Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Kaget Pengakuan Dia Hamil


__ADS_3

Tok ... tok, suara ketukan ruang kerjaku, yang sudah membuyarkan lamunan diri ini, ketika sibuk menerawang kebawah gedung perusahaan.


"Masuk!" jawabku.


Ceklek, pintu telah terbuka dan ternyata adalah Joan yang datang.


"Hey sayang, gimana kabar kamu?" sambut Joan melangkah masuk ke ruanganku.



"Aku baik, Jo!" jawabku lesu.


"Kamu kelihatan tidak baik-baik saja sayang, kenapa? Apakah ini gara-gara si Reyhan itu? Kamu tenang saja, Aku akan memberi pelajaran pada dia, sebab telah mencemarkan nama baik kamu," ucap Joan kelihatan emosi.


Dia datang tepat pada waktunya. Saat hati galau akan Reyhan dan terutama ulah Dio.


"Ya, mungkin itu salah satunya. Hhhh! Aku tak tahu lagi harus ngapain, sebab semua orang sudah tahu video itu dan rasanya aku begitu malu sekali," jelasku.


"Kamu ngak usah khawatirkan itu, yang jelas kamu harus menjauhi Reyhan dulu. Jelas-jelas kelihatannya dia tak baik, sampai-sampai mempermalukan pacarnya sendiri. Kamu santai saja menghadapi masalah itu, pasti lambat laun berita panas itu akan hilang dengan sendirinya," tutur Joan mencoba membuatku agar tenang.


"Iya Joan, terima kasih. Kamu memberikan kelegaan atas masalah itu."


"Sama-sama. Oh ya, bagaimana dengan kabar pengawal kamu yang bernama Dio itu?" tanyanya kelihatan serius.


"Masalah Dio aku tidak tahu lagi, sebab dia sekarang benar-benar pergi dari hidupku," jawabku lesu.


"Baguslah!" Nada suara Joan santai


"Maksudnya?" tanyaku heran.


Mata memicing. Nampak Joan memang senang membicarakan masalah Dio ini.


"Hehehe, bukan apa-apa, kok! Maksudnya baguslah kalau tidk ada pengawal kamu lagi, berarti kalau kita sedang kencan tak ada yang menghalang-halangi dan bebas sepuasnya mau bermain kemanapun mau pergi," jawab Joan cegegesan.



Senyuman ramah tapi agak kecut kuberikan pada Joan, sebab rasanya aku tidak ada tenaga lagi, hanya sekedar untuk berbicara ataupun bercanda seperti hari-hari kemarin.


"Oh ya, Dilla. Biar menghilangkan rasa stres kamu gimana kalau kita keluar cari angin, siapa tahu kamu akan fresh nanti, dan bisa melupakan semuanya. Gimana?" tanya Joan.

__ADS_1


"Entahlah Joan. Aku lagi banyak kerjaan ini, sebab dari kemarin aku cuti," jelasku.


"Ayolah, sayang. Aku tahu pikiran kamu sedang kusut, jadi kalau kamu tambah memikirkan kerjaan, nanti bikin stres dan pusing bertambah kian menjadi-jadi," ujar Joan membujukku.


"Hhhhh, baiklah, Jo!" kepasrahanku lemah.


Rasanya malas sekali, tapi ingin pergi telah menderaku. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan, tapi pikiran yang tak konsentrasi rasanya semakin membuat kepala kian pusing. Benar juga kata Joan, aku perlu sedikit hiburan untuk menenangkan pikiran, dan menghilangkan semua kegundahan yang menerpaku.


Langkah kaki kami sudah beriringan berjalan, dengan wajah sudah kututupi masker. Joan berkali-kali melihat kearahku dengan rasa kekhawatirannya, tapi aku cuekkan dia begitu saja, sebab tak ingin menambah masalah-masalah lagi yang bikin kepala puyeng nantinya. Langkah kamipun tak sadar sudah sampai dilobi perusahaan lantai bawah.


"Hei berhenti kamu!" Suara seorang perempuan telah menghentikan langkah kami.


Wajahpun sudah menoleh kepada sumber suara yang memanggil. Terlihat didepan mataku seorang gadis yang umurnya sepertinya sama denganku, yang wajah diapun tak kalah cantik juga.


"Ada apa, ya?" tanyaku heran.


"Apakah kamu yang bernama, Dilla?" tanya perempuan itu tanpa basa-basi lagi.


"Iya, aku adalah, Dilla?" jawabku yang sejujurnya.


Plaaak, temparan tiba-tiba terdarat dipipi kananku.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Joan marah, yang sudah mendekatiku.


"Ada apa, yang kamu tanyakan?" ujar wanita itu tertawa sinis, menyungingkan ujung bibirnya ke atas.


