
Keget? Yang pasti iya. Semu terjadi begitu mendadak. Pintu tidak diketuk duluan. Hingga jantung dibuat melompat saat ketahuan sama para orangtua.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk," Suara para orang tua kami ternyata telah tiba-tiba datang.
Seketika Dio langsung melepaskan tanganku, dan kami secepatnya merubah posisi masing-masing seperti semula, dengan cara berdiri tegak dan merapikan bajuku yang sempat berantakan.
"Iiich ... iiich, kalian ini pagi-pagi sudah melakukan hal-hal yang tak patut, ck ... ck ... ck!" ledek Papa.
Dio hanya bisa mengelus tekuknya yang tak ada apa-apa, sedangkan diriku hanya bisa menundukkan kepala diiringi dengan wajah berbias kemerahan, sebab kejadian barusan bagiku sangatlah memalukan sekali.
"Masuk Pak, Buk, Tuan besar!" suruh Dio malu-malu dengan maksud mencairkan suasana.
Telihat wajah mereka semua tertahan tersenyum-senyum, dan rasanya aku sangat ... sangat dipermalukan sekali disini.
"Iya Dio. Kamu istirahatlah, ngak usah pakai bangkit. Kamu belum sembuh betul, jadi tidak usah ngak enak hati begitu atas kedatangan kami," ujar Papaku.
"Saya ngak pa-pa, Tuan besar. Ini hanyalah sekedar luka kecil dan rasa sakitnya sudah agak mendingan sekarang," jawab Dio yang kini bersandar duduk tegak.
"Syukurlah," jawab Papa.
__ADS_1
"Gimana kabarmu, Nak! Dimana yang sakit?" tanya kekhawatiran ibu Dio, yang kini telah menghampiri ditempat pembaringan.
"Aku baik, Bu. Dibagian perut."
"Alhamdulillah, kalau kamu baik-baik saja. Ibu sangat cemas sekali kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadamu," Tangan Ibunya mengenggam erat tangan anaknya.
"Duduk Om, Tante!" suruhku pada orang tua Dio, saat kursi kusodorkan pada mereka.
"Iya, Nak Dilla. Terima kasih," jawab ramah Ibu Dio.
"Sama-sama, Buk."
"Ya iyalah, Bapak sama Ibu harus cepat datang, sebab kamu itu adalah anak kami satu-satunya, jadi kalau ada apa-apa kami harus secepatnya menemui kamu. Setelah Papa Dilla memberitahu kabar kamu yang tengah masuk rumah sakit, Ibu sama Bapak langsung meluncur kesini. Dan kebetulan sekali waktu kami sampai dirumah sakit, kami bertemu sama Papa dan Mama Dilla ditempat parkir, jadi ya gitu dech barengan masuk sini," jawab keterangan Om Ahmad.
Senyuman manis telah terluncur dari bibir Dio, mungkin telah senang akibat orang tuannya masih menyayangi Dio walau sudah menjadi pria bujang.
"Oh ya, Dilla. Selama penculikan kamu ngak diapa-apain 'kan sama tersangka? Mama sangat khawatir sekali sama kamu, sampai-sampai mau makanpun rasanya tak enak!" tanya Mama sambil memeluk tubuhku dari samping.
"Alhamdulillah aku baik dan tidak diapa-apain, mlMa."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu," Kelegaan Mama berkata.
"Memang siapa sih, yang telah tega berbuat jahat pada anak gadisku?" tanya Papa.
Beliau sering kali mengelus rambut ini dengan sayang.
"Semua dilakukan oleh, Joan. Dia itu sebenarnya mungkin tidak sengaja menculikku, tapi dikarenakan oleh sakit hati, Joan telah tega melakukan kesalahan penculikan itu," jawabku lemah.
"Walau dia tidak ingin melukai maupun berbuat hal-hal yang diluar batas, namun kesalahan Joan itu seharusnya kita laporkan pada pihak kepolisian, yaitu atas kasus penculikan dan mencelakai orang," sahut ucap Om Ahmad.
"Ngak perlu sampai segitunya, Pak. Ini murni hanya kesalahpahaman dan sakit hati saja, jadi tidak perlu dibesar-besarkan masalah ini," ujar Dio mencoba menolak.
"Tidak bisa begitu, Dio. Om akan mengurus semua masalah ini, biar dia kapok dan tidak membuat ulah pada kalian lagi. Sepantasnya kita harus cepat menjebloskan dia ke penjara, agar setimpal dengan apa yang telah dia perbuat," kekuhnya ucapan Papa.
Semua orang nampak ingin memberikan hukuman pada Joan. mungkin sudah geram saat anak mereka dilukai.
"Tapi, Pa!" ujarku tak setuju.
"Ngak ada tapi-tapian. Kamu pokoknya diam duduk manis saja, biar semua ini jadi urusan Papa," jawab beliau masih ngotot untuk memenjarakan Joan.
__ADS_1
Mataku langsung saja melihat ke arah Dio, mencoba untuk memohon kepadanya agar mau membantuku mengurungkan niat Papa, tapi pada kenyataannya Dio hanya menengadahkan kedua tangan ke atas, yang ikut tak tahu caranya untuk membujuk maupun membantah Papaku lagi. Memang ucapan Papa sering kali tak bisa dibantah oleh siapapun termasuk istrinya sendiri, kalau sudah cakap A ya harus A ngak bisa berubah menjadi B.