
Kini aku hanya bisa menunggu diluar saja, saat dokter sedang sibuk menangani keadaan Dilla. Rasa sakit disekujur tubuh tak kupedulikan lagi, saat rasa gelisah dan khawatir begitu melanda, takut-takut jika terjadi sesuatu pada istri tercinta.
"Bagaimana keadaan Dilla, Dio?" tanya orang tua istri bersama Andi adik laki-laki.
"Masih didalam, Pa!" jawabku lemah.
"Kamu ngak pa-pa, Dio?" tanya Mama.
"Aku baik, Ma."
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, tapi lihatlah disekujur tubuhmu begitu banyak luka. Apakah kamu tidak ingin mengobatinya dulu?" Mama mertua khawatir.
Keadaan memang sedang kacau, namun istri yang terluka semakin mengacaukan pikiran.
"Aku baik-baik saja, Ma! Ini hanyalah luka kecil yang tak terasa apa-apa, dibanding rasa khawatirku sekarang ini pada Dilla," jawabku.
"Kami tahu, Dio. Tapi alangkah baiknya, jika kamu harus mengobati luka-luka itu dulu. Biar kami saja yang menunggu disini. Tak enak jika Dilla sudah sadar melihat keadaan kamu yang kacau penuh luka seperti ini. Basuhlah tanganmu dulu, yang ada noda kotornya ini!" Papa menyuruh sambil menepuk-nepuk pundakku.
Keluarga yang memberikan perhatian penuh. Detail sekali memperhatikan menantunya ini, padahal diri sendiri tidak peduli apakah kotor apa tidak.
"Bener Dio. Jangan buat Dilla sedih lagi saat mengetahui keadaan kamu yang babak belur begini. Lebih baik kamu obati luka dulu dan membersihkan diri," saut Mama mertua ikutan berbicara.
"Baiklah, Ma, paa. Jika menurut kalian itu baik!" jawabku menyetujui.
Akhirnya akupun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, akibat ada darah dipipi dan lengan tangan. Tak luput jua akhirnya aku berobat ke suster rumah sakit, untuk segera mengobati luka-luka kecilku.
"Gimana keadaannya, Pa?" tanyaku saat selesai mengobati luka.
"Kami belum mengetahui keadaannya secara jelas, sebab masih ada lagi cek tulang belakang punggungnya akibat sebuah hantaman benda keras, katanya!" keterangan beliau memberitahu.
Ada raut kesedihan mendalam. Sebagai orangtua yang menyayangi sepenuh jiwa, pasti kejadian ini membuat mereka kesal sekaligus terpukul.
"Kenapa ini bisa terjadi, Dio?" tanya papa.
"Aku juga kurang tahu, Pa. Yang jelas sepertinya penyusup itu ingin melukai dan membunuh Dilla," jawabku.
"Apa? Apa?" Kekegatan mertua laki-laki dan perempuan.
__ADS_1
"Wah, berarti kita akan memperketat penjagaan lagi pada Dilla," ucap Papa mertua yang sudah dilanda rasa khawatir.
Tangan beliau membekap mulut sendiri. Sikap mulai tidak tenang. Pasti sangat dilanda ketakutan juga, jika anak dalam ancaman berbahaya.
"Bener itu, Pa. Apa mungkin ini semua ada kaitannya dengan kejadian masa lalu itu, Pa?" tanya Mama mertua.
"Maksudnya, Ma?" tanyaku tidak mengerti.
Arah pembicaraan mereka, seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan dari kami.
"Nanti kami akan ceritakan semuanya. Tapi sebaiknya kita keluar dulu saja, sebab disini akan menggangu Dilla yang sedang istirahat," ujar mertua menyuruh.
"Baiklah, Pa."
"Baiklah kalau begitu kita pergi keluar dulu," suruh Papa mertua.
"Baik, Papa."
"Ayo, Dio!" suruh Papa mertua, segera mengajak keluar ruangan kamar rumah sakit.
********
Berkali-kali tangan Dilla kugenggam erat, saat netranya masih saja belum sadar dari obat bius rumah sakit. Pipinya yang halus terus saja kuusap-usap pelan, karena rasa rindu akan tawa candanya begitu terindukan agar hadir didepan mataku sekarang. Hembusan nafas kasar berkali-kali terjadi. Tidak bisa melakukan sesuatu agar dia bisa cepat sadar.
