
Acara pestapun telah usai, namun pada kenyataannya aku begitu dongkol saat tubuh mulai ngilu pegal-pegal akibat terlalu lama berdiri dipelaminan, untuk menyalami semua para undangan yang mengucapkan selamat pada kami saat akan pulang.
"Kamu kenapa, sayang? Kok wajah kamu nampak kusut begitu?" tanya Dio.
Menoleh kearahku. Mobil yang ditumpangi melesat cepat. Dio duduk disamping menikmati moment menjadi pengantin. Tidak usah bersusah payah menyetir.
"Aku capek banget nih! Rasanya semua persendian ingin terlepas dari badan," Mengeluh.
"Nanti deh aku pijitin? Gimana, mau ngak?" Dio sok baik.
Mataku hanya bisa mendelik lebar, tak percaya atas ucapan Dio barusan. Dia memang suka menolong, tapi tidak juga semua harus dia lakukan.
"Waduh aku kok lupa ya, kalau Dio ini sudah jadi suamiku. Apa aku saking bahagianya dapat pasangan, sehingga akupun lupa status baruku" guman hati yang resah.
"Hehehe, lain kali saja, masih ditahan kok sakitnya," Memungkiri.
"Beneran nih. Nanti ngeluh lagi."
"Beneran kok, ngak akan ngeluh. Mungkin cuma butuh istirahat saja."
"Oklah. Kalau butuh bantuan jangan sungkan-sungkan bilangnya nanti."
"Iya, siip pokoknya."
Tanpa terasa mobil pengantin yang kami tumpangi begitu cepatnya sampai di kediaman rumah utama orang tuaku. Hiasan rumah yang menempel di dinding masih rapi berjejer indah. Karena Aku tak tahan akan rasa capek yang begitu kuat, akhirnya langkah telah berjalan melebar manaiki anak tangga untuk menuju kamarku.
"Aku disini dulu saja, mau ngobrol sama papa sebentar," izin Dio saat aku sibuk masih melangkah naik tangga.
"Heeem," jawabku lemah.
__ADS_1
Rasanya tidak ada kekuatan lagi. Tenaga begitu terkuras setelah berdiri seharian. Walau kelihatan sepele, tapi menjalankan segala ritual pernikahan itu sangat melelahkan. Dio terus memberikan semangat dan perhatian lebih, hingga kadang rasa penat itu sedikit berkurang. Sempat tidak bisa diajak kompromi dengan ingin pingsan, namun jika tidak dilanjut sangat memalukan sebab banyak tamu.
Ceklek, pintu kubuka.
Netra begitu terkejut saat mendekati kamar, yang kini telah disulap menjadi indah dengan keasrian masih elegan dan mewah. Bunga kelopak mawar merah telah bertebaran disepanjang jalan menuju ranjang, yang dipinggirnya telah dikelilingi oleh nyala api lilin.
Perlahan-lahan kaki berusaha mendekati ranjang, dengan menginjak-injak kelopak bunga mawar yang masih segar bertaburan.
Kamar begitu indah dan telah bersemerebak bau wanginya bunga mawar. Berkali-kali hidung berusaha menghirup aromanya, yang kini membuatku candu untuk terus menikmati keharumannya
Kini langkahku terhenti dan berusaha duduk dikasur dekat selimut, yang tengah indah bertaburan mawar merah dan pink berbentuk love. Tak mau terlena akan keindahan kamar, langsung saja aku bangkit dari duduk untuk melepas satu persatu pakaian pengantin yang masih membungkus tubuhnku.
"Aaah, bagaimana aku menghadapi Dio yang akan sekamar denganku? Apakah malam ini dia akan meminta haknya? Aah ... jangan ... jangan, aku masih belum siap. Aduuuuh, gimana ini?" Kebingunganku dalam hati.
"Apa aku ngomong langsung saja kali, ya! Minta pengertian sama Dio? Tapiiiii, kalau Dio tak mau mengerti gimana, ya? Emm, apa aku harus menyuruhnya kasar untuk tidur diluar saja, ya? Jika dia tetap kekuh minta haknya, gimana nih."
"Lagian ini 'kan kamarku, dan pastinya adalah hakku yang boleh dikatakan semua keputusan tergantung padaku. Tapi kalau kayak gitu, yang ada nanti diriku bakalan ditebas dan kena semprot mama lagi. Aaaah, kenapa persoalan malam pertama begini amat ya? Ribet seribet baru putus sama pacar," guman hati yang merancau binggung, lalu memandang ranjang yang dipenuhi kelopak mawar berbentuk hati.
