
Masih melanjutkan menikmati pemandangan malam. Tangan tak lepas memeluknya dari belakang. Rasanya tidak ingin berjauhan sedetikpun.
"Kamu ngak usah takutkan akan hal namanya cinta, sebab yang jelas aku selamanya akan menjadi milikmu seutuhnya," jawabku santai.
"Makasih, Dio."
"Iya, sayang."
Suasana semilir angin malam telah
menghanyutkan kemesraan kami dalam sama-sama saling mengenggam erat tangan, dengan netra terus saja memandang lurus kedepan untuk melihat keindahan kota malam dengan kerlap-kerlip lampu.
Setelah puas dengan hati tanpa beban lagi, kami akhirnya turun menggunakan anak tangga untuk segera pulang ke rumah, sebab pekatnya malam kian lama kian bertambah larut saja. Tangan kami terus saja tetap bergandengan, tanpa ada jeda waktu agar melepaskannya.
Setelah berlelah ria menuruni, akhirnya kami telah sampai dibawah lantai dasar gedung. Banyak jumlah yang kami turuni, hingga ada butiran peluh yang muncul. Tangan langsung sigap mengelap keringatnya dengan lengan baju.
"Kamu lelah? Atau mau aku gendong sampai kesana! Dekat sama mobil kita."
"Issh, enggaklah. Mobil masih jauh, entar kamu malahan yang capek. Ngak pa-pa lelah, yang penting kita bisa menikmati keindahan tadi."
"Kuat ya berarti. Jangan lupa harus kuat juga melayani suami kamu ini," bisikku mengodanya.
"Dih, mentang-mentang sudah nikah ada saja maunya."
"Hahaha, harus dong. Istri soleha itu harus patuh dan nurut sama permintaan suami."
"Iya, tapi ngak gitu juga kali."
__ADS_1
"Kan kepengen!" Manjanya sikap bagaikan anak kecil merengek sama Ibunya.
"Hadeh. Susah benar dah kalau punya suami bocil. Manja dan kalau tidak dituruti bakalan ngambek lah tuh."
"Hahaha, betul sekali."
"Dih, dasar otak-otak mes*m."
Bhuugh, tanpa sengaja tubuhku telah menabrak seseorang yang bermasker dan bertopi, akibat netra kami sama-sama saling fokus berpandangan tanpa memperhatikan jalan.
"Oh, maaf ... maaf!" ucapku.
"Iya, ngak pa-pa," jawab orang yang kutabrak.
"Maafkan saya, yang telah menabrak anda sebab tak memperhatikan jalan," ujarku meminta maaf lagi.
"Maaf, hallo Kak. Maaf ... hallo ... maaf!" panggilku yang berusaha membuyarkan tatapannya pada kami.
"Oh, iya. Ngak pa-pa, kok!" jawabnya santai.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Maafkan atas kecerobohan kami telah menabrak anda. Kalau begitu kami permisi dulu!" ucapku mencoba berpamitan.
"Oh, iya. Silahkan!" jawabnya setuju.
Kami berdua telah melangkahkan kaki ke depan, mencoba meninggalkan orang yang tadi kutabrak. Kepala kini telah menoleh ke arah belakang lagi, untuk memastikan bahwa orang yang kutabrak tak memperhatikan kami lagi. Sungguh diluar dugaan, tenyata pria yang kutabrak masih saja menatap aneh ke arah kami, walau kami sudah pergi menjauh darinya.
"Eeem, kenapa orang itu melihatku dan Dilla secara terus menerus? Seperti orang yang dia kenali? Apa jangan-jangan dia memang kenal kami, tapi kami lupa akan wajahnya. Siapa ya dia? Kok aneh betul tatapannya tadi? Sungguh-sungguh aneh betul, aaah ... biarlah, toh aku kelihatannya tak mengenal dia, buat apa kupikirkan," guman hati yang merancau merasa aneh dan curiga.
"Ada apa, Dio? Kenapa kamu selalu menoleh ke belakang? Sepertinya kamu memperhatikan pria yang kamu tabrak tadi, ya?" tanya Dilla yang tengah melihat tingkahku.
__ADS_1
"Ngak ada apa-apa kok, sayang. Cuma heran saja, kenapa orang itu dari tadi aneh melihat ke arah kita, yang secara seksama dan terus-menerus," jelasku.
"Mungkin dia terpesona sama kecantikanku 'kut, hingga matanya tak bisa berpaling melihat yang lain," jawab Dilla mengajak bercanda.
"Ciiieh, cantik bin nyebelin aja dibanggakan. Ingat 'noh sudah punya suami, jangan suka main lirik sana sini," ketus jawabku.
"Hehehhe, sekali-kali tertarik sama orang lain boleh 'kan? Pria tadi cukup lumayan ganteng juga lho kelihatannya!" Canda Dilla lagi.
"Buset dah, om-om mau diembat juga 'kah? Dasatlr kecentilan," Kekesalanku kini menarik hidung mancung Dilla.
"Aww ... aaa, sakit sayang."
"Hihihhi, maaf."
"Sakit tahu, aku tadi padahal cuma bercanda doang menggoda kamu. Wah, ini namanya kdrt ringan, akibat menarik dan mencederai hidung istri sendiri," keluh Dilla.
"Gila apa? Kdrt dari hongkong? Narik hidung begitu aja dibilang kdrt, benar-benar kejam pengakuan kamu," balik keluhku tak suka.
"Hehehe, ini buktinya sakit banget tahu. Lihat! ini pasti sudah memerah," tunjuk Dilla memberitahu.
"Iya ... iya, maaf ya."
"Heeh, siip deh! Lain kali enggak lagi kayak gini, ok" ujarnya.
"Siap, bos."
Percakapan demi percakapan telah berlalu, sampai pada akhirnya kami telah pulang ke rumah Dilla sendiri, yang katanya tak mau dirumah kediaman rumah orang tua sendiri, sebab ingin menikmati masa-masa romantis rumah tangga kami, tanpa ada halangan dari orang tuanya yang suka kepo.
__ADS_1