"Ayo bagunlah, Dilla. Apa kamu tidak peduli sama kekhawatiranku sekarang? Maafkan diriku yang membuatmu jadi terluka parah begini."
"Hufffff, sebagai suami aku terlalu gegabah dan bodoh, akibat tidak bisa melindungi kamu dengan benar. Andaikan, rasa sakitmu bisa dialihkan, pasti akan kugantikan segera agar kau bisa kembali ceria lagi," guman hati penuh penyesalan.
"Mata benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Kenapa kau bikin mata jadi ngantuk begini? Padahal aku ingin menjaga Dilla dengan benar, huaaahhhhhh!"
Mata rasanya sudah tak tahan lagi untuk segera melelapkan tubuh yang mulai terasa kelelahan, hingga rasa-rasanya tidak kuat lagi menopang tubuh, yang pada akhirnya kepala sudah kugolekkan dipembaringan Dilla dirawat.
Entah berapa lama aku terpejam, sampai pada akhirnya tangan terasa ada sebuah pergerakan dari tangan Dilla saat sempat kegenggam erat tadi.
"Sayang ... sayang, kamu sudah bangun? Apa kamu baik-baik saja?" tanya kekhawatiranku saat Dilla belum pulih
sepenuhnya dari siuman.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar."
"Emm," jawabnya sambil mengangguk-angguk pelan.
"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja. Apakah ada yang kamu perlukan sekarang? Atau butuh sesuatu yang lain?" imbuh tanyaku.
Jadi panik sendiri. Lama dia tidak sadarkan diri, siapa tahu ingin sesuatu.
Hanya gelengan kepala kecil yang dia berikan, ketika nampak tubuh Dilla masih terasa lemah.
"Apakah kamu baik-baik saja, Dio? Kamu tak terluka 'kan?" Balik tanyanya khawatir.
Suara serak lemah itu sangat menyayat hati. Tidak tega sekali jika dia terbaring tidak berdaya.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, sayang. Kamu tidak usah mengkhawatirkan diriku, sebab yang perlu diwaspadai adalah kamu yang terluka. Aku begitu takut sekali atas kejadian kemarin, rasanya separuh ragaku terasa hilang saat melihat kamu terkapar akibat terluka," ungkapku merasa sedih.
"Maafkan aku jika membuat kamu khawatir. Lihat! Sekarang aku baik-baik saja, 'kan. Justru seharusnya aku cukup tak tenang jika kursi itu berhasil mengenai kamu, mungkin aku akan sedih melihat kamu yang lagi-lagi terkapar berbaring dirumah sakit ini," ucap sendu Dilla.
Ternyata dia lebih khawatir melebihi diriku, makanya rela berkorban kena hantaman semalam. Jadi trenyuh, dia ingin melindungi diri ini.
"Terima kasih atas perhatian kamu yang melindungku kemarin. Entah apa yang harus kuucapkan sekarang, yang jelas rasa sayangku ini tak akan terganti oleh apapun kepada dirimu," cakapku yang sudah mengecup mesra keningnya.
"Iya, Dio. Sama, aku juga menyayangi kamu."
"Tapi, lain kali jangan ulangi tingkah gegabah kemarin. Biarlah aku yang terluka. 'Kan anak sehat dan kuat."
"Ciih, emang kayak power ranjers. Kuat bisa tahan banting."
"Hehheh, enggak juga sih. Tapi demi melindungi kamu, harus kuat dari apapun itu, termasuk ancaman maupun pukulan yang berhaya sekalipun."
"Hmm, percayalah kalau begitu."
"Dih, kayak percaya tapi tidak serius."
Rasa cinta dihati yang kian berkembang penuh mesra, telah berhasil menyatukan dua hati yang dulu sempat tak saling mengenal dan akur. Ranjang rumah sakit yang besar karena kamar adalah VIP, telah memuatkan tubuh kami untuk tidur bersama saling berpelukan.
Entah mengapa, rasanya aku sekarang enggan sekali berjauhan dengan Dilla. Rasa nyaman atas perasaan masing-masing begitu
__ADS_1