
Mata kini sudah tertuju melihat Dilla yang telah digiring Ibu dan keluarganya, untuk mendekatiku yang sudah duduk didepan pak penghulu. Dilla begitu cantiknya dengan gaun kebaya yang kami pilih kemarin, yang kini duduk dibelakangku diapit oleh Ibu dan Mamanya.
"Duh, tenang ... tenang. Kamu bisa. Membaca sedikit saja, kenapa harus takut. Kamu akan memiliki dia selamanya, maka semangat untuk mengucapkan ikrar janji suci kepada gadis yang kau cintai sebagai istri," Rancau hati tidak tenang
"Bisa kita mulai acaranya sekarang!" ucap Pak penghulu.
Hembusan angin tidak bisa terhirup dengan benar. Pipi terus mengelembung agar bisa meredakan kegrogian. Mata semua orang hanya tertuju pada diri ini. Tokoh utama akan baraksi mengucapkan janji kesetiaan rumah tangga.
"Silahkan, Pak!" jawab kompak Bapak dan Papa Dilla.
"Bismillahhirohmannirahim."
Setelah penghulu mengucap basmalah, tangan beliau diharuskan menjabat tanganku. Kini akupun dituntun beliau untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
"Saya nikahkan engkau ananda Dio Candra Buana bin Ahmad dengan Dilla Aprillana bin Purwanto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan mahar uang senilai empat ratus empat puluh ribu, dibayar tunai," ucap Pak penghulu dengan fasih.
"Sa-ssaya ter-rrr-ima, nikahnya Dilla Aprilliana bin Purwanto dengan seperangkat alat sholat dan mahar uang tunai senilai empat ratus empat puluh ribu, dibayar tunai," Kegagapanku menjawab.
"Apakah sah?" tanya Pak penghulu ke semua saksi dan semua orang.
"Tidak sah," jawab saksi.
Duh, dalam hati terus dilanda kekacauan. Angin topanpun mampu memporak poranda pikiran, hingga kata-kata yang semalaman terhafalkan semua, sekarang begitu kacau salah. Tetesan hujan keringat terus membasahi wajah. Wajah memerah kepanasan.
"Kita ulangi lagi, nak Dio. Tapi sebelum itu hembuskan nafasmu kuat-kuat, rilekskan tubuhmu biar kamu bisa melafadkan ijab qobul ini dengan benar. Uang tidak usah dikasih kata-kata tunai, cukup langsung sebutkan nominalnya saja," suruh Pak penghulu.
"Huuuuffff, iya Pak! Bismillah, saya pasti bisa," jawabku mengambil nafas dalam-dalam.
"Kita ulangi lagi," Suruh pak penghulu.
"Saya nikahkan engkau ananda Dio Candra buana bin Ahmad dengan Dilla Aprilliana bin Purwanto dengan seperangkat alat sholat dan mahar uang tunai senilai empat ratus empat puluh ribu, dibayar tunai," ucap ulang pak penghulu.
"Saya terima ni-nnnni-nikahnya Dilla Aprilliana bin Purwanto dengan seperangkat alat sholat dan mahar uang tunai senilai empat ratus empat puluh empat ribu, dibayar tunai," Kegagapanku kembali tak bisa berucap akibat gagal fokus.
__ADS_1
"Sah?" tanya Pak penghulu lagi.
"Tidak sah, sebab dia salah ucap nominalnya," keluh saksi.
Keadaan yang semula tenang dan tidak ada suara sama sekali, sekarang jadi riuh akibat keadaan sangat memprihatinkan ketika mulut yang tidak bisa benar berkata. Tangan Ibu terus mengelus bahu lengan tangan, mungkin beliau bermaksud agar aku lebih tenang lagi.
"Astagfirullah, yang kedua kalinya kamu telah gagal lagi."
"Maafkan saya, Pak!" Tertunduk malu.
"Fokuskan pikiranmu, Nak! Tenang dan pusatkan semua pada kata-kata yang sudah kau hafalkan," saut Bapak.
"Iya, Pak. Maaf."
"Ini adalah kesempatan terakhir kamu, jadi kamu harus benar-benar tenang. Kalau kamu gagal sekali lagi maka kamu harus berwudhu dulu, dan kalau gagal lagi maka ijab qobul ini akan tidak sah, yang boleh dikatakan akan ditunda sementara, jadi pintaku kamu harus rileks, fokus, tenang, oke Nak Dio!" ucap panjang lebar Pak penghulu.
