
Rasanya mata tak sempat untuk menahan rasa kantuk yang kuat sekali mendera, sehingga mau tak mau akupun terlelap tidur. Sempat terasa ada sebuah tangan telah mengelus-elus pipiku dengan secara lembut, dan akupun tak langsung membuka mata dengan cara berpura-pura tidur. Mata yang mengitip, telah berhasil melihat sosok Dio tengah duduk tegak menatap seksama wajahku, yang telapak tangannya terus saja meraba pelan pipi yang mulai ranum.
"Semoga saja wajahku kini tidak bersemu merah dan panas. Jangan sampai Dio tahu aku sudah bangun tapi sedang pura-pura, dengan hati yang sekarang telah meleleh tak kuasa menahan perlakuannya ini!" guman hati yang grogi.
Saat pikiran berkecamuk memikirkan yang aneh-aneh, Dio akhirnya kembali lagi menaruh kepalanya untuk berbaring tidur kembali.
"Selamat ... selamat, ternyata tindakan Dio tadi hanya sebentar, kalau ngak jantungku pasti akan meloncat kegirangan tapi malu, hehehehe!" Hati yang merancau gembira.
Saat Dio yang sudah terlelap tidur, akupun kini bangun secara mendadak, agar bisa merapikan selimut Dio yang sedikit berantakan. Wajahnya yang meneduhkan, berkali-kali kutatap dengan lamat-lamat dan rasanya itu tak menjemukan, sebab terasa ada kedamaian yang mengisi relung hatiku yang membeku untuknya.
Sinar mentari telah tinggi menyapa tidur nyenyakku di sofa kamar VIP rawat inap Dio. Tangan berusaha mengelus-elus pergelangan tangan dan tekuk akibat terasa sakit dan kaku, karena seumur-umur baru kali ini tidur disofa yang sempit, sehingga membuat pergerakan tubuhku tak bisa leluasa. Langkah mulai berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan itu tak sampai lama sebab rasanya agak gimana gitu. Dio terlihat masih saja tidur nyenyak, sementara diriku sibuk merapikan baju yang sedikit berantakan.
Ceklek, pintu telah terbuka.
"Permisi! Maaf menganggu, ini ada sarapan pagi yang saya antarkan untuk pasien," cakap pegawai pihak rumah sakit.
"Oh iya, terima kasih!" jawabku.
Orang yang mengantar makanan telah pergi, dan aku hanya mengikutinya dari belakang agar bisa menutup pintu segera. Berbalik ingin melihat keadaannya tadi.
"Pagi, Non!" sapa Dio yang kelihatannya terganggu bangun, akibat ada orang lain masuk.
"Pagi juga," balik sapaku.
"Gimana keadaan kamu? Pastinya baik-baik saja 'kan?" tanyaku.
"Alhamdulillah, baik."
"Syukurlah kalau kamu baik, berarti kamu sebentar lagi akan bisa melakukan aktifitas seperti biasanya bersamaku," Suara tidak sadar berbicara apa.
"Maksudnya? Apakah selama ini Non Dilla berharap aku ingin cepat sembuh, dan-?" jawabnya tertahan.
__ADS_1
"Hehehahe, ngak ada maksud apa-apa kok, Dio. Aku hanya gembira sekali jika kamu pulih lagi dengan cepat, sebab aku ingin kamu berkerja seperti sedia kala lagi untuk menjadi pengawal pribadi," Memungkiri dengan alasan sedikit tidak masuk akal
"Oh, baiklah. Asalkan kamu tidak marah lagi dan mau menerima secara ikhlas, aku sih siap-siap saja," jawabnya santai.
"Maafkan aku Dio, tentang masalah kemarin. Aku sungguh menyesal atas kejadian tentang Reyhan. Aku Memang wanita tidak berguna dan terlalu bodoh, akibat dibutakan oleh cinta. Kata-kata kamu kemarin memang benar, bahwa Reyhan telah ada main dibelakangku. Msafkan aku, Dio!" cakapku sambil menundukkan kepala.
Berjuta penyesalan terus menghantui. Ada embun yang ingin menerobos keluar namun kutahan.
"Kamu ngak perlu terlalu sedih begitu, Non. Lupakanlah rasa cinta itu, sebab rasa sakit itu pasti akan semakin membuat kamu terluka. Cinta tak seharusnya terlalu mengebu dan terlalu dalam, sebab belum ada ikatan resmi diantara kalian. Jadikan pelajaran ini sebagai pegangan hidup kamu, untuk memilih orang lain yang lebih baik lagi seperti Reyhan yang br*ngsek itu. Hapuslah airmata ini, rasanya tak pantas sekali wanita seperti kamu menangis pria seperti Reyhan itu," tuturnya yang lembut menasehati, sambil mengusap pipiku pelan agar airmata tak mengalir lagi dipipi.
"Iya, Dio. Terima kasih."
"Sama-sama." Tersenyum manis.
"Oh ya, kamu kok bisa tahu secara detail kalau Reyhan ada main menikung terhadapku?" tanya penasaran.
"Waktu itu aku ke hotel sama tuan besar, dan tanpa sengaja aku melihat Reyhan, lalu aku buntuti dia dan mencoba mencari tahu apa yang dilakukan di hotel keluarga, Non. Eh ternyata dan ternyata, dia sedang asyik berduaan dikamar hotel bersama perempuan lain, dan yang membuatku tercengang bahwa wanita bersama Reyhan ternyata sedang mengandung anaknya, sehingga tanpa ba bi bu akupun menghajarnya tanpa ampun," jelas Dio.
