau tahu sendiri saja tadi. Serba salah jadinya. Kalau sampai tersulut kemarahan, bisa brabe juga nanti untuk menenangkan.


"Katanya sih mereka lagi sedang ada urusan bisnis."


"Binis apaan? Dilla ini makin bodoh saja, mau berbinis sama dia. Lama-lama bikin emosi saja tuh anak. Apa masih kurang dia mempermalukan kemarin? Kok bisa-bisanya sih masih berbaikkan sama dia," Luapan emosi mulai keluar.


"Eeh, mau apa, Pa?" Melihat beliau sudah berdiri, bikin khawatir dan kaget saja.


"Aku mau marahin dia. Tuh anak kalau dikasih tahu tidak mau nurut. Seandainya datang susahnya, siapa juga yang akan dia seret, pasti orangtua dan kamu juga 'kan? Sebelum terlambat, aku harus mencegahnya."


Kalau sudah begini, tidak bisa melarang sembarangan. Orangtua kadang ada benarnya, sebab mereka lebih berpengalaman. Mungkin Dilla memang harus ditegur agar tidak dekat dengan mantan pacarnya itu, biar tidak keblabasan terpengaruh, dikarenakan agar tidak ada rasa sakit hati lagi.


Orangtua mana yang akan tega melihat anak tersakiti. Pasti yang akan marah duluan adalah mereka. Sudah dibesarkan agar bisa mendapatkan kehidupan baik termasuk asmara, bukannya harus disakiti maupun dipermalukan seperti yang Reyhan lakukan kemarin.


"Tapi, Pa-?"


"Sudah, biar Papa yang hadapi. Enak saja, kamu dibiarkan diluar, sedangkan mereka asyik didalam. Apa tidak tahu sopan santun dan cara menghormati suami. Perlu dikucek-kucek tuh sikap Dilla, agar tahu siapa sebenarnya tuh artis."


"Sebenarnya bukan Dilla yang salah, memang saya sendiri yang ingin duduk diluar."


Mengungkapkan kesendirian diluar. Sengaja tidak ingin melihat tawa mereka yang bikin cemburu saja.


"Eeh, tapi, Pa-?


Ingin memcegah, tapi beliau sudah keduluan berjalan tergesa-gesa dan mulai masuk tidak sabar ke ruangan kerja.


Brak, secara kasar pintu dibuka kasar. Suara tabrakan sangat keras mengenai tembok dinding ruangan. Dari hentakan langkah sepertinya beliau memang sudah tidak tahan ingin melabrak saja.


"Eeh, Pa. Tumben kamu datang?"


"Siang, Om!"


Mereka seketika berdiri, sambil menyambut dengan senyuman ramah. Belum tahu saja, kalau sebenarnya beliau masuk ingjn meluapkan sesuatu. Dalam hati kecil ingin tertawa saja, tapi harus disembunyikan agar mereka tidak menyalahkan diriku nantinya.


"Untuk apa dia datang kesini?" Tanpa basa-basi langsung bertanya.


"Maksudnya Reyhan 'kah ini?" Dilla sedang berpikiran bodoh.


__ADS_1


"Hadeh, kenapa kamu malah bertanya kayak orang bego begitu? Kalau bukan dia terus siapa lagi? Memang ada orang lain selain kita, hah?" Kekasaran berbicara.


"Papa, kok gitu sih ngomongnya? Bisa ngak nada dipelankan sedikit, malu tahu."


"Jangan banyak jawab kamu. Aku hanya ingin bertanya pada artis kurang ajar ini. Bikin darting aja nih orang."


"Duh, Pa. Kamu jangan salah sangka dulu, kenapa? Reyhan datang kesini dengan maksud baik-baik."


"Baik apanya? Mau nyakiti kamu dan menghina Dio lagi? Apa kemarin masih kurang, hah?" Kali ini emosi benar-benar meledak.


"Duh, Om. Kok jadi menuduh yang enggak-enggak begitu, ya? Aku beneran bermaksud baik sama kalian. Memang kemarin aku sudah banyak salah, tapi semua orang bisa berubah dan mau sadar diri, tapi kalian malah terus menerus menuduhku yang bukan-bukan?," Reyhan sepertinya tidak suka.



"Hilih, muka kamu itu ketara banget suka membual. Dari sikap saja tidak dapat dipercaya. Omongan tong kosong berbunyi nyaring. Suka membual," jawaban yang sangat memuaskan.


Hanya diam melihat. Lega rasanya mertua membela habis-habisan. Reyhan tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika tuduhan itu memang semuanya benar.


"Sudah ... sudah, jangan diperdebatkan lagi. Kalian mau ribut besarpun tidak ada gunanya, yang ada malah bikin malu saja diperusahaan ini." Berusaha menegahi.


"Pokoknya Papa tidak suka dia ada disini."


"Sekarang pergi dari sini!" usir berliau terang-terangan.


"Icch, tapi, Pa-?"


"Udah, Dilla. Tidak apa-apa. Aku lebih baik memang harus undur diri dari sini sekarang, dari pada keadaan ini akan tambah runyam," Sadar diri juga ternyata dia.


"Tapi, Rey-?"


"Sudah, ngak pa-pa."


"Kalau begitu saya permisi dulu, Om. Bye Dilla," pamitnya yang kini benar-benar akan pergi.


"Iya, Rey. Maaf ya."


"Ok, santai saja."


Papa mertua hanya diam, malahan wajah melengos yang sepertinya tidak sudi lagi melihat wajah artis itu.

__ADS_1


Ketika berjalan melewatiku, matanya sungguh tajam ingin sekali menyalakan tapi permusuhan, tapi aku tidak urung jua kembali menantang dengan lebih melototkan netra.


__ADS_2