
Kepala rasanya sudah dibuat tujuh keliling, sebab harus mulai dari mana mencari jejak majikan. Dalam isi kepala sudah berputar-putar menerka apakah ini ada kaitannya dengan Joan, tapi disebalik itu ada keraguan dalam hati, takut-takutnya jika bukanlah Joan yang melakukannya.
Mobil sudah kulajukan untuk menuju kekediaman Joan, untuk mencari jejak apakah ada benarnya jika Non Dilla ada disana.
Perlahan-lahan mobil kulajukan saat sudah sampai didekat komplek rumah mewah milik Joan. Mesin kuusahakan kumatikan, yang terparkir tepat didepan rumah tetangganya.
"Aneh sekali, kenapa malam-malam begini rumah Joan banyak sekali orang. Ada apa ya? Kok sepertinya semua orang sedang sibuk mengerjakan sesuatu?" Bathin hati bertanya-tanya, saat netra menatap orang sedang sibuk berlalu lalang mengerjakan sesuatu yang penting.
Kaki kucoba turunkan, untuk mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Muka sudah kututup masker, agar tak diketahui atas penyamaran dalam masa penyelidikan.
"Maaf permisi, Mas. Bolehkah saya tanya sesuatu pada anda?" Mengintrogasi pada salah satu pria yang keluar dari rumah Joan, disaat sepertinya akan membuang sampah.
Mata menelusuri barang-barang yang akan dibuang pria itu, yang sepertinya ada pernak-pernik sebuah hiasan rumah.
"Aah ... apa ini? Aneh betul, kenapa malam-malam rumah Joan dihiasi? ada apa ini?" Rancau hati kian aneh bertanya-tanya.
"Iya, Mas. Ada apa ya?" jawab pria yang telah berhasil kuhentikan.
__ADS_1
"Saya cuma mau tanya. Ada apa sebenarnya didalam? Kok rame banget? Sepertinya ada acara penting pemilik rumah didalam?" tanyaku langsung.
"Oh, iya Mas. Memang didalam sedang dihiasi pernak-pernik, yang sepertinya akan ada acara yang sakral dan kalau ngak salah besok siang berlangsung," jelas pria yang kutanyai.
"Maksudnya apa ya, Mas? Kalau boleh tahu, memang acara apa? Kok sepertinya penting banget?" tanyaku lagi, sebab merasa begitu penasaran.
"Acara yang punya rumah ini besok siang akan mengadakan ijab Qobul alias menikah?" jawabnya.
"Apa?" Keterkejutanku.
"Betul itu, Mas."
"Lalu siapakah si mempelai wanitanya?Apakah Mas kenal dengan calon pengantinnya?" tanyaku penasaran.
"Maaf, Mas. Saya ngak kenal. Kalau mau lebih lanjut ingin tahu, mas bisa masuk ke dalam dan tanyakan sendiri," jawabnya jujur.
"Oh, iya Mas. Nanti akan saya tanyakan. Kalau begitu saya ucapkan terima kasih sebelumnya kepada anda, karena memberikan sedikit informasi mengenai pemilik rumah ini" ujarku.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu," Masnya ingin berpamitan.
Pikiran melayang tidak karuan. Takut jika bayangan akan jadi kenyataan. Kalau memang didalam adalah majikan, pasti sangat mengecewakan sebab tidak ada izin dari orantuanya.
__ADS_1
"Oh ... oh, iya!" jawabku tersadar dari lamunan.
Kepergian orang yang kutanya, sekarang telah masuk kembali kedalam rumah Joan, sementara diriku melangkah menjauh untuk mencoba menenangkan diri dulu, sambil berpikir apa yang harus kulakukan selanjutnya.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Joan akan menikah beneran? Tapi kenapa tiba-tiba? Apakah ini ada kaitannya dengan non Dilla? Ahhh ... apakah aku telah berburuk sangka pada Joan, tapi hati ini sangat yakin mengatakan kalau non Dilla pasti ada kaitannya dengan pernikahan mendadak Joan ini. Aku harus mencari tahu kebenarannya?" guman rancau hati yang menerka-nerka.
Lama sekali diri ini hanya menunggu didalam mobil majikan, untuk menunggu situasi sepi dirumah Joan.
"Yes, semoga aku bisa mencari tahu lebih detail. Semoga wanita yang akan jadi mempelai wanita itu adalah non Dilla, jadi bisa selamatkan dia sekarang," Kemantapan ingin bergerak mengetahui dan menolong.
Penantianpun akhirnya berbuah manis, saat semua orang satu persatu telah mulai berjalan keluar.
Kakipun sudah turun dari mobil, dan kini mencoba melangkah mendekati pagar rumah Joan. Telapak kaki dengan perlahan-lahan mulai memajat pembatas pagar, agar tak mengeluarkan suara saat memasuki halaman rumah Joan.
Dengan hati-hati jalanpun sampai kubuat agar tak mengeluarkan suara, yaitu berjalan berjijit pelan tapi melangkah lebar. Dari kejauhan dari halaman perkarangan rumah Joan, kini netra telah fokus melihat kearah jendela atas, yang sedang menampakkan bayangan seorang pria, telah berlama-lama dalam kamar itu seperti sedang berbicara pada seseorang.
"Pasti non Dilla ada didalam kamar itu? Aku harus kesana dengan memanjat pagar tiang rumah," guman hati berbicara, dengan netra sibuk mendongak keatas memperhatikan bayangan pria itu.
Tak banyak waktu bayangan itu telah hilang, dan aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera mendekati tiang rumah untuk memanjat. Perlahan namun pasti, akhirnya diri ini sampai juga ke pelabuhan terakhir sebuah kamar dilantai dua. Tangan berusaha mengoyang-goyangkan jendela, untuk mencari celah apakah diri ini bisa masuk apa tidak?.
__ADS_1