
Dengan langkah gontai, kaki berusaha terus melangkah untuk segera masuk ke kamar, yang telah ada sejuta kenangan manis bersama Dio.
Ceklieeek, pintu perlahan kubuka. Tatapan begitu nanar melihat kamar yang tiap hari ada canda tawa diriku dengan Dio, saat kami selalu merasa bahagia dalam adu mulut. Jangan ditanya lagi tentang perasaan ini, pokoknya sekarang itu merasa sudah kacau balau. Ada Kehampaan tanpa Dio, rasanya seluruh raga telah hilang dan semua serasa hambar. Kini tak ada lagi suara maupun seyumannya yang selalu menghiasai hari-hariku.
Pertengahan malam semakin merangkak, dengan tubuh masih terasa lemah. Hal yang ingin kulakukan sekarang hanyalah bisa memejamkan mata, yaitu tidur sejenak untuk berkompromi dengan mimpi, yaitu berharap semua ini hanyalah khayalan mimpi saja dan bisa hilang saat aku terjaga nanti. Namun ternyata semua ini hanya sia-sia saja, gelap yang kutemui dalam memejamkan mata hanya ada bayang-bayang wajah Dio, yang selalu tersenyum manis.
Semua kekacauan ini benar-benar telah membuatku binggung. Berbagai tanya menghantam pikiran berkali-kali, apa yang sebenarnya terjadi. "Apakah ini yang dinamakan cinta sesungguhnya? Apakah aku bisa mencintai Dio?" Kupeluk erat-erat boneka pemberian Dio. Kubenamkan kepala melekat di boneka saat dalam kesendirian dalam kamar, dan sekarang kutumpahkan segala rasa sesak dihati, dengan cara menangis yang sekarang semakin sesegukan mengalirkan derasnya semua air.
"Maafkan aku Dio, aku tidak bermaksud melukaimu. Sungguh, tak menyangka kebaikanmu selama ini hanya bertujuan untuk membahagiakanku, melindungi, dan terutama menyayangi. Rasanya tak pantas sekali diri ini untuk kamu cintai, saat sayatan kebencian merasuk dalam dirimu. Betapa bodohnya diri ini tak mengetahui gerak-gerikmu, yang terus saja membawa sejuta kebahagiaan untukku. Aku hanya ingin dirimu kembali seperti semula, yaitu saat kita selalu tertawa bahagia dalam pertengkaran yang konyol. Maafkan ... maaf, Dio. Aku hanya wanita bodoh yang telah terasuki oleh api kemarahan, sehingga menghina dirimu yang telah berusaha melindungiku," bathin hati yang menyesal, dengan sejuta isak tangis yang kian tak terbendung.
"Cahaya matamu begitu menyiratkan ketenangan, senyuman yang ada pada dirimu begitu indah, menandakan kamu gembira bersamaku. Apakah kamu tak bisa kembali lagi untukku, Dio? Maafkan aku ... maaf ... maaf. Kamu selalu mengedepankan dan mengkhawatirkan diriku, dan kini bathin ini sungguh tersiksa mengkhawatirkan dirimu yang kemungkinan tidak akan kembali lagi didepanku," rancau hati yang kacau, yang kian erat mendekap boneka winne the pooh pemberian Dio.
Hampa hanya memancarkan kesendirian.
Bagaikan serpihan kaca yang retak tak bisa kembali.
Ingin kugenggam lekat tangannya seperti kemarin.
Namun tak bisa kugapai lagi akibat sebuah perpisahan.
Apakah aku akan sanggup mengahampirinya disana?.
__ADS_1
Saat kepingan kekecewaan telah bersemayam pada dirinya?.
Matapun masih enggan sekali untuk terpejam, rasanya mata sudah mulai sakit membengkak, akibat tak henti-hentinya meratapi kesalahanku yang telah memarahi dan mengusir Dio.
"Dilla ... Dilla?" Suara orang diluar kamar memamggil.
Matapun telah kukucek pelan, yang tanpa tersadari akupun tadi telah terlelap tidur akibat kelelahan menangis.
"Dilla. Tok ... tok," Oanggil seseorang yang masih sibuk mengetok pintu kamarku.
"Iya, sebentar!" jawabku yang sudah bangkit dari tempat tidur.
"Mama?"
"Anak perawan bangu siang, hadeh."
"Apaan sih, Ma? Kenapa kesini?" tanyaku.
"Ayo kita pulang kerumah utama, Papa sudah menunggu kamu diluar," suruh beliau.
"Tapi, Ma? Ini masih belum pagi," ujarku merasa aneh, melihat keadaan luar yang masih gelap.
__ADS_1
Mungkin sekarang jam dua dini hari. Suasana hening tidak ada aktifitas warga sama sekali.
"Justru gelaplah kita harus pergi, sebab Papa tak mau ada wartawan dan orang iseng mampir kerumah kamu ini, jadi kita harus cepat-cepat pergi dari rumah ini," jelas Mama.
"Iya ... ya, sebentar tapi!" cakapku yang berlari ke kasur membawa boneka pemberian Dio untuk ikut serta
Aku hanya bisa menurut saja atas ajakan orang tua, toh ini semua demi kebaikanku juga.
*******
Hari demi haripun telah berlalu, sudah dua hari aku tak menatap wajah Dio. Sepi rasanya hari-hari tanpa canda tawanya, yang sering mengema dikehidupanku.
Setelah kejadian skandal dengan Reyhan aku sudah beberapa hari tidak kerja, dan baru kali ini masuk ke perusahaan, untuk menyelesaikan beberapa berkas yang menumpuk untuk kutanda tangani. Wajahpun harus disamarkan, agar orang-orang tak mengenali mukaku yang sudah banyak orang-orang tahu, dan mereka sedang memburu mencari informasi.
Ret ... ret, tangan telah sibuk menandatangi beberapa berkas.
"Heeeeeeeh," hembusan nafasku panjang, akibat pikiran begitu kacaunya tak bisa konsentrasi.
"Gimana kabar kamu sekarang Dio? Kamu ternyata beneran marah padaku, sampai kamu tak memberi kabar padaku sama sekali," bathin hati berbicara, dengan pandangan melihat kearah jalanan yang ramai berlalu lalangnya kendaraan.
"Sampai semarah itukah dirimu? Aaah ... aku rindu masa-masa kita sering bertengkar, namun penuh canda tawa kamu, yang selalu saja menghiasi hari-hariku, heeeeh!" Nafas beratku yang tak tahu lagi bagaimana caranya mendatangkan Dio dihadapanku.
__ADS_1