"Iya Dio, terima kasih atas pemukulan yamg kamu lakukan kemarin, tanpa perlu mengotori tanganku untuk memberi pelajaran pada Reyhan," jawabku malu-malu, sebab tak enak hati akibat mengusirnya kemarin.
"Iya, Non."
"Suapin dong, Non!" pintanya manja.
"Apa? Ngak salah apa yang kamu minta?" Kekagetanku menjawab.
"Ya enggaklah. Kamu yang telah membuat aku jadi begini yaitu terluka, jadi ya harus bertanggung jawab untuk membantuku cepat sembuh," jawabnya enteng sekali.
"Ciiiieh, mudahnya kamu ngomong. Lagian yang terluka itu perut kamu bukan tangan, manja amat jadi cowok," keluhku.
"Ngak pa-pa kalau ngak mau, akupun tak mau memaksa orang yang ujung-ujunya tidak ikhlas," jawab Dio dengan mukanya sudah kecut seperti merajuk.
"Iiiich, ini anak. Iya ... iya, aku akan bantu kamu sampai sembuh, boleh dikatakan aku akan balas budi sekaligus sebagai permintaan maaf," jawabku kesal tapi akhirnya luluh juga mau menyuapi.
Nasi belum kusendok tapi mulut Dio sudah terbuka lebar, tak sabar ingin menerima suapan dari tanganku. Perlahan-lahan sendok yang ada makanannya ingin kusodorkan kepada mulut Dio, tapi anehnya sendok terlihat bergetar, akibat melihat kepolosan Dio menunggu makanan seperti anak kecil menanti suapan ibunya.
__ADS_1
"Makan yang banyak, jangan lama-lama mengunyahnya. Mana bisa cepat sembuh begitu, kalau kamu saja susah untuk makan," cerocosku mengeluh, akibat 3 sendok suapan kelihatannya Dio sudah tak mau.
"Rasanya kurang enak, Non. Apa ngak ada makanan lain?" tanyanya.
"Haiiist ini bocil, makan aja pilih-pilih. Seharusnya kamu itu harus bersyukur, masih untung dikasih makanan gratis," keluhku yang kini sudah bangkit, untuk mencoba menaruh piring makanan yang tidak dimakan Dio.
"TUNGGU!" suruhnya yang kini mencekal tanganku yang sebelah kiri.
Braaak ... prang ... krontang, sebuah piring nasi tiba-tiba jatuh berserakan dilantai, akibat Dio menarik tanganku secara tiba-tiba dan kuat. Bhugh, dengan cekatan lagi Dio membanting tubuhku ditempat pembaringan rumah sakit, yang sudah mengkunci tanganku dibagian kiri dan kanan. Dia berada tepat diatasku, sedangkan diri ini hanya terperangah apa yang dia lakukan.
"Katakan siapa yang bocil?" tanyanya menatap wajahku seksama.
"Lepaskan aku, Dio!" pintaku sedikit meronta mencoba ingin bergerak.
"Aku tidak akan melepaskan, sebelum Non mau menjawab pertanyaanku. Siapa bocil itu? Apakah kamu ingin bukti walau aku bocil, tapi bisa bersikap seperti pria dewasa yang bisa meluluh lantakkan hatimu itu?" tanyanya yang membuatku mati kutu tak bisa berkutik.
"Kamu jangan kurang ajar sama majikan, ok! Jadi lepaskan diriku," pintaku yang mulai takut atas perlakuan Dio.
"Kenapa? Apakah kamu ingin aku melakukan sesuatu pembuktian, bahwa diriku bisa melakukan lebih dari apa yang kamu bayangkan melebihi pria dewasa," cakapnya yang tak mau menyerah.
"Terserah apa yang ingin kamu lakukan, yang penting sekarang cepat lepaskan aku dulu, ya ... ya!" pintaku memohon.
"Ngak akan, sebelum kamu mengatakan kalau aku bisa jadi pria dewasa, dan pastinya aku tidak bisa melepaskan sekarang," tolaknya yang ngotot.
Wajah Dio semakin lama semakin ingin mendekati wajahku, yang mana tak tahu lagi rasa bentuknya diriku sekarang, apakah bersemu memerah atas senang menerima perlakuan Dio, atau justru takut atas tindakannya.
"Ya salam, apakah Dio akan mencium diriku?" hatiku yang bertanya-tanya, tak karuan lagi deg-degkannya, dengan mata sudah kupejamkan secara kuat.
Ceklek, pintu tiba-tiba terbuka dan terdengar banyak sekali suara bising orang-orang saling bercakap.
"Uhuuuk ... uhuuuk .... uhuuuk," Suara semua tamu ingin melawat tiba-tiba terbatuk, saat melihat posisi kami yang tak mengenakkan.
*******
__ADS_1
Mereka berdua mulai ada rasa saling bucin😅😍tapi sayangnya masih malu-malu.
Ikuti kisah ini selanjutnya, sebab bakalan ada kejutan-kejutan romantis lainnya. Terima kasih bagi yang pembaca dan mendukung karya recehku in