Berpikir keras agar bisa menghindari Dio, tapi jika tahu pasti akan berdosa sebab iriku sudah halal sepenuhya. Bahkan kulit sampai raga boleh tersentuh, namun kenyatan kalau dia jadi suami masih membuatku belum percaya sepenuhnya.
"Orang ini telaten amat nyusun ratusan kelopak mawar sampai berbentuk hati, seperti kegembiraan dalam hati ini yang terus mekar seperti bunga-bunga," Bathin hati yang heran.
"Bisa romantis juga nih bocil. Wajahnya yang culun ternyata hanya topeng belaka. Tidak menyangka jika dia sangat perhatian dan lebih detail tahu tentang diriku."
Saat sedang ingin mencoba membersihkan tumpukan kelopak mawar untuk berbaring, diri ini dikejutkan oleh ketukan tangan seseorang yang ingin masuk dalam kamarku.
Tok ... tok ... tok, berulang kali kamar terketuk.
__ADS_1
Deg ... deg, "Apakah itu Dio?" Kepanikan yang datang melandaku.
"Aaah, tidaaak! Jangan sekarang. Mati ... mati. Aku harus ngapain menghadapi dia?"
"Duh, gila. Apa yang harus kulakukan?" Terus dilanda keresahan.
Panik bercampur gugup telah menjadi satu, namun aku masih tetap melangkah ke arah pintu, sebab tak henti-hentinya pintu kamar diketuk tak sabar.
Ceklek, pintu telah terbuka yang ternyata ada mama dengan Dio berdiri dibelakangnya.
"Habis kejedot apa kepala kamu? Sampai-sampai kamu lupa sama suami sendiri. Kenapa tega amat membiarkan Dio diluar, akibat kamar kamu terkunci dari dalam.
"Maaf, Ma. Kelupaan," Mringislah wajah ini akibat malu.
"Kelupaan ... kelupaan! Padahal baru beberapa jam kalian tadi berdiri dipelaminan. Hadeh, masih muda jangan dipelihara tuh pikun. Dah sana pada istirahat, atau mau langsung saja juga mongg. Biar Mama nanti cepat-cepat langsung menimang cucu," ucap beliau yang membuatku malu bukan kepalang didepan Dio.
Spontan langsung saja kaki maju sedikit, untuk menarik lengan Dio supaya segera masuk dalam kamar, sebab takut sama kicauan Mama yang semakin ngomong ngelantur kemana-mana. Kalau sudah ngoceh beliau tidak akan ada habis-habisnya berbicara. Kalau ngatain orang paling jago. Yang ada semakin bikin malu saja, jika dibiarkan masih didepan kamar kami.
"Ya sudah, kita akan istirahat dulu, Ma. Jangan ganggu kami, huust ... husssst!" usirku.
"Kamu ... kamu, berani ya ngusir Mama!" keluh beliau.
"Hehehe, udah ya, Ma. Kami ingin bobok. Katanya pengen dapat cucu. Jadi biarkan kami membuatnya dengan langsung sepuluh, gimana?" Gantian ledekku.
"Hadeh, ngak juga sebanyak itu. Emang mau buat rumah ini jadi lapangan bola. Gimana mau mengasuhnya, kalau banyak begitu? Yang ada Mama akan semakin bungkuk saja, akibat pinggang terus mengendong." Beliau berpikiran terlalu jauh.
"Yah, kata tadi mau cucu. Sekarang pikir sendiri, ya! Kami mau istirahat. Bye."
Braaak, pintu kututup kuat akibat kesal atas ucapan Mama barusan. Langkah langsung nyelonong pergi meninggalkan Dio, yang kemungkinan masih terbengong, ketika ada rasa tidak percaya atas perkataan mertuanya barusan.
"Hei, Dilla. Mama belum selesai ngomong!" teriak beliau dari luar kamar.
Bersikap acuh saat menyibukkan diri membaca majalah. Teriakkan Mama kubiarkan. Malas dan semakin bikin emosi saja jika terus diladeni. Orang kayak gitu langsung ditinggal pergi saja, biar tidak melebar dan semakin memanjangkan cerita
__ADS_1