Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Ingin Kupinang Engkau


__ADS_3

Hati terasa sangat bahagia saat mengetahui orang-orang yang bagiku menjadi penghalang diri ini untuk mendapatkan cinta Dilla, telah tersingkir satu persatu yaitu Reyhan dan Dio. Akupun harus gerak cepat untuk mengikat Dilla dengan sebuah ikatan selamanya, agar dia tak kembali lagi dirayu oleh pria lain, yang berusaha untuk menumbangkan dan menyaingiku.


[Hallo, sayang. Gimana kabar kamu?]


[Aku baik, Jo]


[Tapi suara kamu kok lemah banget, kenapa? Masih memikirkan pacar kamu si Reyhan yang br*ngs*k itu?]


[Heeh, ngak tahu 'lah, Jo. Aku tidak menyangka saja pada Reyhan dia telah menghianatiku sampai segitunya, padahal aku tahu betul sifatnya yang mungkin boleh dikatakan setia padaku]


"Yes, ternyata kamu sekarang telah kecewa sekali pada Reyhan. Baguslah, ini akan menjadi awal bagiku, untuk memudahkan diri ini mendapatkan kamu, Dilla!" guman hati yang merasa gembira.


[Kamu ngak usah terlalu bersedih seperti itu, sayang. Lagian masih ada diriku yang masih setia untuk menjadi pacar kamu. Oh ya, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pada kamu, sebab rasanya diri ini begitu penasaran sekali tentang semua rasa hatimu. Apakah kamu masih mencintaiku? Kalau kamu mencintaiku kenapa kamu tidak bilang bahwa Reyhan itu adalah pacar lama kamu. Terus kenapa juga kamu sudah berani menyelingkuhi Reyhan, dan berani berpacaran padaku?]


[Maafkan aku Joan. Bukan maksud hatiku menyakiti atau menduakan cintamu, tapi aku hanya ingin mencari pelabuhan cinta sejati yang ada pada diri kalian, sehingga akupun dengan terpaksa menjalin pacaran dengan kalian berdua sekaligus]


Keterangannya yang masuk akal, dengan hati yang sudah sedikit kesal dan marah, karena sudah tega-teganya Dilla mempermainkan kami.


[Tak apa, Dilla. Aku tahu maksud hatimu, biasalah orang yang sedang mencari pelabuhan hati, pasti banyak koleksi yang harus dicari atas ketulusan pada pacarnya]


[Makasih Joan, kamu ternyata orangnya pengertian]


[Iya, sama-sama. Oh ya Dilla, kamu malam ini bisa datang 'kan, ke acara peluncuran produk perusahaanku?]


[Entah, Jo. Soalnya aku akhir-akhir ini malas sekali untuk keluar rumah]


[Yaah, bakal sendirian nih aku disana. Kamu datang 'lah ke acara itu, memang kamu ngak kasihan padaku jika sendirian disana. Datang ya ... ya, please!]


Diriku harus membujuk Dilla datang, sebab ada kejutan untuknya, sehingga akupun tak boleh menyerah begitu saja, untuk menyuruhnya ikut serta ke acara peluncuran produk.


[Baiklah, Joan. Tapi aku nanti ngak bisa berlama-lama disana, sebab banyak sekali pekerjaanku yang menumpuk harus kuselesaikan secepatnya]


[Siip, beres pokoknya. Sampai ketemu nanti malam ya, sayang]


[Eemm]

__ADS_1


Klik, gawai telah kumatikan saat selesai menelpon Dilla yang ada diseberang sana.


Kegembiraan benar-benar telah menghampiriku, sampai-sampai mulutpun tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Tunggu saja Dilla, pasti aku akan mendapatkan kamu. Luasnya samudra dengan gunung yang menjulang tinggi, tak dapat menandingi rasa cintaku yang begitu mengebu untukmu. Sungguh rasanya aku tak tahan lagi menunggu waktu yang kurasa lambat sekali berputar, sebab kejutan ini benar-benar tak sabar ingin segera kuberikan padamu," Bathin yang yakin akan mendapatkan Dilla.


Persiapan telah sempurna sekali, dengan gedung yang kusewa telah disulap dan tertata rapi sedemikian rupa. Wajahpun sudah kupoles dengan setampan-tampannya, untuk segera menyambut bidadari yang ingin kubahagiakan, biar kesannya Dilla tambah klepek-klepek.


***


Mukakupun sudah terpana atas wajah Dilla yang begitu cantik, mempesona, dan pastinya menawan. Walau diusianya sudah kepala tiga, dia masih saja tetap cantik seperti gadis-gadis jaman sekarang. Perawatan yang mahal mungkin menjadi salah satu alasan kenapa wajahnya kian lama kian aduhai cantik dan super duper mempunyai daya tarik.


****


Hai sayang, apakah kamu baik-baik saja, selama perjalanan kesini?" tanyaku berbasa-basi.


"Alhamdulillah aku baik, Jo."


"Syukurlah, kalau tidak terjadi apa-apa. Oh ya, ikut aku kesana, yuk! Akan aku kenalkan pada para keluarga dan para sahabatku," suruh yang mau mengajaknya.