Wajah tidak berani terangkat. Sungguh memalukan, saat kata pendek begitu saja tidak bisa benar.
"Permisi, Pak. Bolehkah aku berbicara sebentar sama calon saya," Suara pinta Dilla.
Kegrogian yang melanda, cukup tak bisa sejenak untuk melihat ke arah Dilla, dan kulirik dia mulai mendekatiku yang kini duduk berusaha mengambil nafas dalam-dalam.
"Kamu usahakan fokus, Dio. Jangan takut aku ada disini bersamamu," ucap Dilla sambil membelai pipiku supaya aku bisa tenang.
Sungguh diluar dugaan belaian tangannya terasa lembut sekali, hingga rasanya telah memberi penawar saat hatiku begitu groginya. Apakah ini tanda keampuhan, kalau dia adalah wanita pilihan yang asli.
"Benar tuh. Pengantin wanita tidak akan hilang, jadi jangan takut dan grogi!" simbat Mama Dilla.
"Iya, Ma."
Senyuman Dilla terlihat sebagai penolong. Dalam jiwa mulai ada kebangkitan rasa semangat untuk mengulang dengan benar.
"Begini, Dio. Masak susah sekali ngucapnya? Saya terima nikahnya Dilla Apriliana bin Purwanto dengan seperangkat alat sholat dan mahar uang tunai senilai empat ratus empat puluh ribu, dibayar tunai ," ejek Dilla.
__ADS_1
"Hahahahhaha," Gelak tawa semua orang saat Dilla mengucap contoh ijab qobul.
Akupun terasa mengecil dan semakin menciut malu, sebab Dilla begitu mudahnya mengucapkan itu, sedangkan diriku rasanya lidah tercekat kelu tak mudah- mudahnya mengucap itu.
"Kayaknya pengantin perempuan sudah tidak sabar ingin jadi istrinya saja," ledek salah satu kerabat.
"Hahahaha, bener tuh!" saut yang lain membenarkan.
"Benar, Dio. Ayo semangat sahkan Dilla sebagai istri dunia akheratmu," Salah satu teman berteriak menyemangati.
Netraku dan Dilla secara tak sengaja sama-sama saling mengkunci berpandangan, akibat malu atas ejekan orang-orang.
"Gimana Nak Dio. Apakah kamu sudah siap?" tanya pak penghulu.
"Insyaallah, saya kali ini siap, Pak?" ucap tegasku.
"Alhamdulillah kalau begitu. Kita bisa melanjutkan acara ini. Jangan sampai salah lagi," ucap pak penghulu.
"Kamu pelan-pelan saja, Dio. Jangan pikirkan hal-hal yang aneh-aneh dulu, karena ini sangat penting sekali seumur hidup," ucap Bapak dari belakang berusaha menyemangati.
"Iya, Pak! Bismillah aku bisa," jawabku mantap.
Dengan hati sudah sedikit tenang, Pak penghulu memulai lagi untuk membacakan ucapan ijab qobul. Tangan mulai berjawabt lagi dengan beliu. Suara penghulu mengema pakai petir, namun harus bisa melawan rasa takut dengan berani. Sementara itu pikiranku tetap fokus, dengan bibir mulai berucap dengan lancarnya.
"Apa sah?" tanya pak penghulu.
"Sah .... sah," jawab wali dan semua orang menyambut gembira.
"Alhamdulillah, akhirnya lolos juga!" jawab semua orang mengucap syukur.
Dengan kegembiraan, semua orang kini telah bersumringah tersenyum puas, karena kami akhirnya telah sah menjadi suami istri.
Setelah acara ijab qobul, kami mendengarkan khotbah nikah. dan menandatangani surat nikah. Setelah itu kami berduapun telah bersungkem pada kedua orang tua masing-masing, dengan Dilla yang sudah tak terbendung lagi oleh airmata, dan sedangkan aku hanya berkaca-kaca memerahkan bola mata saja.
__ADS_1
Setelah kelancaran acara ijab qobul, rencana orang tua Dilla selanjutnya adalah mengadakan acara pesta penyambutan status kami yang baru, dengan mengundang beberapa kerabat teman, serta para pebisnis perusahaan. Semua diundang. Semua harus ikut merasakan kebahagiaan dan kegembiraan kami. Kami harus berias perfeck dan elegan, agar tidak bikin malu diacara mewah nanti.