
Dio kini berjalan maju menghampiri Reyhan yang masih shock atas pemukulan.
Bhuuugh, yang kedua kalinya Reyhan benar-benar dipukul Dio, sehingga membuat dia bergelimpungan terkapar dilantai.
"Aku sudah bilang jangan pernah ganggu Non Dilla lagi. Apa kamu masih mau cari mati, hah!" Dio mulai bepuncak emosi.
Tangan terus mengepal, siap memberikan pelajaran lagi. Dio cukup berani menantang, jika mau sampai titik darah penghabisan pasti akan dilakukan.
"Sudah Dio, mungkin dia khilaf! Jangan layan dia lagi," cegahku memegang lengan Dio, saat ingin melangkah maju memukul Reyhan lagi.
Terlihat Reyhan hanya diam pasrah, dengan tangan sudah menghapus noda darah yang ada disudut bibirnya.
"Cuuiih, dasar pengawal si*lan."
"Haiist, apa yang kamu katakan tadi? Ke sini kau kalau masih berani. Jangan jadi pecundang yang bisanya cuma berani sama perempuan."
"Dih, siapa juga yang takut."
"Sudah. Ayo, Dio! Tidak usah meladeni dia," ajakku menarik tangannya untuk meninggalkan Reyhan.
"Aku bukan khilaf lagi Dilla, sebab tujuan utamaku adalah ingin kita bersama lagi," ucap Rehyan saat kami agak berjalan menjauh darinya.
Ketika baru beberapa langkah berjalan, kami berdua terpaksa berbalik melihat ke arah Reyhan lagi. Dio benar-benar dibuat emosi jiwa.
"Haiiiccch, Bersama? Jangan mimipi. Dasar pria tak ada otak. Sudah berani tidur sama perempuan lain dan menghamilinya, kini kamu akan mengajak majikanku untuk kembali? Apa kamu sudah kehilangan akal, sehingga wanita yang ingin jadi tanggung jawab kamu engkau campakkan begitu saja."
Dio kembali emosi. Memaki perbuatan Reyhan yang tidak masuk akal lagi. Cinta itu bisa saja murni, namun jika ada sebuah tetesan noda, maka yang ada hanya dibuang untuk melupakan.
"Sudah ... sudah, Dio. Kita pergi saja dari sini. Abaikan saja dia, yang semakin lama semakin ngelantur saja ucapannya," cegahku saat ingin menghampiri Reyhan lagi.
"Ya aku kehilangan akal tega meninggalkan Dilla, yaitu telah berbuat dosa berani tidur sama perempuan itu. Tapi asalkan kamu tahu Dilla, ini semua adalah gara-gara kamu juga. Aku sangat kecewa sekali sama kamu waktu itu, disaat diriku tahu kamu juga telah berpaling dan sudah berani-beraninya diam-diam berpacaran dengan Joan. Sudah sejak awal aku tahu kamu telah menduakanku, sehingga sampai-sampai aku telah tak sadar melampiaskan semuanya pada perempuan lain dengan cara menidurinya," penjelasan Reyhan sudah menitikkan airmata.
Deg, kekagetanku atas penuturan Reyhan.
Dio berusaha mencegahku untuk tidak menghampiri Reyhan, yang kelihatannya sekarang ini sedang kacau.
"Jangan lakukan itu."
"Tenang saja. Aman kok." ucapku pada Dio.
__ADS_1
"Tapi-? Aku cuma khawatir jika dia melukai, Non."
"Itu tidak akan terjadi. Lagian ada kamu yang siap siaga menjaga, jadi mana mungkin dia akan berbuat macam-macam padaku."
"Baiklah. Tapi tetap hati-hati. Akan aku terus awasi dari sini."
"Hmm," Anggukan kecil kuberikan.
Menghampiri dia yang tertunduk lesu. Banyak garis-garis wajah menyimpan kesedihan teramat dalam.
"Maafkan aku Reyhan. Bukan maksud hatiku untuk menduakan ataupun melukaimu. Aku dulu sangat mencintaimu, tapi kekosongan hatiku tanpa dirimu disisiku, dikarenakan selalu sibuk mengejar cita-citamu menjadi artis terkenal, telah mengoyahkan pertahananku untuk menjalin hubungan pacaran dengan Joan. Seandainya kamu tak berbuat seceroboh itu, mungkin kita masih tetap akan menjadi sepasang kekasih, maafkan Reyhan!" ungkap penyesalanku yang kini menghapus airmata Reyhan yang terus saja mengalir dipipi.
"Iya aku tahu salah. Sudah mengakui semuanya, tak bisakah kita kembali lagi?" tanya Reyhan.