Saat sedang memperkenalkan Dilla pada para keluarga, diriku tak begitu menyukai sikap Dilla yang sembari tadi hanya diam saja. Jika ada yang mengajaknya ngobrol, dia hanya bisa menjawab dengan senyuman kecil kecut seperti tak suka. Tapi disini aku berusaha sabar atas sikapnya, karena dapat memaklumi atas tingkahnya hari ini. Banyak kemungkinan hari ini Dilla sedang kacau pikirannya, akibat terbebani kehidupannya yang lagi banyak masalah akhir-akhir ini.


"Kamu ngak pa-pa 'kan, Dilla? Jangan bengong begitu terus."


"Hhh, sangat susah, Jo."


"Kamu kenapa, sayang? Akupun merasa sendirian disini lho, walau kamu sebenarnya berdiri dekat denganku," ungkapku yang sudah kesal pada Dilla.


"Maafkan aku Joan, atas sikapku yang diam ini. Bukan maksud hatiku mengecewakan kamu, tapi sekarang ini aku benar-benar ngak mood dan banyak pikiran yang harus dipikirkan. Oleh sebab itu rasanya aku malas sekali atas acara ini tadi, kalau kamu tak memaksa untuk datang, pasti aku tak akan berdiri disini. Entah mengapa rasanya tak semangat. Maaf ya Jo," ujarnya tak enak hati.


"Heeeh, iya sayang. Ngak pa-pa!" jawabku pasrah.


Acarapun satu demi satu telah dimulai, yang sekarang akan menjadi giliranku, yaitu melanjutkan acara yang sudah terencanakan dan kunantikan dari sembari tadi.

__ADS_1


Lampu semua ruangan telah berhasil dimatikan, dan kini hanya ada satu lampu memanjang untuk menyoroti tubuh Dilla sendirian.


"Kamu pasti terkejut atas semua ini, Dilla. Maafkan aku, sebab kamu pasti binggung atas semua ini. Aku lakukan ini semua karena akan memberikan sebuah kejutan untukmu," Sikap yang sudah bertekuk lutut dihadapannya.


"Jangan lakukan ini, Joan!" pintanya berucap berbisik-bisik, seperti sedang malu, saat semua mata fokus memperhatikan kami.


"Ssttt, ngak pa-pa, sayang!" Berucap pelan tanpa orang lain mendengar.



"Tapi-?"


"Maukah kamu menjadi pengantin wanitaku?" tanyaku yang sudah menyodorkan cincin, dalam kotak imut kecil berwarna merah.


Terlihat ekspresi wajah Dilla begitu terkejut, dan kupastikan dia bakalan menerima lamaranku ini, sebab didekatnya sudah tidak ada lagi cinta pada pria lain, kecuali hanya diriku saja.


Lama sekali Dilla hanya terbengong tak bisa berkata sepatah katapun, dan rasanya akupun sudah dibuat jengkel olehnya, dikarena mata semua orang sudah tertuju ke arah kami walau lampu dimatikan tak menampakkan tubuh mereka, tapi Dilla tak kunjung jua memberi jawaban.


"Maukah kamu menerima lamaranku ini?" tanyaku lagi bersuara mantap.


"Ayo terima ... terima ... terima, semangat Joan ... ayo terima ... terima!" Sorak ramai orang, memberi dukungan kepadaku dan Dilla.


Akupun kini dibuat terheran-heran oleh ekspresi yang Dilla tunjukkan, sebab Dia sudah mengalirkan bulir-bulir arimata, yang tak tahu maksudnya itu kenapa?.


"Maafkan aku, Joan. Bukannya aku tak mencintai kamu, tapi untuk sementara ini aku belun siap untuk menerima lamaran kamu sekarang. Aku tahu kamu sangat baik dan mencintaiku, tapi maaf ... maafkan aku sekali lagi, bahwa aku tidak bisa menerima lamaran ini," tolaknya secara halus dan sudah membuat hatiku seketika patah.


Dilla sudah mengusap airmatanya dengan tangan, diiringi kaki cepat-cepat melangkah pergi, meninggalkanku yang masih terbengong atas jawaban Dilla. Seketika akupun lemah lunglai, dengan posisi benar-benar terduduk dilantai, sebab masih tak percaya atas semua jawaban Dilla.


"Aku tak terima atas semua ini. Kamu begitu mengecewakan dan mempermalukan diriku didepan semua orang. Awas kamu Dilla, rasa maluku ini akan kamu bayar dengan harga yang sesuai apa yang kamu lakukan. Kamu sudah keterlaluan Dilla, aku begitu tulus mencintaimu, tapi kamu tega-teganya menolak lamaranku secara mentah-mentah, akkkkhhh!" Kekesalanku dalam hati berkata, sambil tangan mengenggam kuat kotak cincin yang masih bertengger ditanganku.


Prak, sebuah kotak cincin aku lempar kesembarang arah, saat hatiku dipenuhi oleh rasa kecewa, sakit hati, dendam, amarah, dan yang pastinya tak terima.


Semua orang sudah menatapku dengan keheranan dan kasihan. Malu yang tak terkira lagi rasanya, langsung saja kutinggalkan acara dengan berlari keluar mencoba melihat Dilla. Kelihatan Dilla sedang sibuk bediri diseberang jalan ditempat gedung yang kusewa untuk pesta.


"Awas kamu Dilla, kamu akan menyesal sekali atas apa yang kamu lakukan padaku. Tak akan kubirarkan dirimu lolos begitu saja dari dekapanku," Kegeraman dalam hati sudah tersulutnya amarah.

__ADS_1


__ADS_2