"Seharusnya yang bertanya itu aku. ada apa dengan wanita ini? Dan ternyata sangat kurang ajar!" imbuhnya berucap marah, sambil tulunjuknya mengarah padaku.


"Apa maksud kamu?" Keherananku bertanya.


"Jangan sok pura-pura tak tahu kamu," jawabnya sinis.


"Sumpah, aku beneran ngak tahu apa yang kamu maksud dan kenapa juga kamu menampar pipiku? Kita baru saja ketemu disini, tapi kamu sudah berani-beraninya menampar pipi orang sembarangan, plaaaak!" ujarku marah, berbalik menampar wajahnya.


"Haiiiist, benar-benar wanita si*l*n, berani juga ternyata kamu," cakapnya melototkan mata kearahku


"Benar apa yang dikatakan Dilla, kamu jangan main menampar orang sembarangan. Ketemu saja barusan tadi, masak datang-datang main tampar orang saja," pembelaan Joan marah.


"Diam kamu, tidak usah ikut campur urusan kami," nyolotnya perempuan itu marah.

__ADS_1


"Kamu yang seharusnya diam, dasar perempuan aneh!" bentakku balik yang kini ada emosi.


"Aneh? Jaga ucapanmu."


Maga kami sama-sama melotot. Rasanya ingin menyerang dengan menjambak rambutnya.


"Cepat katakan apa yang sebenarnya kamu inginkan sehingga menamparku, karena aku sekarang tak banyak waktu untuk berbicara sama kamu?" tanyaku kesal.


"Tamparan itu tak seberapa dibandingkan dengan sakit hatiku," jawabnya yang kini mulai santai.


"Maksudnya?" tanyaku heran.


"Kamu tahu Reyhan 'kan?' balik tanyanya.


"Ya ampun, apa maksudnya ini? Ada hubungan apa Reyhan dengan perempuan ini?" tanyaku dalam hati.


"Aku minta kepadamu, supaya kamu menjauhi Reyhan, sebab sebenarnya dia itu adalah pacarku," jelasnya.


"What?" Kekagetanku.


"Iya, aku adalah pacarnya. Dan sekarang dalam perutku sudah ada benih-benih cinta kami," jelasnya yang tak malu.


"What?" Untuk yang kedua kalinya aku terkaget-kaget.


"Ya tuhan, apakah benar yang dikatakan wanita ini? Jadi selama ini kata-kata Dio memang benar adanya, bahwa Reyhan telah menyakiti hatiku. Aaah ... Dio, maafkan aku yang telah salah sangka padaku. Sungguh sekarang aku percaya kata-katamu itu, maka dari itu kembalilah kepadaku, Dio!" rancau hati yang menyesal.


Diri ini begitu tak menyangka atas penghiatan Reyhan, yang menurutku sungguh sudah-sudah keterlaluan. Selama ini kami sudah berpacaran selama delapan tahun lebih, tapi semuanya kini telah hancur berkeping-keping saat perempuan didepanku telah mengaku bahwa dia telah hamil anak Reyhan.


Kaki terasa begitu lemas, tulang-tulang seakan-akan sudah mulai rontok putus dari persendian. Matapun mulai terasa pusing berkunang-kunang, dengan pandangan mulai terlihat sedikit mengaburkan. Badan terasa melayang-layang tak bisa menopang tubuhku sendiri, dan sampai pada akhirnya aku ingin ambruk ke belakang.


"Dilla?" Kekagetan Joan yang telah menangkap tubuhku, yang sudah ambruk kebelakang.


"Astagfirullah, Kamu ngak pa-pa, Dilla?" tanya Joan panik.


"Aku ngak pa-pa, Jo!" jawabku lesu.


Joan sudah membantuku berdiri tegak, untuk menopang tubuh sendiri. Wanita didepanku yang sudah mengaku sebagai pacar Reyhan, masih terbengong-bengong melihat keadaanku.


"Kamu ngak usah khawatir atas kedekatanku dengan Reyhan lagi, sebab secepatnya aku akan putuskan dia demi kamu," ujarku memberitahu.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak perlu mengotori tanganku lagi untuk memberi pelajaran pada kamu, sebab gara-gara kamu Reyhan acuh tak acuh padaku, dikarenakan dalam otaknya selalu saja hanya dirimulah yang terus dia sebut," terang wanita itu berkata.


Tanpa banyak ocehan lagi dari mulut wanita itu, dia melenggang pergi begitu saja dari hadapan kami. Sementara Joan sudah memapahku ke tempat duduk ruang tunggu didepan perusahaan. Kelemahan ini tidak mampu untuk menopang tubuh sendiri.


__ADS_2