"Ngak bisa. Sebab Dilla akan menjadi istriku, dan minggu-minggu ini kita akan bertunangan, ayo!" simbatan Dio berkata, sambil menarik tanganku agar meninggalkan Reyhan segera.
"What?" Kekagetan Reyhan.
"Ngak usah bodoh kaget begitu. Sekarang sudah jelas atas semuanya, jadi kamu ngak usah berharap lagi untuk mengejar cinta Non Dilla, paham!" Peringatan Dio drngan tegasnya.
"Tapi Dilla, aku tidak bisa."
"Kamu harus belajar melupakanku sekarang. Thanks, atas segala. Selamat tinggal dan bahagia selalu untukmu."
Dio kini menarik tanganku secara kuat untuk mengikutinya, dan akupun lagi-lagi hanya pasrah, dengan netra melirik menatap kasihan pada Reyhan saat masih terbengong atas tak percayanya penuturan Dio.
"Pelan-pelan Dio, jangan cepat-cepat! Sakit tahu," pintaku saat tak bisa mengimbangi langkah Dio yang melangkah lebar-lebar.
Dio hanya bisa diam tak menjawab, saat kakiku masih sibuk kewalahan mengimbangi. Tangan terus saja sibuk ditarik untuk menguktinya.
Ceklek, pintu ruangan kerjaku dibuka paksa oleh Dio.
Bruukkk, dengan kerasnya pintu dibanting tertutup dilakukan oleh Dio.
Braaaak, Dio dengan kerasnya mengebrak pintu dengan kedua tangannya dan kini berhasil mengkunci tubuhku yang bersandar dibalik pintu. Kelihatan sekali wajah Dio sudah memerah ada kemarahan.
"Apa yang kamu lakukan, Dio?" tanyaku ketakutan.
__ADS_1
Wajah mengerut. Menghindari tatapan Dio yang mengintidimasi. Sorot netra itu berkeliling untuk menyapu seluruh wajah.
"Seharusnya yang bertanya itu aku. Apa yang kamu lakukan sama Reyhan tadi? Kelihatan sekali kamu begitu menikmatinya," tanya Dio yang kini mendekatkan wajahnya pada mukaku.
Mencoba berpikir apa yang sebenarnya pengawal bocil maksudkan.
"Yang mana sih?"
"Jangan lalai akan kenikmatannya."
"Dua rius, aku tidak paham yang kamu maksud."
"Tidak paham atau memang sengaja menyembunyikan."
"Jangan menuduh sembarangan."
"Aku tidak menuduh. Itu kenyataan semua."
Berpikir lagi. Tatapan netra Dio seolah-olah memberikan isyarat, dan mulai memahami saat bulatan hitam itu mengarah ke nawah hidung.
"Aku tak melakukan hal-hal yang aneh-aneh tadi, itu semua hanya paksaan Reyhan saja," jawabku begitu groginya.
"Jangan banyak ngelesnya."
"Ya salam, apakah Dio telah marah akibat melihatku dicium Reyhan tadi? Apakah dia akan melakukan sesuatu yang lebih daripada Reyhan tadi? Enggak ... enggak, jangan sampai ... jangan. Selamatkan aku ya Allah," bathin hati yang merancau ketakutan..
"Bohong! Mana mungkin Reyhan memaksa, jika kamu saja telah menikmatinya," kekuhnya Dio tak percaya.
"Suer, aku tidak bohho-?"
"Diam."
"Aku akan mensterilkan balik bibir kamu yang sudah ternoda ini!" ucap Dio yang sudah meletakkan jarinya didaguku.
Wajah kami sudah tak menyisakan jarak lagi, dengan netra telah sama-sama mengkunci memandang. wajah Dio kian lama kian mendekat, yang mana kini mata telah kupejamkan kuat-kuat saat hati ini begitu dag dig dug seeer, atas perlakuan Dio yang sudah memiringkan kepala ingin mendekatkan bibirnya ke bibirku.
"Aaah ampun dah! Kenapa hatiku begitu deg-degkan akan meloncat atas perlakuan Dio? Kenapa rasanya ini beda sekali, yang sering kulakukan dengan pacarku yang lainnya. Oh tuhan, apakah ini yang dinamakan cinta yang sesungguhnya, saat mau berciuman saja aku begitu ketakutan penuh kegrogian, diiringi dengan jantung yang berdetak begitu tak karuan lagi rasanya," rancau hati yang begitu kacau, yang tak bisa diungkapkan lagi oleh kata-kata.
********
Hayo siapa yang penasaran sama kebucinan mereka? alur semakin yang uwu-uwu. Terima kasih yang sudah mampir memberi like, gift, dan komentar
__ADS_1